Suara tangis Dara semakin kencang, ditutupnya telinga agar tidak mendengar tangisan itu. Air matanya tiba-tiba luruh, ingatannya enam tahun yang lalu tiba-tiba muncul, serasa baru dialaminya.
"Mas, aku ingin nasi goreng kambing," rengek Arumi waktu itu, tepat pukul satu dini hari.
Adam yang sudah terlelap dari tidur, mengharuskan diri untuk bangun karena Arumi terus saja merengek.
"Besok ya?" Adam mencoba bernegosiasi. Saat itu dirinya memang sangat lelah karena baru saja dia merebahkan tubuhnya setelah menyelesaikan pekerjaan kantor yang dia bawa pulang.
"Yang pengen dia, bukan aku," rengek Arumi sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Akhirnya dengan berat Adam menuruti keinginan istrinya.
Diambilnya kunci mobil di atas nakas, segera dia berangkat sebelum wanita manja itu lebih merengek. Dikucek matanya yang terasa berat itu agar membuka sempurna.
Adam berkeliling mencari nasi goreng kambing, karena memang di jam-jam tengah malam warung sudah pada tutup.
Melajukan mobilnya menuju tempat-tempat yang biasa dia kunjungi dan semuanya sudah tutup. Dilihatnya jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi dia masih berusaha mencari warung yang masih buka.
Setelah berkeliling, akhirnya dia menemukan warung yang masih buka, itu pun dia harus menempuh perjalanan satu jam demi sebungkus nasi goreng kambing. Dia tersenyum penuh kemenangan karena di akhir perjuangannya dia dapatkan juga, padahal hampir saja dia putus asa.
Segera dikendarainya mobil dengan kencang karena dia takut istrinya menunggu terlalu lama dan ketiduran. Dia tidak mau kalau usahanya akan berakhir seperti pada malam-malam sebelumnya.
Saat dia sampai, dengan setengah berlari langsung menuju dapur untuk mengambil piring lalu berjalan menuju lantai atas berharap sambutan senyum sang istri karena dia telah berhasil mendapatkan yang istrinya inginkan.
Dilihatnya sang istri telah terlelap dengan senyum yang tersungging, entah dia sedang bermimpi apa, hingga senyuman itu begitu tenang. Dibangunkannya dengan lembut agar sang istri tidak kaget.
Arumi mengerjapkan mata dan seketika senyumnya terkembang saat melihat suaminya datang, dia begitu bahagia mempunyai suami yang begitu menyayanginya.
Adam sudah bersiap untuk menyuapi istrinya. Dengan tersenyum, Arumi membuka mulutnya dan memakan nasi goreng itu. Hanya dua suapan saja Arumi sudah menolak untuk memakannya.
"Sudah, Mas," tolak Arumi.
"Baru dua sendok," protes Adam kesal.
"Tapi sudah kenyang," jawab Arumi sambil mengerucutkan bibirnya.
Seketika tubuhnya langsung lemas, ini adalah ke sekian kalinya Adam kecewa. Akhirnya dengan langkah gontai ditaruhnya piring berisi nasi goreng kambing itu ke dapur. Tak ada niat untuk menghabiskannya, dia sudah sangat kecewa padahal dalam bayangannya tadi Arumi akan menghabiskan nasi goreng itu.
Adam kembali lagi ke kamar lalu merebahkan tubuhnya karena dia sudah benar-benar lelah.
Arumi memeluk suaminya, "Kamu marah ya?" tanya Arumi.
Adam mencium rambut istrinya lalu membelainya.
"Aku senang melakukannya," ucap Adam berusaha menyenangkan hati istrinya.
"Mas, kalau anak kita lahir, kamu harus menyayangi dia. Suatu saat nanti jika aku tidak disampingmu, kamu harus selalu ada untuk dia," ujar Arumi sambil mengusap d**a bidang sang suami.
Adam memejamkan mata, permintaan Arumi tiba-tiba terngiang di telinganya. Tangan lembut yang selalu mengusap dadanya masih begitu terasa. Akhirnya Adam beranjak dari tidurnya untuk menghampiri Dara yang masih menangis, karena permintaan istrinya.
April masih berusaha menenangkan Dara. Namun, gadis kecil itu masih saja menangis karena malam ini adalah malam pertama dia tidur di rumah ayahnya.
