"Kamu mau jujur apa, Mas?" Aku menatapnya. Mas Ari tak segera bicara, tetapi aku tahu dia menyimpan banyak cerita. Ungkapan yang masih tertahan pada rongga mulutnya, mungkin tengah tersangkut beribu pertimbangan. "Mas Ari mau jujur apa?" Aku kembali melayangkan tanya. Jika dia meminta pisah, aku sudah siap. Ini bukan sebuah musibah lagi bagiku. Aku sudah berusaha menyelamatkan biduk rumah tangga ini, tetapi apa boleh buat jika dia saja ingin lepas. Aku tak mau berjuang sendiri. Aku juga tak mau memaksa siapapun hidup berdampingan denganku. Sudah cukup bagiku derita selama hidup sebagai pelajaran untuk tetap berdiri. "Aku tetap akan menafkahimu. Sampai bayi itu lahir dan dewasa. Tapi, aku tetap akan menikahi Rina." Dia berkata seperti itu tanpa melihatku. Aku tak bisa berkata apapun

