"Kamu sudah mau jemput Kirana?" tegur Mayang begitu Dena melintasi ruang tengah. Terlihat tangan kanan Dena membawa kunci mobil.
"Tadi sudah telepon, minta dijemput cepat," jawab Dena sopan.
"Mungkin lagi ada tempat yang mau dia datangi, dia suka mampir toko buku atau ke kafe yang menunya unik-unik." Mayang menerangkan, wanita itu menatap Dena penuh harap.
"Pastikan saja kalian pulang sebelum jam makan malam, Kirana pasti aman kalau ada kamu," pesan Mayang lagi sebelum Dena meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan, Dena kembali merasa diikuti. Ia bahkan sengaja mengambil jalan memutar dan mampir di sebuah swalayan cukup lama. Tapi motor itu terus mengikuti, bahkan ketika Dena sengaja berhenti di SPBU hanya untuk berpura-pura pergi ke kamar mandi.
Kak Dena, aku sudah keluar kelas. Tapi mau pinjma buku dulu di perpustakaan. Nanti kalau Kakak sudah dekat telepon saja.
Bunyi pesan yang dikirimkan Kirana. Setidaknya Dena merasa tenang, di tempat seramai sekolah orang-orang yang belum jelas tujuannya ini tidak mungkin bertindak nekat.
Dena tiba sekitar lima belas menit kemudian, ia tidak menemukan Kirana di bangku panjang dekat pos satpam. Padahal bocah itu sempat mengatakan ia akan menunggu di sana.
Kebijakan sekolah, memang tidak mengijinkan penjemput siswa melewati gerbang. Karena sekolah tersebut hanya memiliki satu tempat parkir untuk para guru, kendaraan yang berlalu-lalang dikhawatirkan malah membahayakan murid-murid di sini.
"Maaf, Kak. Tadi aku kelamaan di perpustakaa," ujar Kirana begitu memasuki mobil.
"Kakak juga baru sampai, kok. Langsung pulang?" Dena tersenyum sambil mulai menjalankan mobil. Sekilas, ia melihat motor yang sama juga ikut meninggalkan sekolah.