Nelly berdiri membelakangi Zack, kedua bahunya naik turun menahan emosi. Tatapannya kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup Juan, pintu yang seolah menjadi garis pemisah antara dirinya dan masa lalunya. “Kalau dia benar-benar pergi dari hidupku…” bisiknya lirih, namun ada bara di balik nada itu, “…kenapa dia harus pergi demi perempuan itu?” Zack mengamati ibunya diam-diam. Wajah Nelly bukan sekadar murka di sana ada dendam, cemburu, dan ego yang terluka keras. “Bu,” Zack bersuara pelan namun tegas. Ia mendekat, berdiri di sisi ibunya. “Kalau ibu mau… kita bisa membalasnya.” Nelly menoleh perlahan. Arah tatapannya suram. “Membalas?” bibirnya melengkung pahit. “Balas apa, Zack? Juan sudah mengambil semuanya. Kesetiaanku. Hidupku. Anakku pun hampir saja berpihak padanya…” “Ibu ti

