Bab 6

1332 Kata
Seperti kesepakatan, setelah Drex merasa lebih baik. Pria itu akan mencari keberadaan wanita malang yang telah dia nodai itu. "Anda yakin akan mencari nona Pelangi tuan?" tanya Arman memastikan. Pasalnya mereka akan mencari seseorang yang bahkan mereka sendiri tak mengetahui keberadaannya. Drex menghentikan aktivitasnya, memutar kepalanya 35 derajat ke arah sang asisten dengan tatapan horor. Arman menyipit melihat tatapan tajam tersebut. Eh, aku salah ngomong apa gimana? Arman membantin. "Apa kau sadar telah menyebut nama wanitaku dengan seenak jidatmu?" Arman meneguk ludah susah payah. Lalu aku harus mengatakan apa? nona muda, begitu? gerutu Arman dalam hati. "Maaf tuan, saya tidak Akan mengulanginya lagi. Jadi? mulai dari mana kita akan mencari keberadaan nona?" ralat Arman berusaha menyusun kalimat yang tak memancing emosi sang tuan. "Bandung. Kebetulan kita ada proyek pembangunan apartemen di sana. Kau menangani proyek, aku akan fokus mencari Pelangi." Tukas Drex tanpa beban. Sedangkan Arman langsung merasa moodnya anjlok hingga ke dasar jurang. Apa-apaan dia, mentang-mentang bos. Seenaknya sendiri mengatur. Dia pikir aku ini robot apa gimana?" dengus Arman dalam hati. Namun wajahnya tetap menampilkan senyum terbaiknya. Tak lupa anggukan kepala tanda tak keberatan sama sekali. Padahal hati Arman dongkol setengah mati. "Sudah beres. Bawa koperku ke mobil, dan ya, jangan sentuh box makananku di bagasi. Atau kedua tanganmu aku potong hingga tak bersisa." Ancam Drex dengan tatapan penuh peringatan. Arman lagi-lagi hanya mengangguk patuh. Lagi pula siapa yang sanggup pagi-pagi menjejali perut dengan buras juga sate, saat dirinya sudah kenyang dengan nasi kuning mak Ijum yang tiada duanya. Warung nasi kuning andalannya kala isi dompetnya mulai menjerit minta di irit. Drex mengambil ponsel lalu memakai jam tangan favoritnya. Setelah di rasa penampilannya sempurna, pria itu keluar menyusul sang asisten yang sudah lebih dulu turun ke lantai bawah. Nadya yang sedang memotong buah di meja makan menoleh ke arah asanga anak dengan tatapan menyelidik. "Jadi berangkat hari ini, nak?" tanya Nadya sedikit kepo. Dia takut bila sang anak kabur keluar negeri. Jadi wanita itu berinisiatif menyembunyikan paspor Drex juga dokumen lainnya. Drex tentu saja mengetahui ulah siapa, namun pria itu tak berniat mencarinya. Toh memang dia tak berniat untuk kabur seperti praduga sang ibu yang suka berpikiran buruk terhadapnya. "Ya ma, doakan Drex menemukan gadis itu. Dan membawanya ke hadapan mama tanpa kurang satu apapun." Ujar Drex tersenyum hangat pada sang ibu. "Dan pastikan kau tak memintanya untuk membuang bayi kalian. Jika kau berani melakukannya, mama sendiri yang akan mengamputasi rudal rusiamu hingga ke pangkal." Ancam Nadya sembari mempraktekkannya dengan pisau buah yang ada di tangannya. Spontan Drex menutup aset berharganya dengan tatapan horor. "Ck, sama anak sendiri kejam bener. Aku berangkat dulu ma, katakan pada papa, untuk tak mengirim mata-mata untuk membuntutiku. Seperti anak kecil saja!" dengus Drex tak suka. "Itu untuk memastikan jika kau tak melakukan hal konyol, yang membuat mama dan papa terancam gagal menimang cucu. Sudah pergi sana. Dan ingat, jangan meminta sumbangan belas kasihan pada oma. Pakai saja uang yang ada sesuai kebutuhanmu selama kau mencari calon menantu mama. Hemat-hematlah, jangan lagi menyewa ja la ng. Atau kau akan terkena HIV jika terus bermain dengan wanita nakal." Ingat sang ibu yang sudah mengetahui sepak terjang putranya selama ini. Namun kejadian kali ini sungguh di luar perkiraan mereka. Lagi-lagi Drex mendengus kesal. Ibunya selalu frontal dalam berkata-kata. "Jika uangku habis sebelum aku menemukannya bagaimana? masa iya seorang CEO kere. Arman saja pasti memiliki uang sangu yang lebih besar dari nominal yang aku miliki." Protes Drex. Pasalnya Nadya menyita semua kartu sakti miliknya tanpa sisa. Dan sekarang, wanita itu hanya memberinya sangu seperti menyangui anak sekolah, yang hendak pergi kemping ke luar kota. "Cukup, itu cukup! kau hanya perlu mengingat, jika kau ke sana bukan untuk bermain-main di club malam atau mabuk-mabukan di bar sialan. Kau sedang dalam misi, dan kau harus sadar diri jika sekarang semua keuanganmu sudah mama kendalikan. Sudah pergi sana!" Usir Nadya mendorong tubuh tegap Drex menuju pintu keluar. "Ck!" decak Drex kian dongkol. "Aku bahkan tak pernah menyentuh wanita malam sejak kejadian waktu itu. Rudal rusia ku selalu mati rasa saat mendapatkan sentuhan wanita lain. Aku benar-benar yakin jika gadis itu telah menguna-gunaiku dengan darah perawan miliknya waktu itu." Gerutu Drex menuju mobil. Nampak Arman tengah bersenandung kecil mengikuti irama lagu dangdut yang sedang dia putar. Drex masuk dan duduk di jok belakang. "Matikan lagu sialan itu, Arman bencana! lagumu membuat perutku mual." Ucap Drex lantang. Arman melirik kaca spion dengan tatapan tak terbaca. Lagu itu adalah lagu favoritnya. Seenaknya saja sang atasan meminta untuk di matikan. Namun mulutnya tetap berkata seindah indahnya, guna membuat mood sang atasan dalam keadaan stabil. "Baik tuan, apa anda ingin mendengarkan lagu lain, mungkin?" tawar Arman menahan dongkol. Senyum yang terlihat penuh keterpaksaan itu menjelaskan jika mood Arman sedang dalam fase tidak baik. "Tidak perlu memutar lagu apapun. Dan kau diamlah, suaramu jelek. Berhenti bergumam, itu mengganggu. Berisik! aku ingin tidur, bangunkan aku jika waktunya aku makan." Arman memejamkan sejenak ke-dua matanya. Drex menjadi menyebalkan sekarang. Entah apa yang membuat sang atasan bersikap menyebalkan beberapa bulan belakangan ini. Itu sering membuatnya kewalahan. Dia lebih suka Drex yang dingin dan tak banyak bicara. Dengan begitu tak ada suara-suara cerewet yang dia dengar setiap jamnya. Drex menjadi seperti seorang wanita, terlalu banyak protes dan meminta hal-hal yang tak wajar. Seperti saat ini, Drex membawa serta sebuah pot bunga berukuran kecil yang berisi tanaman kaktus mini didalamnya. Sungguh merepotkan. Arman jadi tidak bisa berkonsentrasi untuk menyetir, karena takut tanaman tersebut jatuh dan rusak. Kenapa tidak dia peluk sih pot sialan ini? Apa dia tidak tau posisi ini rentan bergeser dan jatuh? sungut Arman dalam hati. Sesekali ekor matanya melirik ke arah spion untuk melihat sang atasan yang duduk tenang di jok belakang. Cih! enak sekali dia bisa tidur nyenyak tanpa peduli padaku. Lagi-lagi Arman berdumel dalam hati. Pria itu melirik pot bunga berukuran mini tersebut kemudian tersenyum penuh arti. Dia jadi ikut mengantuk akibat mengemudi dengan kecepatan di bawah rata-rata. Semua demi keamanan si pot sialan tersebut. Di kota lain seorang gadis tengah menyirami tanaman bunga kesayangannya sembari bersenandung kecil. "Non Pelangi! kemarilah nak..." seru seorang wanita pada Pelangi yang asyik dengan tanaman bunga di halaman samping rumah oma Saudah. Gadis itu berjalan perlahan meninggalkan aktivitasnya. "Ada apa bik Sari? wah! rujak buah.." pekik Pelangi girang. Wanita itu langsung duduk di karpet yang sengaja bi Sari bentang sebagai alas duduk. "Oma mana bik? belum pulang dari pasar?" tanya Pelangi sambil mencomot satu irisan mangga muda, lalu dicocol ke dalam wadah sambal gula merah. "Nyonya masih mampir di rumah salah satu kerabat sebelum kembali pulang. Tadi suami bibik sudah menghubungi supaya jagain non Pelangi di rumah. Itu perintah nyonya sepuh, katanya." Ijar bi Sari ikut mencicipi mangga, namun bagian yang sudah matang. Dia tak mampu menyamai selera Pelangi terhadap buah kecut tersebut. Pelangi hanya mengangguk-angguk paham. Setelah seminggu yang lalu menghadapi acara tunangan salah satu cucu saudara Oma Saudah, Pelangi jadi sedikit mengetahui silsilah keluarga sang oma. "Narti mana bik, tidak ikut ngerujak juga?" bi Sari menggeleng sembari menahan ekspresi wajah masam. Wanita itu tergigit potongan mangga muda yang dia sangka mentimun. Karena saking asyik menyimak Pelangi yang terus mengunyah, tanpa terlihat jika gadis itu tengah melahap buah kecut sama sekali. Bi Sari sampai tak fokus. "Narti mana doyan makan yang beginian. Kalau ngemil juaranya dia. Lihat saja bodynya semakin hari semakin montok begitu." Dumela bi Sari bercerita tentang putrinya Narti. Gadis yang baru kelas satu sekolah menengah atas itu memiliki bobot di atas rata-rata untuk anak gadis seusianya. Karena hobinya dalam mengkonsumsi makanan manis dan ngemil tak terkontrol. "Tidak apa bi, asal Narti sehat. Itukan yang penting? nanti kalau sudah saatnya pasti dia akan risih sendiri dengan berat badannya. Jangan terlalu dipaksakan kalau sekarang masih belum bisa mengatur pola diet. Nanti malah stress kebawa pikiran. Di kira bibik tidak ikhlas memberinya makan." Ujar Pelangi bijak. Bi Sari mengangguk paham seraya tersenyum hangat. Kehadiran Pelangi memberikan banyak keceriaan juga warna baru dalam kehidupan sang majikan yang kesepian. Untuk itu mereka sangat menyayangi Pelangi sebagai bagian dari keluarga sang nyonya sepuh. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN