Keberadaan Dara di sini membuatnya tidak nyaman, wajah Arumi tergambar jelas pada bocah lima tahun itu. Hidungnya, matanya, senyumnya, semuanya tercetak sama dengan sang ibu. Hingga membuatnya semakin terkurung dan tidak bisa keluar dari masa lalu.
Adam melihatnya dari kaca di lantai atas dimana dulu Arumi selalu duduk di sana melihat orang-orang lalu lalang, melihat anak-anak berkejaran dan juga melihat matahari terbit. Senyuman Arumi ada di sana, di bibir gadis mungil itu.
Ini adalah kali pertama dia memperhatikan putri kecilnya. Rasanya baru kemarin dia mengadzani bayi merah itu, sekarang dia sudah menjelma menjadi gadis kecil yang cantik.
Hatinya tiba-tiba sesak, bayangan Arumi begitu mengganggunya air matanya tak bisa di bendung. Dia tergugu begitu rapuh hatinya melepaskan orang yang sangat dicintai.
Ponselnya berdering, tertera nama ibu di layar ponselnya. Diusapnya layar 6,5 inci tersebut, seketika suara yang begitu akrab di telinganya semenjak dia lahir itu memanggil namanya.
"Adam!" Suara di seberang sana selalu membuat Adam menjauhkan ponselnya.
"Iya, Bu," jawab Adam malas.
"Kamu harus sering-sering ajak Dara bicara, kamu ajak jalan-jalan juga biar dia senang," ujar Lasmi.
"Iya, Bu," jawab Adam datar.
"Kamu jangan iya--iya saja, sekarang saatnya kamu membayar hutang kasih sayang padanya," ujar sang ibu.
Adam mengernyit, tidak mengerti maksud ibunya yang jelas selama ini dia merasa kalau sudah bertanggung jawab penuh atas kebutuhan Dara.
"Adam!" teriak ibunya lagi karena tidak ada jawaban lagi dari putranya.
"Iya, Bu," jawab Adam acuh, dia menghela napas yang terasa sesak.
Setelah itu seperti biasa Lasmi memberinya ceramah panjang lebar dan Adam hanya bisa pasrah mendengarkan nasehat ibunya tanpa menyahutinya.
Adam baru turun saat makan malam tiba, di lihatnya April sedang menyuapi Dara. Dia langsung duduk untuk makan malam tanpa menyapa gadis kecil itu.
Dara mengoceh tanpa henti persis sekali dengan ibunya, mendengar ocehan Dara membuat hatinya sakit. Susah payah dia berusaha melupakan Arumi sekarang dia merasa kalau Dara malah mengingatkannya pada orang yang selalu dia rindukan.
Akhirnya Adam tidak jadi makan, terlalu sakit berdekatan dengan gadis berponi itu. Ditinggalkannya meja makan itu tanpa menyentuh sedikitpun makanan.
Dia berjalan keluar sambil menyambar kunci mobil di atas nakas, Adam meninggalkan rumah karena saat ini dia belum siap untuk bersama putrinya.
"Adam, apa kamu tidak kasihan pada Dara, dia butuh kasih sayangmu, bukankah kalian dulu sangat mengharapakannya?" ucap sang ibu kala itu dan selalu diulanginya.
Adam hanya bergeming tidak mau menjawab ucapan ibunya. Menurutnya, Dara telah mengambil Arumi dari sisinya. Kalau boleh memilih, lebih baik tidak punya anak dari pada harus kehilangan istrinya.
"Astaghfirullah," lirihnya, dia sebenarnya tahu kalau kematian seseorang itu sudah dicatat dan pasti saat itu akan tiba hanya menunggu waktu saja. Namun, Adam belum bisa mengikhlaskan Arumi.
Adam menepikan mobilnya di sebuah taman, di sanalah pertama kali dia bertemu Arumi.
"Maaf," ucap Arumi saat mereka hampir bertabrakan. Arumi sedang menunggu temannya di taman itu dan Adam sedang istirahat sejenak karena telah melakukan perjalanan jauh.
Dari situlah mereka akhirnya berkenalan dan saling bertukar nomor ponsel.
Adam menyulut rokok dan mengapitnya dengan kedua jarinya. Asap beracun itu keluar dari mulutnya.
Dulu, dia tidak pernah menyentuh racun itu namun, sejak Arumi meninggalkannya hanya barang itu satu-satunya yang menemani kesendiriannya.
Di sesapnya dalam-dalam nikotin yang telah membuatnya kecanduan itu hingga membuatnya merasa nyaman.
Dia tahu kalau merokok itu tidak baik untuk kesehatannya namun, saat ini dia tidak peduli dengan kesehatannya. Yang dia butuhkan adalah ketenangan, meskipun yang dia lakukan itu salah.
Hingga larut malam Adam masih duduk di taman itu, hampir satu bungkus rokok menemaninya, sesekali dia terbatuk karena zat beracun itu.
Setelah dia puas meluapkan kesedihannya, Adam kembali ke rumah. Sebenarnya bukan ketenangan yang dia dapatkan, dia semakin resah dengan hidupnya yang semakin tidak terarah.
Adam membuka pintu pelan agar tidak ada yang mendengar kepulangannya, sebelum ada Dara di sini dia tidak pernah keluar malam tapi keberadaan Dara membuatnya tidak nyaman berada di rumah.
Adam berjalan pelan dalam temaram cahaya dari luar, saat mendekati tangga, Adam menabrak April yang akan keluar dari kamarnya.
April kaget saat tangan kekar Adam mencekalnya karena dia akan terjatuh, tubuh mereka berdua sudah tak berjarak. Dalam beberapa detik Adam memindai wajah imut itu dalam remang cahaya, tiba-tiba ada gelenyar aneh di dadanya.
Lima tahun dia tidak pernah diposisi sedekat itu dengan perempuan, meskipun hatinya menolak namun jiwa lelakinya merasakan butuh kehangatan.
Sejenak dia lupa akan kesetiaannya, pesona April begitu membuatnya tak bisa memberi jarak.
Aroma tubuh gadis manis itu begitu menghipnotisnya dalam beberapa menit hingga akhirnya dia tersadar.
Adam segera memberi jarak pada April, dalam keadaan sedekat itu mereka merasakan debaran yang membuatnya … entahlah.
Dengan langkah seribu, April langsung berbalik masuk ke kamar lagi, dia melupakan kalau tadi ingin mengambil air minum. Dadanya tiba-tiba berdebar, tatapan mata Adam membuat simpul di bibirnya.
Segera di rebahkan tubuhnya untuk mengurangi rasa yang dia sendiri tidak tahu, segera di pejamkan matanya agar bayangan pria berwajah maskulin itu hilang dari ingatannya.
Masih merasakan perasaan yang aneh, Adam menaiki tangga menuju tempat ternyaman baginya. Berkali-kali dia mengumpat merutuki kebodohannya telah melakukan hal konyol itu.
Adam Segera merebahkan tubuhnya, duduk dalam waktu lama membuat punggungnya sakit. Dulu saat Arumi masih ada, dia selalu memijatnya dan pijatan lembut istrinya masih terasa di punggungnya.
Baru beberapa menit memejamkan mata, suara tangis di ruang bawah terdengar nyaring. Adam yang baru saja terlelap langsung bangun mendengar tangisan itu, kepalanya terasa sakit.
Dengan kesal Adam keluar kamar dan berjalan menuju lantai bawah.
April berusaha menenangkan Dara yang sedang menangis, di gendongnya bocah kecil itu. Adam hanya diam melihatnya dari tangga.
Melihat itu membuat hati Adam seperti bertarung, dia ingin memberi jarak pada putrinya tapi naluri sebagai orang tua membuatnya bingung mengambil sikap.
"Aku benci dia," gumamnya. Begitulah akhirnya, ego mengalahkan nalurinya.
Adam kembali lagi ke kamarnya, mengabaikan nuraninya. Dia begitu tersiksa dengan keadaan itu, sekuat tenaga diturunkan egonya namun, perasaan tidak ikhlas selalu membuatnya menolak putrinya.
Adam mengacak rambutnya kasar, memukul nakas yang ada di sebelah tempat tidurnya. Adam begitu benci dengan keadaan ini, hatinya sudah lelah ingin mengakhiri semuanya dan berdamai dengan keadaan namun, seketika bayangan sang istri terasa enggan untuk dilupakan. Kehadiran Dara di sisinya membuatnya semakin larut dalam kesedihan.