PROLOG
Suasana ingar-bingar di Harley's, pub tempat aku bekerja terdengar memekakkan telinga. Rekan kerjaku Paul berhasil membuat suasana riuh setelah memainkan lagu Sweet Child O'mine dengan petikan gitar listriknya. Kami memang bergantian mengisi pertunjukan musik di pub yang selalu ramai oleh pengunjung ini. Bedanya, aku bernyanyi dengan iringan piano.
Aku melambaikan tangan pada Paul untuk berpamitan, kemudian merangkul Deborah, seorang mahasiswi tingkat awal yang baru kukenal dua minggu ini. Kami berjalan sempoyongan menerobos para pengunjung yang berdesakan. Efek beberapa botol bir yang aku konsumsi bersama Deborah barusan, membuatku pengar.
Kami akhirnya sampai di luar pub. Waktu sudah hampir dini hari, dinginnya terasa menggigit tulang. Deborah merapatkan kerah mantelnya, lalu menyetop taksi yang akan mengantarnya pulang.
"Sampai jumpa, Dev. Jangan lupa telpon aku." Gadis itu mengecup pipiku, kemudian melangkah genit bak selebritis memasuki taksi.
Aku melambaikan tangan sambil melayangkan ciuman jarak jauh pada gadis itu. Damn! Dia sungguh seksi, tubuhnya seakan tanpa cela. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari berkencan dengan seorang mahasiswi. Jiwa mereka yang bebas dan meledak-ledak membuatku merasa muda kembali.
Aku berhenti sejenak di pinggir jalan sambil mengingat-ingat di mana aku memarkir mobilku. Sialan! Aku benar-benar butuh secangkir kopi kental untuk menetralisir rasa mabuk ini.
Setelah meyakini bahwa aku memarkir mobil di depan sebuah penginapan kecil, aku pun melangkah untuk menyeberang. Aku merogoh saku mantel untuk mengambil kunci mobil. Kondisi tubuh yang sedang tidak singkron dengan otak, membuat kunci itu terjatuh saat aku berada di tengah-tengah jalan.
Sambil memaki, aku membungkuk untuk memungut kunci sialan itu. Tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan muncul dari arah kanan. Aku berdiri sambil menutupi mataku yang terasa perih dengan satu tangan, lalu ....
Braakk!
Tubuhku terpental. Sensasi melayang di udara membuat tubuhku serta-merta terasa ringan. Setelah itu ... hanya gelap.
***
Aku terbangun di suatu tempat yang terasa asing. Segala sesuatu yang ada di tempat ini begitu samar, seakan mengambang dan tidak nyata. Aku melihat sekeliling. Hamparan rumput yang anehnya tidak berwarna hijau, tetapi kecokelatan, dan tampak kusam menjadi alas tempat aku tadi berbaring.
Tidak ada sesuatu yang lain selain hamparan rumput tadi sejauh mata memandang. Tidak ada pepohonan, bunga-bungaan, atau hewan sekali pun. Langit juga terlihat suram dan gelap. Tampak kelam seolah mati. Bahkan, tidak ada angin yang bertiup. Aku di mana?
"Hallo, Devon."
Aku celingukan mencari sumber suara yang memanggilku. Tidak ada tampak satu makhluk pun di sekitar situ.
"Hai, aku di sini."
Suara itu terdengar aneh. Halus, lembut, tapi mengeluarkan gema seolah memanggilku dari tempat yang jauh. Aku pun berdiri dan mulai melangkah untuk mencari empunya suara.
"Jangan ke mana-mana. Tetaplah di tempatmu."
Kali ini suara itu terdengar jelas ada di belakangku. Aku segera membalikkan tubuh. Di depanku berdiri seekor makhluk yang membuatku yakin bahwa aku memang sedang bermimpi.
"Misty! Kenapa kau ada di sini?"
Sesaat kemudian, aku menyadari bahwa terasa konyol berbicara dengan seekor kucing. Ya, Misty adalah kucing betina berbulu hitam pekat kepunyaan Sarah, istriku. Aku mengenalinya dari kalung berwarna pink dengan bandul keemasan berbentuk hati yang bertuliskan namanya.
Misty menatapku lekat dengan bola matanya yang kehijauan. Tatapan itu tampak sinis dan mengintimidasi, seakan-akan aku telah melakukan kesalahan besar terhadapnya.
"Kau sedang sekarat, Dev."
"Apa maksudmu?"
"Kau telah mengalami kecelakaan parah. Tubuhmu sekarang sedang dibawa ke rumah sakit. Sebentar lagi paramedis akan menemukan identitasmu dan menelepon Sarah."
Ah, sungguh mimpi yang konyol! Aku memang sering bermimpi di kala tidur. Kebanyakan bermimpi m***m, bahkan mimpi yang kadang sulit kuingat kembali. Namun, baru kali ini aku bermimpi bersama hewan yang bahkan tidak aku sukai.
"Ini bukan mimpi, Dev." Misty seolah bisa membaca pikiranku. Ia menggoyangkan ekornya yang panjang dan berbulu megar, lalu duduk dengan bertumpu pada kaki belakangnya. "Ingat-ingatlah kembali kejadian apa yang menimpamu sebelum berada di sini."
Aku terdiam sambil berpikir keras. Saat memejamkan mata, tiba-tiba aku mendapatkan kilas balik dari kejadian saat aku baru keluar dari Harley's. Semuanya berputar begitu cepat, bertubi-tubi menghantam kesadaranku. Deborah. Taksi. Kunci. Lampu mobil, lalu ....
Oh, tidak! Apa sekarang aku sedang berada di lobi neraka? Apa aku benar-benar akan mati? Bagaimana mungkin!
"Jelaskan padaku kucing kecil, sekarang aku ada di mana? Kenapa aku bisa berada di sini dan kenapa ... kenapa kau juga ada di sini?"
Misty hanya diam, lalu dengan gerakan anggun mulai menjilati satu kaki depannya. Kucing k*****t ini sepertinya sengaja mengulur-ngulur waktu.
"Demi Tuhan, Misty! Jelaskan sekarang juga!"
Misty menghentikan kegiatannya, menatapku sambil tersenyum. Tersenyum? Kucing mana yang bisa tersenyum? Sungguh konyol! Bahkan ia tidak menggerakkan mulutnya ketika berbicara.
"Tenang, Dev. Belum saatnya kau mati, belum sekarang. Setidaknya sampai kau melakukan sesuatu yang bisa mencegah kematianmu."
Perkataan kucing ini sungguh tidak aku mengerti. Siapa dia? Apa dia jelmaan Malaikat Maut? Kukira Malaikat Maut harusnya hadir dalam sosok yang lebih menyeramkan. Bukan berbentuk kucing betina berbulu hitam yang menggelikan.
"Kau harus menebus kesalahanmu pada Sarah. Kau tahu, Dev? Kau adalah laki-laki b******k! Sarah harusnya mendapatkan lelaki yang lebih baik darimu. Namun, dia tulus mencintaimu.
Kau harus membuktikan ketulusan yang setara dengan ketulusan istrimu. Kau hanya punya waktu 30 hari, Dev. Kau harus mencari sendiri bagaimana caranya. Ingat! Hanya 30 hari. Lewat dari itu, kau akan benar-benar kehilangan jiwamu."
Apa yang dia bicarakan? Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan? Ketulusan yang seperti apa? Oh, God! Kuharap ini benar-benar hanya mimpi, bahkan jika ini mimpi, rasanya terlalu berat untuk kutanggung.
"Aku akan meminjamkan tubuhku yang cantik dan berharga ini untukmu. Tolong dirawat baik-baik. Aku terbiasa mandi dengan teratur. Ingat, jangan terlalu banyak makan, aku tidak suka menjadi gendut. Aku juga suka berjemur di matahari pagi saat musim panas seperti sekarang ini. Jauhi pekarangan Mr. Red, pria tua itu membenciku."
"Apa yang kau bicarakan kucing sinting! Kau membuatku gila!"
"Sopanlah sedikit, Dev. Tunjukkan rasa terima kasihmu." Misty memicingkan mata dengan angkuh seolah semua tindakannya telah berhasil menyelamatkan dunia.
Aku berjalan mondar-mandir sambil meremas rambut dengan panik. Tolonglah, jika ini mimpi, akhiri dengan segera, dan jangan berlama-lama. Aku membayangkan akan segera terbangun di atas ranjangku yang empuk dengan wewangian lemon pengharum ruangan.
"Sepertinya urusanku denganmu sudah selesai. Sampai jumpa lagi paling lambat 30 hari mendatang. Kuharap kau bisa hidup kembali sebelum itu."
Kucing betina itu melenggang pergi dengan gayanya yang menyebalkan. Aku berteriak memanggilnya. Namun, ia terus melangkah tanpa mengacuhkanku.
"Misty! Kembali kau kucing hitam gosong!" Aku berlari berusaha mengejarnya. Ketakutan ditinggal sendirian di tempat aneh ini menjadi alasan terbesarku melakukan tindakan bodoh itu.
Aku sontak berhenti ketika menyadari rerumputan yang tiba-tiba bergoyang dengan liar. Saat mengamati kembali ke arah di mana Misty pergi, kucing itu sudah lenyap. Mendadak, getaran keras serupa gempa membuatku membeku ketakutan. Tanah beralaskan rumput di depanku seketika terbelah.
Getaran yang makin kuat membuatku kehilangan keseimbangan sebelum sempat berlari menyelamatkan diri. Tubuhku limbung dan terjatuh tanpa perlawanan ke dalam rengkahan tanah yang terbuka lebar.
Demi Tuhan! Apalagi ini!