Dena mengedarkan pandang, menyusuri kamar barunya. Lebih besar dari kamar yang ia tempati di asrama BIN.
Dean tidak perlu menghabisi banyak waktu, karena ia hanya membawa beberapa helai baju. Sehingga ia tidak butuh banyak waktu untuk menata barang-barangnya.
Jendral Dedi memiliki seorang sopir dan seorang asisten rumah tangga. Tapi sudah sekitar seminggu ini sopirnya libur karena kondisi kesehatannya yang menurun.
Selain tumpukan baju di lemari, Dena juga membawa sebuah laptop berwarna hitam. Sekilas, itu terlihat seperti laptop biasanya. Tapi laptop milik Dena ini tak ubahnya mini super komputer. Tentu saja fungsi yang dimiliki melebihi sebuah laptop biasanya.
Laptop itu merupakan salah satu invertaris BIN, diberikan kepadanya agen-agen lapangan demi kesuksesan misi.
Alih-alih menekan tombol power, jari-jari Dena malah menekan serangkaian tombol acak di papan ketik. Mengingat fungsinya yang luar biasa, laptop ini dilengkapi dengan sistem perlindungan data yang tinggi bahkan bisa menghancurkan data yang dimiliki jika mendapati sebuah upaya penggunaan laptop secara ilegal.
Tingkat keamanan laptop ini ada tiga macam. Yang pertama, adalah kamuflase cara menyalakan laptop. Jika penggunanya hanya menekan tombol power, laptop itu akan menampilkan tampilan palsu berupa tampilan laptop pada umumnya.
Yang kedua, yaitu dengan memindai retina pengguna. Pada bagian atas layar, terdapat sebuah kamera yang juga berfungsi sebagai pemindai retina. Retina yang dipindai akan dicocokkan dengan database BIN. Letak pemindai yang tersamarkan ini digunakan untuk mengelabuhi orang yang mungkin ingin mencoba mengaksesnya.
Yang ketiga adalah sebuah pemindai sidik jari yang tersamarkan pada touchpad laptop. Jika tidak ditemukan kecocokan dari ketiga sandi tersebut, laptop tersebut akan memulai prosedur pengahancuran data.
Di layar laptop Dena kini menampilkan gambar rumah tersebut. Ketika ia baru tiba tadi, Mayang sempat mengantarnya keliling rumah. Kesempatan ini Dena manfaatkan untuk menyelipkan kamera pengawas mini di beberapa sudut rumah.
Dena juga menggunakan kesempatan itu untuk melakukan pemindaian pada struktur rumah tersebut. Kini ia bahkan memiliki cetak biru dari rumah Jendral Dedi.
Dena tidak menemukan sesuatu yang aneh pada rumah itu. Keanehan justru terlihat pada bangunan yang berada tepat di samping rumah ini. Mayang menjelaskan jika bangunan tiga lantai itu dulunya adalah toko penyewaan komputer, tapi kemudian tutup karena kehilangan pelanggan.
Dena hampir saja percaya, jika ia tidak melihat antena yang terpasang pada puncak bangunan itu. Sekilas, itu terlihat seperti antena parabola biasa. Tapi dari mini drone yang Dena kirim, justru menampilkan sebuah perangkat pengacak IP rakitan yang terpasang pada puncak bangunan.
Yang lebih mengejutkan, perangkat itu masih aktif. Padahal toko penyewaan komputer itu sudah tutup setahun belakangan ini.
Dena terlalu asyik pada laptopnya, hingga tidak sadar jika hari sudah malam. Pintu kamarnya yang terletak di lantai dua itu diketuk oleh Mbok Sri, asisten rumah tangga. Mbok Sri mengatakan jika dirinya sudah ditunggu di ruang makan.
Dena kesal karena ia baru menemukan sesuatu yang menarik ketika panggilan makan malam itu tiba, tapi demi kesopanan ia terpaksa turun. Lima menit kemudian Dena sudah berada di ruang makan, ia butuh sedikit waktu untuk merapikan laptopnya.
Selama sesi makan itu pulalalh Dena mulai menyusun beberapa strategi guna menyukseskan misinya.