Malam Pertama 1

1490 Kata
Noah menyambut sisa tamu yang hadir. Ia memasang senyum palsunya yang masih terlihat dingin dan menjabat tangan tamu itu satu per satu. Ia menyambut para pemegang saham, direktur-direktur perusahaan, pengusaha-pengusaha baru, dan tentu saja— keluarga dan teman. "Sekali lagi selamat ya, akhirnya satu dari Young Billionaire ada yang sudah menikah." Teman-teman Noah kembali mengucapkan kata selamat. "Sama-sama." Young Billionaire adalah julukan untuk empat orang Billionaire Muda yang berpengaruh di Indonesia. Empat dari jajaran para kawula muda di bawah 25 tahun terkaya di Indonesia. Yang paling atas dipegang oleh Noah Priatmoko diikuti David Lee, Sam Singh, dan Edo Rahardian. "Pernikahan yang tidak diduga oleh siapa-siapa. Aku yang telah lama menyukai Jihan, malah kau yang menikahinya. Aku iri!" Kata David. "Hei Bung, dari dulu semua juga tahu, Jihan itu hanya milik Noah Priatmoko!" Kata Sam. "Benar, nanti aku traktir assaorted chocolate untuk menghibur luka hatimu. Kau suka itu, kan? Aku melihatmu menghabiskan assorted chocolate dan makanan penutup lainnya sambil mencoba untuk tidak terlihat seperti orang yang patah hati. Astaga, mukamu itu lain kali tolong dikondisikan!" Hibur Edo. "Walau hatiku sakit, tapi aku relakan Jihan bersama Noah. Namun, jika Noah berbuat jahat pada Jihan, aku siap menjadi pelabuhan berikutnya!" David menatap Jihan lalu tersenyum. "Jihan, kutunggu jandamu!" Tambahnya. Dan thuggg, Edo memukul kepala David. Membuat si empunya kesakitan. "Sakit, bodoh!" Rengek David. "Noah tidak akan membiarkan Jihan menjanda! Benar kan, Noah?" Seru Edo. Noah tersenyum. Namun yang lain tahu, itu senyuman menyeringai yang artinya ia tidak main-main dengan pernikahannya, ia pasti sangat 'serius' menikahi Jihan. Astaga, kenapa rasanya menjadi merinding? "Tentu saja. Aku ini akan memberikan 'kasih sayang' yang hakiki pada Jihan." Kata Noah. "Don't tease her!" "Kita lihat saja nanti. Ini akan sangat menarik." Mereka semua langsung cengo mendengar ucapan menyeramkan dari Noah. Mereka berharap jika Jihan akan baik-baik saja. . . . Malam semakin larut hingga akhirnya acara pesta pernikahan antara Noah dan Jihan pun selesai. Semua tamu undangan VVIP menginap di hotel yang sudah Noah persiapkan. Layanan kelas wahid yang khusus Noah persembahkan untuk para sahabatnya itu. Kini, Noah sedang menghampiri Jihan yang asyik mengobrol dengan Elisa. Menjemputnya untuk kembali ke kamar 'pengantin' mereka. "Akhirnya resmi juga. Setelah ini, tinggal malam pertama ya?" Goda Elisa. Jihan merah padam, sedangkan Noah bersikap dingin seperti biasanya. "Berhenti menggoda kami! Kami tidak akan melakukan malam pertama!" Bantah Jihan. Noah mendelik dan menoleh ke arah Jihan. "Ritual penutup dari acara pernikahan kita adalah malam pertama!" "Aku tidak mau!" "Kalau kau tidak mau, aku bisa memaksamu." "Hah?" Jihan menakupkan kedua tangannya di depan d**a. "Yang benar saja!" "Ini sudah benar." Noah menyeringai. Sepasang pengantin baru ini saling adu argumen. Membuat Elisa menyunggingkan senyumannya. Ia selalu berpikir jika Noah adalah pasangan paling cocok untuk Jihan. Mereka sangat manis. Noah juga bisa banyak berekspresi saat bersama dengan Jihan. "Sudah sana ke kamar kalian, keburu ganti hari!" Kata Elisa. "Ini juga mau ke kamar. Nah Jihan is-tri-ku, ayo kita ke kamar!" Kata Noah penuh penekanan. Menyeramkan! Membuat merinding! Tidak ada