2. Rumah Baru

776 Kata
"Jadi kamu agen yang dikirim BIN?" Pria tua dengan setelan loreng khas tentara itu menatap Dena dari kepala hingga ujung kaki. Tatapan mengintimidasi yang sayangnya tidak membuat Dena gemetar. Dena mengangguk lalu kembali berdiri dengan posisi istirahat di tempat. Jendral itu membuang nafas sambil memijat keningnya yang sudah muncul garis halus. "Ini namanya cari bahaya. Gimana bisa agen BIN setampan ini? Salah-salah anakku yang terjerat padamu." Pria tua itu menatap Dena dengan pandangan lelah. Dena masih berdiam di tempatnya, sama sekali tidak memberi reaksi akan pujian yang diberikan untuknya. Pria itu adalah Jendral Dedi Suprapto. Jendral bintang tiga dengan posisi tinggi di pemerintahan. Reputasinya militernya tidak bisa dianggap remeh. Ia adalah komandan utama untuk misi perdamain yang banyak ditolak karena tingkat keamanan yang rendah. Meski secara singkat, Dena sudah membaca sekilas riwayat dari orang yang akan ia layani ini. Kehebatan Jendral Dedi membuat ia sempat dikabarkan adalah calon tunggal untuk posisi menteri pertahanan negara. Tapi ditolak dengan alasan tidak ingin kehilangan waktu bersama keluarganya. Jendral Dedi boleh ditakuti lawan di medan pertempuran. Hal ini berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya, ia adalah pria baik penuh tanggung jawab terhadap keluarga. Ia adalah sosok ayah idaman untuk putri tunggalnya. Di kalangan perkumpulan abdi negara, Jenderal Dedi dan istri kerap dijadikan tolok ukur keluarga sempurna. Meski garang di Medan pertempuran, Jendral Dedi selalu memperlakukan istrinya penuh kasih sayang. Jendral Dedi menatap Dena, berharap ada raut emosi yang bisa ia baca. Sayangnya Dena masih setia dengan mimik datar, tampak tidak tersipu dengan pujian tersirat itu. Bukan baru sekali ia dinilai tidak pantas menjadi agen BIN karena rupanya. "Ini bukan salahku. Salahkan manusia yang membuatku, mungkin bibit keduanya terlalu unggul. Tapi mungkin mereka berusaha terlalu keras sehingga hasilnya sebagus ini," jawab Dena setiap orang di akademi menyinggung wajah Dena. Tentu saja, ia tidak bisa memilih rupa yang akan ia kenakan di dunia ini. Ia hanya perlu bersyukur, karena diberi kelebihan wajah yang rupawan. "Kau sudah pahami detail misimu?" Jendral itu bertanya dengan nada bicara yang lebih santai dibanding beberapa menit lalu. Dena mengangguk sebagai jawaban. Jendral itu bangkit dari duduknya, menghampiri Dena hingga jarak keduanya hanya berkisar dua langkah. "Aku yakin kau sudah dilatih dengan baik, tapi aku rasa harus mengingatkanmu. Bersikaplah lebih santai, karena sekarang kau adalah keponakanku." Dena kembali mengangguk. Jendral itu melirik jam dinding, lalu mengambil jaket yang digantung di balik pintu. "Ikutlah. Kita akan menemui adik sepupumu. Aku yakin kalian akan mudah akrab." Dena mengikuti langkah Jendral Dedi. Seorang ajudan membuka pintu mobil untuk keduanya, mungkin beberapa bertanya-tanya jati diri pemuda yang sedang bersama sang jendral. Dena duduk di kursi pengemudi, mengantikan sopir yang sudah seminggu ini libur. Senyap menghiasi setengah perjalanan, sampai akhirnya Jendral Dedi mulai membuka topik obrolan. "Kau sudah membaca profil putriku?" Jendral Dedi melirik Dena yang fokus mengemudi. Dena mengangguk pelan, "sudah saya baca sesuai berkas yang Paman serahkan ke BIN." "Sudah bagus. Tapi tolong jangan terlalu kaku. Kirana-ku tidak sebodoh itu," kata Jendral Dedi sambil tertawa lirih. Dena hanya mengangguk samar, dalam hati mulai mengutuk Kresna yang menukar misi keduanya. Dengan tingkah aneh dan ajaib Kresna, tidak akan sulit bagi pemuda itu untuk berbaur dalam misi penyamaran seperti ini. Meski jujur Dena merasa sedikit was-was karena ia tidak memiliki keterampilan menghadapi remaja yang sedang mengalami lonjakan hormon puber. "Kirana bukan tipe remaja pembangkang, didikan keras keluarga kami sepenuhnya tertanam padanya. Tidak akan sulit untuk kamu mengawasi," celoteh Jendral Dedi sambil memainkan ponselnya. Mengabaikan perawakannya tinggi besar dan gagah seragamnya, pria disamping Dena ini hanyalah seorang ayah yang ingin melindungi putrinya. Dena bisa melihat itu dari tatapan Jendral Dedi yang melembut setiap membicarakan Kirana, putrinya yang lugu dan tak tahu kerasnya dunia. Sebagai salah satu petinggi negara, Jendral Dedi tidak bisa menjamin hidupnya penuh kenyamanan. Meski terlihat baik diluar, tak banyak yang tahu jika teror kerap dikirim padanya. Sebut saja kejadian Minggu lalu. Sebuah paket tanpa nama dikirimkan ke rumahnya. Isinya bukan bom atau senjata api, hanya sebuah foto. Foto keluargan yang berlumuran darah disertai ancaman untuk menghentikan langkahnya atau foto itu akan menjadi kenyataan. Jendral Dedi tidak pernah takut mati, maut itu suatu yang pasti baginya. Ketika memutuskan menjadi abdi negara, Dedi sudah tahu. Kecil kemungkinannya ia bisa mati dengan tenang. Bahkan ia merasa sudah cukup bersyukur jika jenazahnya masih bisa ditemukan nanti, karena bisa jadi ia tak akan sempat menikmati balutan kain kafan. Tapi ia tidak bisa melihat dua wanita dalam hidupnya ikut sengsara, setidaknya ia harus menyiapkan yang terbaik untuk hidup keduanya. "Sudah sampai, Paman," ujar Dena menghentikan lamunan Jendral Dedi. Pria itu turun lalu melangkah mendahului Dena. Matanya mengedarkan pandangan mencari keberadaan keluarganya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang wanita melambaikan tangan lantas berjalan menghampiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN