"Mam? Sudahlah, semua sudah terjadi. Kita hanya perlu mencari gadis malang itu lalu menikahkan mereka." Drex melotot mendengar kalimat enteng dari mulut sang ayah.
"Papa benar, tak ada gunanya mama membuang energi untuk anak tak tau diri ini." Nadya menghempas nafas kasar lalu duduk si sofa. Hendrik dengan sigap mengambilkan air minum untuk sang istri. Wanita itu terlihat kelelahan setelah menganiaya sang anak.
"Papa jangan aneh-aneh deh. Gadis itu bukan seleraku." Sarkas Drex protes.
"Bukan selera tapi sampai kau buat bunting." Sahut sang ayah tak mau kalah. Nadya menggeplak lengan sang suami yang asal bicara.
"Kucing tu bunting orang tu hamil." Omel Nadya kesal.
"Lihat anak kesayanganmu mam, dia tak mau bertanggung jawab setelah merusak anak gadis orang. Benar-benar kelewatan. Aku harap cucuku kelak lebih mirip ibunya daripada kau. Agar kau semakin terkurung rasa bersalah seumur hidupmu." Kesal Hendrik pada sang anak.
Drex melengos. Bukannya dia tak tertarik pada gadis itu, namun dia tak yakin gadis itu mau memaafkannya. Boro-boro mau menerimanya sebagai seorang suami. Sungguh Drex tak yakin akan hal itu.
Drex sedikit menerawang, mengingat wajah penuh air mata juga lebam akibat ulahnya. Membuat pria itu merasakan perih di hatinya. Drex sedikit sensitif belakangan ini. Bahkan pria itu akan langsung berkaca-kaca jika seseorang tak sengaja berkata dengan nada tinggi terhadapnya.
"Tak perlu bertanya padanya. Jika sudah menemukan gadis malang itu, maka pernikahan akan tetap berjalan. Aku tak ingin cucuku menjadi cucu yang malang. Sudah cukup memiliki ayah seekor buaya rawa seperti putramu ini. Sungguh kasihan sekali nasib calon cucuku." Ucap Nadya mendramatisir dengan mimik wajah sedih.
"Bukankah kalian ingin pergi makan siang? Pergilah, jika aku sudah membaik aku akan mencarinya sendiri. Kalian tak perlu pusing memikirkan hal ini." Usir Drex dengan kalimat halus.
"Lalu kau akan memintanya menggugurkan calon cucuku, begitu?" Tuduh Nadya dengan nada tinggi.
Hendrik lekas menengahi agar tak terjadi drama di dalam sana. Terlihat ekspresi Drex seperti akan menangis. Sungguh Hendrik resah melihatnya. Alamat semua hal yang anaknya minta harus mereka turuti jika sudah begitu.
"Sudah, sudah. Biarkan Drex beristirahat dahulu, jika sudah membaik kita akan mencari gadis itu bersama. Benar begitu 'kan Drex?" Hendrik memberikan pelototan maut agar Drex tak memancing emosi sang ibu.
Drex hanya bisa mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi, jika sang ratu lebah mulai mengeluarkan tajinya.
"Bagus. Kalau begitu kita pulang saja pap, mama laper pake banget. Putramu membuat energi mama habis karena memarahinya." Drex melipat bibirnya kesal, sedangkan Hendrik terus memberikan tatapan tajam agar mulut Drex tetap tertutup rapat.
Sepeninggalan kedua orang tuanya, Drex kembali merenung. Pria itu teringat suara jeritan tangis juga permohonan pilu agar di lepaskan. Namun kala itu dia tak menggubrisnya sama sekali. Dengan brutal mengagahi gadis malang itu bahkan menyakiti fisiknya tanpa perasaan.
Drex ingat saat dia mencekik leher gadis itu kala akan mencapai puncak. Menamparnya entah berapa kali, membentur punggung kecil gadis itu ke ujung ranjang kayu tanpa peduli akan melukai tubuh ringkih tersebut.
Drex juga menggigit bibir mungil yang terus terisak, memohon untuk menghentikan aksinya hingga terluka. Ingatan-ingatan itulah yang memicu Drex bolak balik masuk rumah sakit.
Karena setiap mengingat perlakuan bejatnya, Drex akan secara otomatis mengalami pusing, mual dan muntah tak tertahankan.
"Aku akan menemukanmu, Pelangi." Gumam Drex lirih.
Satu nama yang terus membayangi setiap malamnya. Ada senyum terbit di bibir Drex, kala mengingat wajah polos nan cantik jelita itu di sebuah pigura yang dia ambil dari rumah Pelangi. Gadis berseragam SMA yang terlihat sangat cantik dan manis di matanya. Rasa itu tumbuh tanpa bisa Drex cegah. Sangat dalam hingga membuatnya tak sabar untuk menemukan Pelangi. Gadis yang telah di renggut masa depannya.
"Kau sudah membuatku gila, Pe. Aku harus kemana lagi mencarimu. Aku merindukanmu, astaga! Aku pasti sudah gila. Kita bahkan baru pertama kali bertemu saat itu terjadi. Tapi bayangan wajahmu selalu mendominasi setiap hariku. Pelet apa yang kau gunakan, Pe? Apa pelet darah perawan? Sepertinya begitu. Aku belum pernah bercinta dengan perawan seumur hidupku sebelum bertemu denganmu. Lihatlah, rudal rusia milikku tak lagi bekerja dengan baik setelah hari itu. Kau benar-benar meresahkan, Pe." Sungut Drex berdumel kesal.
Kesal karena pencariannya seperti tak mengalami kemajuan. Orang suruhannya sama sekali tak bisa melacak keberadaan Pelangi sampai sekarang. Itu benar-benar membuatnya resah merana.
?
?
Di sebuah rumah kost, terdengar sayup suara merdu saling bersahutan. Dua insan saling berlomba untuk mendaki puncaknya masing-masing, tanpa peduli pada tetangga ngenes di sebelahnya.
"Sial banget sih, hari-hari cuma nguping suara orang bercocok tanam. Bikin rusak pendengaran aja." Omelnya melirik jengkel dinding triplek di sampingnya.
Suara gedoran membuat kedua sejoli yang tengah beradu perkakas di kamar sebelah terjengkang kaget.
"Volumenya tolong dikecilin mbak, mas! Masih siang ini, tolong hargai tetangga gabut ini, bisa?" Serunya lantang dari kamar sebelah.
Kamar sang rekan berada paling ujung, sementara kamarnya berada tepat di sebelahnya. Kost tersebut memiliki pintu yang langsung menghadap keluar teras masing-masing. Bukan kost yang berada dalam satu rumah induk.
"Ganggu aja siputt!" Teriak si wanita tak kalah nyaring. Suaranya terdengar seperti menahan de sa han.
"Kuy lanjutlah! Jangan lupa siapin tisu basah yang banyak. Air PDAM lagi macet soalnya!" Balas Puput dari kamar sebelah. Wanita itu lanjut memasang headset di telinganya agar tak lagi mendengar suara laknat sang teman.
?
?
Jeff terlihat terburu-buru pergi, membuat Teresa berniat untuk mengikuti kemana perginya sang suami.
Setelah mengikuti mobil suaminya, kini mobil Jeff berhenti di kawasan padat penduduk. Jeff masuk ke sebuah gang sempit membawa beberapa kantong plastik lumayan besar.
Teresa mengernyit heran. Drex memasuki kawasan yang tak selevel dengan status sosialnya. Siapa yang pria itu kunjungi.
Langkah Jeff berhenti di sebuah pintu kost berwarna jingga. Dengan senyum lebar Jeff mengetuk pintu hingga beberapa kali.
Klek
"Mas ganteng. Mau ngewein siput ya? Kayanya lagi bobo syantik. Wanita hamil kan suka molor tak tau waktu." Ujar si wanita keluar dari kamarnya hanya dengan menggunakan handuk.
Jeff memalingkan pandangan ke arah pintu sang wanita pujaan.
Sedangkan Teresa semakin penasaran, siapa gerangan yang di kunjungi oleh suaminya.
"Put? Puput? Ini mas mu datang, bawa seperangkat sembako dan perintilan ne. Buka pintu gih, aku tak sabar ingin bantuin unboxing. Kali aja ada yang tidak kau sukai, aku siap menerimanya dengan suka rela tanpa paksaan." Seru Rere tersenyum penuh arti menatap kantong belanjaan Jeff.
Pria itu semakin dongkol mendengar kalimat Rere tersebut.
Klek
"Apaan sih! Gangguin orang tidur aja!" Gerutu Puput dengan penampilan yang cukup mencengangkan. Rambut wanita itu terlihat seperti baru saja di sapu angin topan. Wajahnya terlihat kusam dengan alis miring sebelah.
Jeff meringis melihat penampilan Puput yang sedikit berbeda dari biasanya. Daster yang terlihat sobek di bagian ketiak, cukup lebar hingga terlihat bagian dalamnya. Mungkin kepala Jeff bisa masuk ke celah sobekan itu.
"Hai Put, aku membawakanmu s**u hamil sama yang lainnya. Aku masuk ya..." Tanpa menunggu di persilahkan, Jeff menerobos masuk.
"Dia kenapa tiba-tiba ada di sini?" Tanya Puput terlihat seperti orang bodoh.
"Mbuh! Wong lakimu kok. Dah masuk sana, siapa tau masmu mau tengok anak kalian. Kasih servis full power, jepit yang kenceng biar makin di sayang." Ujar Rere ngaur. Puput mendegus kesal lalu masuk ke dalam kostnya.
Sedangkan Teresa menahan sesak saat mendengar semua yang terucap antara dua wanita tadi.
Teresa memilih pergi sebelum hatinya semakin terluka. Ternyata suaminya tak main-main. Pria itu memang tak pernah mencintainya sejak awal. Dialah yang salah, karena membohongi seluruh keluarga dengan kehamilan palsunya.
Kini ada wanita lain yang tengah mengangguk benih sang suami. Teresa Bingung harus berbuat apa. Hatinya masih belum rela..
Di dalam kost, Puput membongkar barang belanjaan yang di bawa oleh Jeff.
"Seharusnya tidak perlu seperti ini, aku masih mampu untuk membeli keperluan yang aku butuhkan. Pulanglah, aku tak mau menyakiti hati wanita lain dengan merebut suaminya." Ucap Puput tanpa menoleh.
Jeff bergeser duduk lebih dekat dengan Puput yang masih sibuk menyusun belanjaan di rak kecil. Keduanya duduk di lantai tanpa kursi.
"Aku sudah bilang, pernikahanku karena aku di jebak oleh istriku. Dia mengaku hamil anakku dan meminta kami dinikahkan segera. Aku tak pernah mencintainya hingga kini. Aku mencintaimu Put. Sejak kejadian malam itu, aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku sudah berusaha untuk menghindarimu dengan cara menghilang tanpa kabar. Malah aku yang tersiksa sendiri. Tolong jangan tolak kehadiranku, aku ingin kita membesarkan anak kita bersama." Mohon Jeff memeluk Puput dari belakang.
"Aku ini wanita ja la ng, bisa saja aku mengandung benih pria lain. Kenapa kau sangat percaya diri sekali tuan Jeff." Kesal Puput dongkol. Sudah berkali-kali dia meyakini Jeff jika dia telah melakukan hubungan dengan banyak pria, setelah Jeff membeli keperawanannya malam itu.
Namun pria itu tetap kukuh ingin bertanggung jawab.
"Ini anakku, Put. Anak kita, aku sangat yakin. Lagi pula kau tak pernah melayani siapapun lagi setelah malam itu. Aku sudah menanyakannya pada manager club malam itu. Lagi pula aku bisa merasakan kontak batin dengannya. Aku terus memikirkanmu apalagi semenjak aku mengetahui kau mengandung. Aku tak sabar ingin segera menjadi seorang ayah dari anak yang di kandung oleh wanita yang aku cintai." Tandas Jeff kukuh pada pendiriannya
Tbc
Mohon berikan dukungan untuk novel pemula ini????