Kondisi kesehatan Kirana berangsur membaik, tiga hari kemudian gadis itu sudah diijinkan masuk sekolah.
Dena tentu tidak setuju dengan ide ini, nyawanya masih terancam, Dena bahkan masih belum menemukan alasan Kirana ikut diincar. Jika sesuai dugaan awal, Kirana dan Mayang hanya digunakan untuk menggertak Sang Jendral agar tidak meneruskan penyelidikan terhadap korupsi di kementerian.
Melupakan semua fakta itu, Dena yakin jika nyawa Kirana sungguhan terancam. Bukan hanya gertak sambal saja. Rasanya ada sisi remaja itu yang masih abu-abu di mata Dena.
"Besok kakak antar aku sekolah kan?" Kirana melongok dari pintu kamar Dena. Dena sempat terkejut, tapi ia terlatih mengendalikan ekspresi. Kirana masuk ke kamar, sementara jari Dena bergerak cepat dan hati-hati menutup jendela pencarian yang ia tekuni seharian ini.
"Kakak ini cowok loh,", ujar Dena sambil bangkit. Menyingkirkan laptopnya ke meja di samping ranjang, Kirana malah merebahkan diri di ranjang Dena.
"Nggak ada yang bilang kakak cewek," sahut Kirana sambil bergulingan di kasur, Dena mendesah lelah memdegar jawaban Kirana.
Dena langsung menarik tangan Kirana, memaksa untuk bangkit. Kirana yang kalah tenaga pun akhirnya terduduk, ia menatap Dena penuh permusuhan.
"Pelit!" kesalnya.
"Bukan, kakak cuma nggak mau kamu sembarangan masuk kamar cowok. Kamar itu area pribadi, kamu nggak tahu isi pikiran laki-laki."
Kirana terbelalak, telunjuknya menuding Dena dengan bergetar, "Jadi kakak punya khayalan yang mantap-mantap cuma karena aku rebahan di kasur ini?"
Dena memijat kepalanya yang pusing. Ia baru menyadari satu sifat baru Kirana yang muncul akhir-akhir ini. Gadis itu sangat suka mendramatisir sesuatu, lagi pula Dena tidak berniat menjelaskan kalimatnya. Kirana adalah penganut paham wanita selalu benar, jadi Dena memilih membiarkan Kirana melanjutkan dramanya.
"Aku nggak nyangka pikiran kakak sekotor itu!" Kirana membalikkan badan, meninggalkan kamar Dena sambil menghentak-hentakan kaki.
Dalam hati Dena berdoa semoga gadis itu tidak menceritakan pemikiran ngawurnya pada orang lain.