Seakan bisa membaca pikiranku, Sarah langsung menatap tajam ke arahku. "Sudah waktunya kau kembali memakan makanan khusus kucing, Misty. Kita hentikan kebiasaan tidak sehatmu kemarin itu." Ia mengangsurkan mangkok tepat di hadapanku.
"Miaww miaww miaww!" Tidak! Aku tidak sudi! Lebih baik aku mati kelaparan!
Mozzy segera mendatangi mangkoknya dan makan dengan lahap. Aku hanya mengamati dengan perasaan jijik.
"Jadi ... ceritakan bagaimana kisah konyolmu itu, Sobat. Aku ingin mendengarnya." Ia berkata tanpa mengangkat wajahnya dari mangkok.
Sesaat aku ragu untuk bercerita. Ahh, masa bodoh! Aku butuh seseorang atau sesekucing untuk mendengarkan permasalahanku. Selama ini aku tidak ada tempat untuk berbagi. Semua kutanggung sendiri hingga terkadang dadaku terasa sesak.
Aku pun mulai bercerita dari awal kejadian. Di pertengahan cerita, Mozzy sudah selesai makan. Ia kemudian duduk meringkuk sambil menjilati cakarnya.
"Dan ... di sinilah aku sekarang berada. Terperangkap di sebuah kandang bersama seekor kucing asing sepertimu dan dipaksa untuk makan makanan yang menjijikkan." Aku menyudahi ceritaku.
Mozzy meregangkan tubuhnya. "Cerita yang hebat." Ia bergumam.
Ah, sudahlah. Percuma bercerita dengan seekor hewan yang mungkin tidak mempunyai empati. Aku memejamkan mata, mencoba untuk kembali tidur walau perutku terasa lapar.
"Jadi, kau sudah menemukan cara untuk kembali ke tubuhmu?" Ucapan Mozzy membuatku sontak membuka mata. Ia percaya?
"Entahlah. Sampai sekarang aku tidak mempunyai ide apa pun."
"Ketulusan. Hmm, jadi selama ini kau memang kurang tulus mencintai istrimu? Padahal dia kelihatannya wanita yang baik. Yahh, walaupun tidak terlalu cantik." Mozzy berkata terus terang.
"Aku tulus mencintainya. Jika aku membayangkan mesti hidup tanpanya, dadaku terasa sesak. Tapi aku tidak mengerti bagaimana cara untuk membuktikannya."
Mozzy duduk meringkuk. Kedua kaki depannya saling bertautan. Ia kelihatan sedang berpikir keras. "Memang rumit. Entahlah, aku hanya seekor kucing. Kisah percintaan hewan seperti kami biasanya tidak serumit itu."
Aku mengangguk perlahan. "Aku mengerti, tapi setidaknya sekarang aku punya teman untuk bercerita. Terima kasih kau mau mempercayai aku, Sobat."
Mozzy mengangguk lalu memicingkan mata. Sesaat aku kira dia sudah tertidur, tapi kemudian aku mendengar ia kembali bertanya.
"Bagaimana jika sampai hari terakhir kau masih belum menemukan cara? Apa kau akan mati sia-sia begitu saja?"
"Entahlah. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku masih punya waktu. Mungkin nanti aku akan menemukan caranya."
Aku melihat Helen dan Sarah masuk ke dapur. Mereka menenteng beberapa bungkusan. Oh, sepertinya mereka habis pergi berbelanja. Keduanya mengeluarkan belanjaan mereka dan bersiap untuk memasak.
"Aku akan lebih cepat ke rumah sakit hari ini, Mom. Devon akan menjalani test, aku harus mendampinginya." Sarah berkata sambil mengupas wortel.
"Kau ingin aku menemanimu, Sayang?" Helen menatap putrinya dengan penuh kasih.
"Tidak perlu, Mom. Toh, hasilnya tidak akan langsung keluar. Perlu beberapa hari untuk mengetahui hasil test itu."
"Doakan yang terbaik untuk suamimu. Semoga hasilnya baik-baik saja."
"Entahlah, Mom. Aku khawatir. Baru beberapa hari yang lalu aku melihat Dev menggerakkan jarinya. Tapi sekarang aku jadi pesimis karena dokter sepertinya mencium sesuatu yang tidak beres."
"Tetap optimis, Sarah. Pikiran positif akan lebih menguatkan dibandingkan segala pemikiran buruk. Kau harus berusaha untuk itu." Helen menasihati dengan bijak.
Sarah mengangguk. Aku bisa melihat kekhawatiran yang sangat jelas di wajahnya. Matanya yang berwarna biru pucat itu tampak berkedip-kedip dengan gelisah.
"Sepertinya mertuamu orang yang baik."
Aku menoleh. Mozzy ternyata juga menyimak pembicaraan antara Helen dan Sarah. Padahal kulihat matanya masih terpejam.
"Helen memang baik, tapi Ben sangat membenciku."
"Tidak bisa disalahkan jika kelakuanmu seperti itu."
Aku hanya terdiam dan menyetujui ucapan kucing putih itu. Ben tidak salah, memang aku yang belum bisa menjadi menantu idaman dan menjaga putrinya dengan baik.
Ben menerobos masuk ke dapur. Ia segera mendatangi kandang dan menatap aku dan Mozzy dengan mata berbinar.
"Apa mereka sudah melakukan sesuatu?" Ia berkata penuh harap.
Sarah dan Helen tertawa melihat tingkahnya. "Kau seperti sedang menanti kehadiran seorang cucu, Ben." Helen menukas.
Ben mengangguk senang. "Yahh, sejujurnya aku memang merindukan cucu."
Aku melihat mendung menggelayut di wajah Sarah. Istriku itu terlihat seperti merasa bersalah. Ia kemudian menunduk dan kembali menyibukkan diri. Maafkan aku, Sarah ....
Helen sepertinya menyadari perubahan wajah putrinya. Mungkin ia pun menyesal sudah melontarkan ucapan seperti tadi. Ia kemudian berusaha memperbaiki situasi.
"Mereka tidak akan melakukan apa-apa selagi ruangan ini masih ramai, Ben. Tunggu saja nanti malam, mungkin mereka akan berbuat sesuatu."
Ck! Aku mendecak kesal. Sampai kapan aku akan mendengar obrolan seperti ini. Benar-benar memuakkan!
Setelah puas mengamati kami berdua, Ben membalikkan tubuhnya. "Sarah, hari ini kau mau diantar jam berapa?"
Sarah mengangkat wajahnya. "Lebih cepat dari biasanya, Dad. Mungkin setelah makan siang. Hari ini Dev akan menjalani beberapa test."
Ben mengangguk tanpa bertanya lagi. Lelaki itu kemudian menuju ruang tengah dan menghidupkan televisi.
Aku melihat Helen menghampiri Sarah dan membisikkan sesuatu padanya. Sarah hanya mengangguk perlahan. Mungkin dugaanku benar, bahwa Sarah pernah menceritakan pada ibunya tentang keinginanku agar ia menunda kehamilan.
Sarah, andaikan aku pulih dan kembali ke tubuhku semula, kita akan membuat banyak anak. Aku berjanji padamu.
Aku berjanji akan menjadi ayah dan suami yang lebih baik. Aku akan menutup mataku tehadap gadis-gadis di luar sana dan mencoba untuk setia. Bahkan mungkin aku akan mencoba mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan untuk masa depan keluarga kita.
Aku terus meneriakkan janji-janji itu dalam hati hingga akhirnya tanpa sadar aku tertidur pulas.
Aku terbangun oleh suara Mozzy. Ia terlihat mengeong beberapa kali sambil memukul-mukul jeruji kandang.
"Miaww miaww." Biarkan aku keluar!
Sepertinya kucing itu bosan berada di kandang itu hampir seharian. Aku sebenarnya juga merasakan hal yang sama, ditambah lagi rasa lapar yang tak tertahankan.
Aku akhirnya memutuskan untuk membantu kucing itu membuat kehebohan. Tidak terlihat seorang pun ada di sekitar situ. Mungkin Ben dan Sarah sudah berangkat. Jadi, hanya Helen yang bisa membebaskan kami dari penjara kecil ini.
Helen tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya. Wajahnya terlihat kusut, mungkin ia sedang tidur siang.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut?" Ia mengamati isi kandang. "Misty, kenapa makananmu masih utuh? Dasar kucing pemilih!"
Sambil terus mengomel wanita itu kemudian membuka pintu kandang. Mozzy dengan lincah langsung melompat keluar. Aku menyusul di belakangnya.
Mozzy memeriksa setiap sudut rumah, sementara aku tetap di dapur sambil terus mengeong kepada Helen agar ia memberikan aku makanan.
Helen lalu menuangkan sesuatu dari dalam panci yang masih ada di atas kompor ke dalam mangkok. Ia lalu meletakkan mangkok itu di hadapanku.
Aku mengendus-endus. Baunya sangat lezat. Tanpa membuang waktu aku segera menyantap makanan berupa potongan daging kari yang berkuah kental.
"Melihat dari pilihan makananmu, aku makin yakin kalau kau memang bukan seekor kucing." Suara Mozzy tiba-tiba terdengar di dekatku. Sepertinya ia sudah selesai menjelajahi seisi rumah.
Betul, Sobat. Aku hanya seorang manusia yang mendapatkan kutukan atas ulahku sendiri ....