"Beneran mau ikut ke dalam?" Kirana menatap Dena yang melangkah di sampingnya. Berdiri bersisian seperti ini, membuat Kirana menyadari perbedaan tinggi keduanya yang sangat mencolok.
"Iya. Santai saja, kamu bisa menganggap aku tidak kasat mata. Kakakmu ini janji nggak akan menampilkan raut wajah bosan atau nggak sabaran," ujar Dena yakin.
"Aku udah kasih tahu, loh. Awas kalau mendadak protes," tegas Kirana sekali lagi. Dena hanya mengangguk.
Dena tidak akan bercerita jika ia pernah menunggu lebih lama dari takaran waktu belanja. Ia bahkan harus bersabar mengumpulkan satu demi satu bukti kecil hingga hasilnya memuaskan untuk atasannya. Jadi menunggu belanja, baginya bukan sesuatu yang berat. Setidaknya ia bisa menunggu dengan tenang, tanpa bayangan kematian yang sewaktu-waktu menjemput seperti dalam misinya yang lalu.
Toko buku itu tampak ramai, selain karena letaknya di salah satu pusat perbelanjaan terbesar, toko ini juga merupakan salah satu toko utama yang koleksi bukunya sangat lengkap.
Kirana langsung melesat meninggalkan Dena menuju rak-rak novel kesayangannya, Dena hanya mengawasi dari jarak aman. Ia tidak ingin kebahagiaan gadis itu terganggu, Dena tidak bisa menduga yang akan terjadi esok hari, dengan statusnya sebagai putri petinggi negara yang memiliki banyak musuh.
Dena tidak tahu rinci kejadian, ia hanya melihat sebuah rak yang berada di samping Kiara roboh, lalu gadis itu berteriak. Ia berlari secepat yang ia bisa, beruntung Kirana berdiri di ujung, sehingga ia tidak terkena lemari kayu yang ambruk itu.
Suasana toko tiba-tiba menjadi riuh, Dena hanya tahu ia harus segera membawa Kirana pergi.