"Ada bom di sekolah Kirana," kata Mayang sambil bergetar. Tubuh ramping itu tersungkur, tidak sadarkan diri.
Setelah memindahkan Mayang ke kamar, Dena berpesan pada asisten rumah tangga untuk menjaga Mayang, sementara ia pergi ke kamar, meraih tas hitam di dalam lemari. Kemudian memacu mobil secepat mungkin menuju sekolah Kirana.
Dena sudah menghubungi rekan-rekannya di BIN. Beberapa agen yang berada dekat lokasi sudah diminta untuk merapat ke sekolah Kirana.
Seperti yang direncanakan, hari ini Kirana sudah kembali bersekolah. Siapa tahu jika siang ini tiba-tiba Mayang menerima telepon yang menyatakan sebuah bom sudah dipasang di sekolah putrinya tersebut.
Dena tiba sekitar sepuluh menit kemudian. Dena belum tahu lokasi bom tersebut disembunyikan, tapi ia harus menemukannya segera. Dena tidak ingin membuat keributan, kebetulan sekolah sudah bubar satu jam yang lalu. Hanya beberapa siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang masih berada di lingkungan sekolah.
Melibatkan guru dan evakuasi justru akan memakan waktu. Dena melihat beberapa temannya sudah lebih dulu berada di sekolah. Beberapa berbaur dengan orang tua yang menjemput anaknya, sisanya ada yang menggunakan seragam pengantar makanan.
Dengan satu kode dari Dena, rombongan itu mulai memasuki sekolah. Dua orang yang menyamar sebagai orang tua murid nampak berjalan ke sisi barat. Seorang lagi yang berpakaian pengantar makanan menuju sisi timur. Dena masuk tidak lama kemudian, ia melirik jam tangannya yang juga berfungsi sebagai alat pelacak. Dena menemukan sinyal Kirana cukup jauh dari lokasinya di gerbang sekolah.
Dena berharap waktunya cukup untuk menemukan bom itu.