11. Waspada

212 Kata
Dena merasa sengatan ngilu dan pusing menghantam kepalanya. Suara bising klakson masih terdengar di telinganya, matanya menangkap beberapa kaki terlihat mendekati mobilnya. Mobilnya terbalik, batin Dena. Dena ingat ia tidak sendirian di mobil ini, disampingnya Kirana tampak tidak sadarkan diri. Ada darah menetes dari hidung dan pelipis gadis itu. Semoga tidak ada luka dalam, doa Dena setelah melihat sekilas keadaan Kirana. Dena melepaskan sabuk pengamannya, mencoba meraih Kirana meski kakinya berdenyut ngilu. Sialnya, Kirana tersangkut di sabuk pengamannya sendiri. Dena pun memutar akal, ia menyadari mobilnya masih menyala. Dena melepaskan kunci pintu otomatis, beberapa orang yang berkerumun berhasil membuka pintu, dibantu beberapa orang Dena akhirnya keluar dari mobil tersebut. Begitu juga Kirana yang baru berhasil dikeluarkan dari mobil. Dena dipapah ke tepi jalan, ia menerima uluran botol minum. Tapi fokusnya masih melihat Kirana, gadis itu masih belum sadar. Seragam sekolahnya kini berwarna merah di beberapa bagian. Sepuluh menit kemudian ambulan datang. Dena masih mencoba sadar, tapi sengatan ngilu di kepalanya makin kuat menghantam. "Kirana...," ujar Dena menggantung. Ia hanya ingin memastikan keadaan Kirana. Dena berhasil menggapai Kirana, tepat saat gadis itu dinaikan ke brangkar pasien. Pintu ambulan ditutup, mobil dengan sirine khas itu meninggalkan lokasi kejadian. Perjalanan ke rumah sakit terasa begitu jauh, Dena terus berdoa agar gadis itu baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN