14. Pulang

272 Kata
Meski kondisinya belum terlalu pulih, Kirana akhirnya diijinkan pulang. Hal ini lebih karena permintaan pribadi ayahnya, beliau berpendapat Kirana lebih aman di rumah. "Kalau butuh apa-apa kamu bisa panggil Bunda ya, Nak." Pesan Mayang sebelum menutup pintu kamar Kirana. Sementara Dena berdiri di balik pintu, sengaja berhenti karena mendengar suara Mayang di kamar. Ia tidak ingin menganggu momen ibu dan anak itu. "Masuk aja. Kirana belum tidur, masih bisa ngobrol sebentar," ujar Mayang begitu melihat Dena. Wanita itu tersenyum teduh, khas senyum seorang ibu. Dena mengangguk. Kirana mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca begitu mendengar suara pintu, ia sempat mengira pelakunya adalah sang Bunda. Rupanya itu adalah Dena. "Kakak nggak apa?" Kirana menatap Dena yang masih berdiri rikuh di depan pintu. "Harusnya kakak yang nanya gitu," ucap Dena, pemuda itu duduk di pinggir ranjang lantas mengelus surai Kirana. Kirana tertawa kecil lalu tersenyum riang. Sejujurnya, gadis itu selalu merasa aman ketika Dena berada di sekitarnya. Karenanya tidak sulit bagi Kirana untuk bersikap ramah meski Dena belum lama tinggal bersama keluarganya. "Maafkan kakak ya? Harusnya kakak jagain kamu, tapi malah hampir bikin—" "—aku nggak apa, Kak. Jangan ngomong kayak gitu lagi. Aku selamat, kakak selamat, bunda juga aman, ayah udah pasti aman. Jadi berhenti menyalahkan diri," potong Kirana. Gadis itu tersenyum manis, senyum yang diam-diam terkenang di benak Dena. Keduanya berbincang cukup lama, Dena akhirnya pamit setelah menyerahkan dua buku yang ia beli sore tadi. Dena bergegas kembali ke kamar, kemudian menyibukkan diri dengan laptop dan laporan yang harus segera ia selesaikan. Ditambah dengan penemuannya setelah berkeliling di kamar Kirana tadi sore, Dena mulai menduga alasan nyawa gadis itu diincar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN