Dena menutup sambungan telepon, panggilan dari atasan yang merupakan teguran untuk kelalaian Dena hingga menyebabkan target dalam bahaya. Selain setumpuk ceramah mengenai kewajiban dan prosedur misi yang harus ia jalani, atasannya tersebut juga menambahkan bahwa Dena akan mendapat sanski karena kejadian hri ini.
"Kirana sudah sadar, Nak. Kamu mau ikut nengok?" sapa Mayang sambil menepuk bahu Dena, ada gurat kelegaan di wajah cantik itu. Dena hanya mengangguk lantas mengikuti langkah Mayang.
"Kamu yakin tidak ada yang butuh perawatan dokter?" Mayang menatap Dena, ada plester luka yang tertempel di pelipis Dena. Dena hanya menggeleng, ia hanya mengalami memar dan beberapa lecet ringan. Jauh lebih baik dari Kirana yang sampai harus menerima empat jahitan karena luka robek.
"Syukurlah. Kedepannya kalian lebih hati-hati ya, Nak. Tidak hanya keselamatan Kirana, keselamatan kamu juga penting," pesan Mayang sebelum membuka pintu kamar rawat Kirana.
Dena hanya mengangguk, ia bahkan lupa jika ada kata 'keselamatan diri sendiri'. Rasanya ia sudah lama menghapus kata itu dari prioritas hidupnya. Hanya ada misi tumpukan misi yang harus ia kerjakan dengan gemilang.
"Aku nggak apa-apa, Bunda," ujar Kirana menenangkan Mayang. Meski terlihat tegar, ia tetap seorang ibu yang akan hancur melihat putrinya terluka.
Dena mengalihkan pandangan, menatap jendela kaca besar di hadapannya. Dena terbelalak, lalu sekuat yang ia bisa berlari menarik Mayang yang berdiri di samping ranjang Kirana.
"Awas!" pekik Dena diikuti bunyi kaca yang pecah.