Didekatinya sang putri yang dulu begitu dia harapkan bersama istrinya. Dengan ragu, Adam mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala sang putri. Saat tangan Adam menyentuh rambut lembut itu, seketika bocah kecil itu menghentikan tangisnya dan menoleh.
"Ayah?"
Adam segera mengusap air matanya yang tiba-tiba berair dengan punggung tangannya. Panggilan sang putri bisa menggetarkan hatinya yang beku.
Dara menatap wajah sang ayah dengan tatapan mengiba. Ada rasa rindu di matanya melihat orang yang di panggilnya ayah menyentuhnya.
"Jangan menangis, tidurlah," ucap Adam, lalu dia berbalik meninggalkan tempat itu dan kembali ke lantai atas, dia tidak mau ada yang melihat air matanya luruh.
Dara menatap ayahnya sampai tak terlihat punggung ayahnya, lalu dia mengajak April untuk masuk ke kamar.
"Ayo kita tidur tante, nanti Ayah marah," pinta Dara.
Melihat adegan ayah dan anak itu, air mata April seketika luruh. Dia terharu melihat kejadian yang baru pertama dia lihat selama lima tahun menemani Dara.
Karena saking senangnya, April langsung memberi kabar pada Lasmi dengan pesan suara atas kejadian langka yang baru saja dia lihat.
Dara tidur memeluk gulingnya, dia memejamkan matanya dengan senyum yang tersungging di bibirnya, hatinya begitu tenang setelah ayahnya membelai rambutnya untuk pertama kali yang dia ingat.
***
"Tante, Dara senang sekali, tadi malam Dara mimpi tidur sama Ayah," celoteh bocah lima tahun itu.
"Ayah sayang, ya, sama Dara?" tanya gadis berhidung lancip itu.
"Semua Ayah pasti menyayangi anaknya, begitu juga dengan Ayah Dara," jawab April sambil menyuapi Dara.
"Tapi kenapa Ayah tidak pernah memeluk Dara?" tanya Dara polos.
"Ayah masih sibuk bekerja cari uang untuk Dara," ucap April berusaha memberi pengertian pada Dara.
"Kalau sibuk, tidak bisa peluk Dara ya, Tan?" tanya Dara lagi dengan polosnya.
"Nanti kalau Ayah Dara sudah tidak sibuk, pasti Dara akan di peluk," jawab April sambil mengusap lembut rambut kuncir kuda Dara.
Sedangkan di lantai atas, laki-laki kekar itu langsung lemas mendengar ucapan putrinya, dadanya berdebar.
"Maafkan Ayah, Nak," lirihnya.
Adam menyandarkan tubuhnya di dinding, kakinya terlalu lemah untuk bisa menopang tubuhnya dan air matanya luruh, dia tergugu menumpahkan air mata yang hampir kering.
Setelah puas menumpahkan air mata yang telah lama kering itu, Adam mencuci mukanya hingga air matanya benar-benar tidak terlihat. Dia adalah laki-laki tangguh, tidak seharusnya dia menangis seperti itu.
Setelah menetralkan perasaannya, Adam turun dengan mata sedikit sembab, dia sudah tidak bisa membuat wajahnya kembali seperti semula.
April melirik ke tangga, dia masih melihat mata merah Adam. Namun, segera dia menundukkan wajahnya dan kembali menyuapi Dara.
Adam duduk untuk sarapan, sesekali mencuri pandang pada putri kecilnya. Perasaan sayang itu tiba-tiba muncul, ingin rasanya dia memeluk sang putri, tapi egonya terlalu tinggi untuk melakukannya.
Dara hanya menatap ayahnya tanpa berani menyapa, sentuhan ayahnya semalam sudah cukup membuatnya bahagia.
Akhirnya mereka menikmati sarapan tanpa mengeluarkan sepatah kata hanya dentingan sendok yang terdengar.
"Jangan nangis lagi, Ayah kerja dulu, ya." Untuk pertama kalinya Adam menyapa putrinya dan di usapnya rambut sang putri. Dia sudah tidak bisa menahan rasa yang tiba-tiba datang, ingin dekat dengan putrinya.
Dara menatap ayahnya dengan perasaan senang, ingin sekali dia memeluk ayahnya. Dia benar-benar merasakannya, tapi dia tidak berani melakukannya.
Sejak kecil Dara tahu kalau Adam adalah ayahnya, tapi dia tidak tahu ayah itu seperti apa, karena selama ini ayahnya datang hanya berbicara dengan eyang putrinya tanpa menyapanya.
Adam meninggalkan mereka berdua dengan perasaan yang, entahlah. Dia tidak tahu kehidupan apa yang dia jalani sekarang, dia seperti berjalan tanpa arah setelah istrinya meninggal.
Dilajukan mobilnya menuju tempat dimana dia habiskan mengusir kesedihannya. Dia adalah laki-laki pekerja keras, dalam hidupnya hanya bekerja dan bekerja tanpa menikmati hasilnya. Tabungannya juga banyak, tapi tidak pernah dia mendapatkan kebahagiaan dari uangnya.
“Selamat pagi, Pak,” sapa ramah para karyawan.
Adam hanya menganggukkan kepalanya, tidak ada senyuman di bibirnya, dia berjalan lurus ke depan tanpa ingin menoleh pada siapa pun.
Setelah sampai di ruangannya, Adam langsung fokus dengan pekerjaannya. Prestasi kerjanya begitu bagus hingga dia bertahan di posisi itu karena direktur utama begitu menyukai kinerjanya. Adam sangat disiplin dan tidak segan dia mengerjakan sendiri jika ada pekerjaan karyawan yang kurang memuaskan. Dia lebih senang memperbaiki sendiri daripada marah-marah pada karyawan. Karena sikapnya itu, meskipun dia tidak begitu ramah, tapi dia begitu disukai.
Setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya, akhirnya jam waktu pulang yang ditunggu-tunggu datang juga. Semua karyawan begitu lega jika jam pulang telah tiba, tapi tidak bagi Adam. Jam pulang adalah waktu yang paling dia benci, karena dia akan kembali dalam kesunyian.
Namun, tidak untuk saat ini, dari tadi Adam berkali-kali melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Panggilan ayah untuk dirinya membuatnya ingin sekali pulang ke rumah.
Adam segera melajukan mobilnya, kali ini dia menuju toko mainan. Setelah sampai di sebuah toko mainan, dia memborong boneka dan mainan hingga memenuhi mobilnya. Bayangan senyum putri kecilnya terlintas dalam benaknya, Adam tersenyum sendiri, ini adalah kali pertama dia menyunggingkan senyum setelah sekian tahun hilang dari bibirnya.
“Mas, ayo kita beli mainan,” pinta Arumi kala itu.
“Sayang, nanti saja kalau dia sudah lahir,” sahut Adam sembari mengelus perut istrinya yang membuncit.
“Sudah nggak sabar nih,” rengek Arumi.
Akhirnya, Adam membelikan beberapa mainan untuk menyenangkan hati sang istri, dan mainan itu sudah rusak saat Dara masih bayi.
Adam tersenyum mengingat rengekan istrinya, “Aku akan menebus waktu yang telah aku sia-siakan, Rum,” gumamnya.
Dengan perasaan senang, Adam membayangkan Dara menerima hadiah yang dia bawa. Dia sudah tidak sabar untuk segera pulang dan melihat senyum putrinya.
Segera dikendarai mobilnya dengan perasaan yang tidak seperti biasanya, perasaan yang sudah lama hilang dari hatinya. Rasa sayang dan cinta yang telah di kuburnya kini mulai kembali bersemi, rasa cinta pada sang buah hati.
Senyumnya tersungging di bibirnya membayangkan kejadian semalam saat panggilan ayah yang terucap dari bibir mungil putrinya. Sungguh saat ini hatinya seperti tanaman yang sudah layu mendapat siraman air, sehingga daun-daun yang layu mulai tegak berdiri.
“Sayang, ayah mencintaimu,” gumamnya sambil terus menyunggingkan senyuman.
Mobil Adam sudah memasuki area perumahan, dikuranginya laju mobilnya karena banyak anak-anak yang bermain di jalan. Sesekali dia menyapa anak-anak tetangga yang sedang bermain dan juga saat berpapasan dengan tetangga.
Melihat perubahan pada Adam membuat para tetangga heran, tidak biasanya Adam menyapa ramah pada mereka meskipun dulu sebenarnya Adam adalah orang yang ramah.
Tatapan heran mengiringi langkah Adam hingga mobil itu berhenti tepat di depan rumah yang biasanya begitu sepi, hingga sang pemilik turun dan mengambil banyak sekali mainan di mobilnya.