"Aku nggak apa," kata Kirana untuk yang kesekian kalinya. Gadis itu tertunduk hingga rambut panjangnya menjuntai menutupi wajah. Kedua tangannya menengadah di pangkuannya, tampak bergetar. Wajahnya pusat seperti tidak teraliri darah.
"Iya. Kamu nggak apa," ujar Dena sambil mengelus kepala Kirana. Dena jelas merasa bahu gadis itu berguncang, tapi sepertinya Kirana bahkan tidak sadar jika dirinya menangis.
Setelah lemari kayu itu ambruk, Dena langsung menyeret Kirana meninggalkan area toko. Berkali-kali Dena mengumamkan kalimat penenang, sambil terus mengusap bahu Kirana. Gadis itu terus terdiam hingga keduanya tiba di mobil, lalu Kirana mulai menggumamkan kalimat yang sama sambil terus menatap kedua tangannya.
"Kita pulang ya? Cari bukunya besok lagi." Dena menyelipkan sebotol air minum ke tangan Kirana. Lalu bergegas menginjak gas mobil meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut.
Dena tidak tahu detail kejadian tadi, ia hanya melihat sekerumunan remaja yang berdiri di samping Kirana tengah asyik memilih buku, begitu juga dengan seorang wanita yang menggunakan setelan kerja. Tidak ada yang tahu penyebab kejadian rubuhnya lemari kayu tadi, lemari itu cukup kokoh sehingga tidak mungkin jatuh dengan sedikit dorongan.
Dena mengernyit ketika menyadari mobilnya dibuntuti. Bukan hanya motor, kini sebuah sedan hitam tampak ikut menjaga jarak. Seharusnya, mobilnya adalah yang terakhir melaju ketika lampu berubah merah, tapi sedan itu tampak langsung memacu gas dan kini kembali mengikuti mobil Dena.
Dena menatap Kirana yang masih termenung, tangannya merogoh pistol yang tersembunyi di balik pinggang. Dena sudah sengaja memberi jalan, tapi mobil dan motor-motor itu masih setia mengekori Dena.
Yellow Signal!
Tulis Dena pada ponselnya, ia mendesah lega setelah pesan tersebut terkirim. Jika kondisinya hidup dan mati, Dena masih cukup percaya diri melawan segerombolan orang itu. Tapi ia juga harus memprioritaskan keamanan Kirana, ditambah dengan kondisi mental gadis itu yang masih terkejut karena kejadian barusan.
Brakk!
Dena tidak ingat yang terjadi, ia hanya tahu jika tubuhnya menghantam keras kemudi, disusul bunyi klakson yang memekakkan telinga.