Pintu kamar Kirana terbuka, dua orang perawat langsung panik begitu menyadari bunyi pecah barusan berasal dari kamar ini.
Keduanya langsung berteriak memanggil bala bantuan. Masih sambil membungkuk, Dena yang tanggap langsung menarik Mayang meninggalkan kamar tersebut. Sementara Kirana tampak terpaku di ranjangnya, Dena mengendong gadis itu setelah memastikan Mayang aman di luar kamar.
"Nggak apa, Kirana aman sekarang," bidiknya sambil menggendong Kirana yang masih pucat.
Ruangan yang semula hening itu kini ramai, beberapa dokter serta petugas keamanan mengerubungi ibu dan anak yang masih terkejut itu. Terutama Kirana, gadis itu hampir kehilangan nyawanya dalam waktu yang berdekatan.
Setengah jam kemudian, Kirana sudah ditempatkan di ruangan baru. Kali ini tanpa jendela, mencegah kejadian yang sama terulang. Dua orang pria berjaga di depan pintu kamar Kirana, keduanya adalah anak buah Jendral Dedi. Sayangnya, Jendral tersebut mendadak harus pergi ke luar kota. Hanya beberapa prajurit kepercayaan yang bisa ia kerahkan demi mengantikan kealpaan dirinya menemani anak dan istrinya.
Kejadian penembakan itu memang tidak dipublikasikan, dengan pengaruh Jendral Dedi mudah baginya untuk mengatur hal kecil seperti ini. Pegawai rumah sakit yang sempat melihat kejadian ini sudah diminta untuk menandatangani perjanjian untuk bungkam.
"Saya nggak mau anak dan istri jadi bulanan wartawan, biarkan mereka istirahat saja," ujar Jendral Dedi melalui panggilan video ketika ditanya alasan merahasiakan hal ini.