yang berakhir menyenangkan dari senyuman Noah yang penuh seringai iblis itu. "Sebaiknya kau tidak merencanakan sesuatu!" Kata Jihan. "Aku hanya ingin melakukan malam pertama dengan dirimu." Kata Noah. "Kita tidak akan melakukan malam pertama!" "Ayolah, kita hanya tidur bersama." "Aku tidak mau!" "Kalau tidak mau, kau akan aku paksa." "Noah, jangan bercanda!" "Aku tidak sedang bercanda." "Noah!" Elisa hanya menggelengkan kepalanya melihat Jihan dan Noah yang berlalu meninggalkannya. Dalam hati ia berharap jika Tuhan akan menjaga kedua sahabatnya ini. . . . Kamar Hotel, Kamar Pengantin Jihan dan Noah... "Kau mandilah terlebih dahulu, aku harus mengangkat telepon." Kata Noah. "Iya." Jihan pun masuk ke kamar pengantin, melepaskan hiasan kepala dan gaun pengantin dengan cepatnya. Ia kemudian segera membuka almari, mengambil beberapa baju dan piyama mandi. Kemudian bergegas ke kamar mandi. Jihan mengunci dirinya di dalam kamar mandi hotel dan menolak untuk keluar. Tepatnya ia tidak ingin keluar. Ia tidak ingin menjadi tidak suci lagi karena seorang lelaki yang menyebalkan itu. "Semoga Noah gay, semoga Noah gay!" Mantra-mantra aneh coba Jihan gumamkan beberapa kali. "Aku tak boleh membiarkan dia menyentuhku malam ini! Aku belum siap." Jihan kemudian menghela nafasnya dan menatap wajahnya yang terpantul di kaca kamar mandi. Ia menghapus make-upnya pelan-pelan dan melepas pakaian dalamnya. Lalu ia menyalakan shower dan segera mandi air hangat. Air hangat itu membasahi seluruh badannya. Membuatnya merasa jauh lebih baik. Rasa lelah, letih, dan pegal-pegal itu berkurang. Setelah selesai mandi, ia kemudian memakai pakaian dalam yang sangat tertutup dan piyama dari satin yang menutupi setiap bagian dari tubuhnya. Ia bahkan mengenakan sandal hotel untuk menutupi kakinya dan sarung tangan untuk menutupi tangannya. Apakah ini pakaian Ninja? Apapun akan Jihan lakukan agar tidak membuat Noah bernafsu kepadanya. "Jihan..." Noah mengetuk pintu kamar mandi itu, "mau sampai kapan kau mengurung diri di kamar mandi, hah? Kau mau mati ya?" "Sialan, Noah sudah selesai teleponan.Tidak peduli berapa banyak pakaian yang sudah aku kenakan untuk menutupi diriku, suara Noah dari balik pintu membuatku merasa seperti telanjang lagi. Aku merasa begitu terbuka dan malu untuk tidur di kamar yang sama dengan Noah. Apalagi jika ingat masa lalu... sial, aku tak bisa tenang." Batin Jihan. Noah itu memang suaminya, tapi pernikahan mereka hanya pura-pura bukan karena cinta. Mana bisa ia keluar sekarang, kan? "Ah, aku sudah memutuskannya... Aku akan tidur di kamar mandi malam ini dan Noah pasti tidak akan melakukan apa-apa padaku! Toh pakaian yang aku pakai cukup tebal, aku pun bisa menggunakan handuk hotel dan piyama mandi untuk alas tidur." Gumam Jihan konyol. Jihan dengan asyiknya menggelar handuk mandi. Namun lagi, Noah kembali menyeru. "Jihan, aku harus menggunakan kamar mandinya… mungkin cukup lama." Kata Noah. "Mau apa lama-lama di kamar mandi?" "Aku tak harus mengatakannya, kan?" "Kau harus mengatakannya agar aku bisa tahu." "Apa itu penting?" "Ya, tentu saja itu penting." "Are sure about that?" "Yeah, just tell me what is it!" Jihan tersenyum ketika mendengar Noah mengumpat 's**t'. "I'm going to poop! Are you happy now? Sekarang keluar! Aku harus memakai kamar mandinya!" Jihan kemudian menutup mulutnya agar tawa tidak keluar. Ia hanya bisa menahan tawa membayangkan suaminya itu mencoba untuk tidak buang air besar di celana. "Kau merasa kasihan kepadanya jika aku tidak keluar. Uhh, pasti perutnya mules-mules seperti mendapatkan tendangan salto." Jihan menyeringai. Jihan merasa tidak boleh keluar dari kamar mandi demi melindungi 'kesuciannya' itu. Namun, ada rasa penasaran untuk melihat reaksi Noah yang dingin itu. Bagaimana jika dirinya mengulur sedikit waktu sampai Noah kesal? "JIHAN!" Panggil Noah sangat keras. Jihan mendengar ketukan lagi, kali ini lebih cepat dan lebih kencang dari yang sebelumnya. Namun bukannya merasa kasihan, Jihan malah ingin tertawa. "Mengulur waktu sedikit saja tidak masalah, kan? Sekali-kali ini orang harus diberi pelajaran! Enak saja waktu di altar tadi ia menciumku dengan ciumannya yang intens. Sialan, mana teman-temannya pada suit-suit menggoda lagi." Jihan ingin bermain-main pada Noah sebentar saja. "JIHAN, BUKA PINTUNYA! Kau tidak pingsan, kan? Aku akan dobrak pintunya kalau kau tidak membukanya sekarang juga!" Ancam Noah. Sebelum Jihan dapat membalas ucapan Noah, pintu kamar mandi itu sudah didobrak dan Noah mendapati istrinya sedang duduk di atas 'karpet' handuk yang digelar di kamar mandi? "Kau pikir sedang piknik di pinggir pantai, hah?" Noah yang terlihat kesal langsung mengangkat istrinya itu keluar dari kamar mandi. "Aduh, Noah b******k jangan mengangkatku seenaknya!" Teriak Jihan. Noah kemudian membanting Jihan ke atas ranjang dan segera menindih tubuh Jihan. Ia lalu mulai mendekati wajah istrinya. "Mati aku." Batin Jihan sampai kesulitan menelan ludahnya. Harusnya ia tidak main api dengan Noah. Sudah tahu Noah itu bagaimana, masih nekat juga menggoda Noah. Noah tidak akan mengulitinya hidup-hidup, kan? Tatapan mata Noah yang tadinya dingin mulai melembut, menghangat, dan kemudian tangannya merapikan rambut Jihan yang berantakan. "Rasanya kali ini aku sudah tidak bisa kabur lagi. Noah pasti akan meminta haknya malam ini." Pikir Jihan yang memilih untuk memejamkan matanya, pasrah, dan menunggu Noah untuk memulai aksinya. Memang apa yang hendak dilakukan oleh Noah? Hei, laki-laki tampan menyebalkan ini sedang memajukan bibirnya! Apa Noah sedang berencana untuk menciumnya? "Jihan, aku suamimu sekarang. Akulah yang harus kau turuti apapun ucapanku. Saat aku memintamu untuk keluar dari kamar mandi, maka kau harus segera keluar dari kamar mandi." Kata Noah. Noah menjauh dari tubuh Jihan. Jihan membuka kedua matanya, melihat samar-samar si pemilik tubuh atletis itu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah itu, ia menghela nafas panjang. "Untung dia tidak melakukan apa-apa. Mungkin dia memang gay! Segala ucapannya soal melahirkan keturunan pasti hanyalah bohongan untuk menutupi jati dirinya, kan? Kalau begitu harapanku sudah terkabulkan. Aku tidak harus merasa takut pada Noah saat dia akan melakukan ini itu padaku saat tidur nanti. Akhirnya bisa tidur dengan tenang malam ini... Tapi apakah Noah benar-benar gay ya? Setelah putus dariku, dia sama sekali tidak memiliki kekasih. Yang ada, dia hanya memiliki teman-teman berjenis kelamin laki-laki semua. Semua cewek yang mengajaknya berkencan juga ia tolak... Namun, rasanya ini hanya pemikiranku saja yang konyol. Apakah seorang gay dapat mencium seorang wanita dengan ciuman yang penuh dengan kehangatan? Ya Tuhan, aku malah jadi teringat kembali ciuman darinya..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN