Raphael langsung terhenyak mendengarnya. Kekasihnya memang selalu seperti itu. Akan tetapi, Raphael tak bisa berbuat apapun selain pasrah saja.
"Jika itu yang kau inginkan, aku akan menemaninya," ujar Raphael.
Elma langsung mengangguk saja. Ia tersenyum manis dan kembali memeluk sang kekasih. Berbeda halnya dengan Vera yang malah bergeming di tempat. Tubuhnya begitu luruh mendengar kalimat itu.
Harusnya, Tuan Raphael tak usah menemaninya esok hari. Karena sesuatu hal pasti akan terjadi. Apalagi, perkataan Tuan Dante juga begitu mencurigai tadi.
Dengan cepat Vera mendekati mereka. "Jangan ... lebih baik esok aku dan Elma saja yang datang."
Raphael menatapnya dengan dahinya yang berkerut kebingungan. Sungguh, kalimat Vera cukup janggal untuk didengarnya.
"Kenapa saya tidak boleh ikut?"
Vera langsung diam. Bingung harus memulai penjelasannya bagaimana. Apalagi ia telah menyetujui kalimat Tuan Dante tanpa pikir panjang. Padahal, persahabatan mereka bisa terancam.
"Karena ...." Vera memejamkan matanya. Tak bisa mengatakan apapun. Mulutnya terasa kelu, apalagi jika mengingat perkataan Tuan Dante.
"Kau menyetujui ini, maka kau harus datang dengan Raphael juga Elma esok hari. Sisanya saya yang akan mengurus agar pertunangan mereka batal. Jika kau tak melakukan itu, aku akan membuat Ibumu mati hari itu juga!" katanya dengan seulas senyuman yang terlihat begitu menakutkan.
Vera menghela napas panjang. Kepalanya terasa pening ketika mengingat perkataan yang terdengar menyakitkan ditelinganya.
"Vera ... kenapa?!" sentak Raphael.
Elma langsung memegang tangannya kuat. Ia takut jika Raphael kehilangan kendali atas emosi yang selama ini ia punya.
"Sayang, mungkin Vera hanya ingin berdua saja denganku. Jika ada kamu, pasti Vera merasakan kecanggungan diantara kita." Elma buru-buru mengatakannya, berusaha menenangkan sang kekasih.
Raphael mendegus. "Kau terlalu percaya dengannya. Sahabatmu bisa berpotensi menjadikan ancaman buat kamu. Seseorang tak bisa dipercaya selain dirimu sendiri, Elma. Jadi, jangan menyuruhku untuk tidak ikut. Karena aku yang memutuskannya sendiri. Tidak ada alasan apapun!"
Vera hanya berdiam diri. Ia menundukkan kepalanya berat. Apa yang telah diucapkan oleh Raphael ada benarnya.
***
Awan hitam mulai menerangi langit hari ini. Bahkan, cahaya bulan terlihat begitu malu-malu untuk muncul. Ia seolah enggan menerangi kota Veridia malam ini.
Di tengah riuhnya kota ada dua insan yang tengah berbahagia. Keduanya seolah melupakan kejadian menjengkelkan tadi siang.
"Sayang, kau tahu kenapa bulan malam ini terlihat malu untuk memperlihatkan cahayanya?" tanya Raphael begitu saja.
Sontak Elma langsung mengalihkan pandangannya. Ia melirik, menatap ke arah langit dengan seksama.
"Mungkin karena awan hitam menutupinya," seloroh Elma.
Raphael tertawa kecil. Kemudian menggelengkan kepala. Matanya begitu lekat, memperhatikan Elma yang terlihat sangat cantik.
"Bukan, Sayang."
Elma menoleh, begitu bingung. Alisnya berkerut dengan tatapan lekat pada sang kekasih, seolah menuntun penjelasan.
"Dia tidak mau memperlihatkan cahayanya karena takut kalah saing dengan dirimu. Kamu begitu sangat cantik sampai-sampai bulan-pun ikut malu untuk bersanding denganmu," lanjut Raphael.
Detak jantung Elma langsung memburu disusul dengan pipi yang mulai merona kemerahan. Kekasihnya begitu pandai memainkan gombalan maut untuknya. Akan tetapi, Elma sangat menyukai itu.
"Ih ... kamu terlalu berlebihan!" sentak Elma seraya memukul lengannya pelan.
Raphael tertawa. Baginya Elma terlihat lebih lucu ketika salah tingkah seperti ini. Raphael jadi gemas sendiri dengan gadisnya.
Tanpa sadar, tangan Raphael mendekat ke arah hidungnya. Ia menoel dan mengusap pipi Elma yang memerah.
"Kamu sangat cantik dan aku mencintaimu, selamanya ...," ucap Raphael.
"Oh, Wow! Sepertinya aku mendapatkan tontonan gratis malam ini," celetuk seseorang.
Mereka menoleh ke arah sumber suara. Begitu mengetahui siapa tamu yang tak diundang itu, wajah Raphael berubah menjadi datar dengan tatapan yang sinis. Kebahagian malam ini langsung sirna begitu melihat kehadirannya yang menjengkelkan.
Tanpa di suruh, Tuan Dante langsung duduk di sebelah Elma membuat tangan Raphael terkepal secara sempurna.
"Aku boleh ikut bergabung, bukan?" katanya sambil terkekeh pelan.
"Pergilah! Kehadiranmu tak diundang disini!" cetus Raphael seraya bangkit dari tempat duduknya. Ia menarik kerah baju Dante, mendorongnya erat hingga membuat pria itu terhuyung.
"Santailah, aku hanya ingin gabung dengan kalian saja. Apakah itu tak boleh?"
"Jelas! Kehadiranmu disini hanya benalu yang menumpang kebahagian orang lain! Apakah kau tak bisa melihat kebahagian orang lain?" cetus Raphael dengan suara yang begitu menggelegar.
Akan tetapi, pengunjung restoran tak ada yang menoleh. Mereka semua terlihat menunduk dan menyantap makanannya seolah mengabaikan keributan di dekatnya.
"Astaga, kau pintar sekali." Tangannya terulur, berusaha untuk menepuk kepala Raphael. Namun, ia tak akan membiarkannya dengan kasar, Raphael menepisnya.
Suasana semakin panas hingga Elma berdiri dan menatap ke arah Dante dengan tajam. Pria itu selalu saja datang, menganggu waktu kebahagiannya. Apakah dia seorang penguntit tingkat tinggi hingga dimana-pun mereka berada selalu saja datang?
"Pergilah! Kami malas meladenimu Tuan Dante terhormat!" kata Elma sambil menekan tiap kalimatnya.
Dante tersenyum sinis. Keberanian Elma-lah yang membuatnya sampai seperti ini. Wanita itu cukup berbeda, tak bisa dijelaskan oleh kata. Akan tetapi, semenjak bertemu dengannya rasa-rasanya Dante ingin memilikinya, sepenuhnya.
"Jangan mengatakan hal itu, Elma! Aku sungguh tak menyukainya," ucap Dante pelan, namun mampu membuat Raphael berjaga-jaga. "Bukankah lebih baik kau memanggilku dengan kalimat, Sayang? Oh atau mungkin, suamiku."
"Jangan pernah bermimpi!" tekan Elma kembali.
Berhadapan dengan pria itu sungguh sangat memuakkan. Ia tak mungkin mengalah dan pergi dari sini. Jadi, lebih baik Elma dan Raphael yang mengalah. Daripada berkepanjangan.
Mengetahui mereka ingin pergi, Dante buru-buru mencegahnya. Matanya yang tajam itu kini bertatapan dengan mata Elma yang cukup teduh.
"Kita akan makan malam bersama! Jadi, esok kalian tak perlu datang, bagaimana?" tawar Dante.
"Astaga! Urusan kita hanyalah esok, bukanlah sekarang. Lagipula, esok makan malamnya berempat, bersama kekasihmu juga!" sahut Raphael cepat.
"Aku akan membatalkannya!"
Kening Elma mengkerut, kalimatnya cukup ambigu hingga membuatnya bertanya-tanya. "Kenapa?"
"Karena esok akan ada rapat dan Ibu-nya juga akan di operasi, bukankah kau sahabatnya? Mengapa tak mengetahui?"
"Dia tak mengatakan apapun!" seloroh Elma.
Vera cukup aneh, pikirnya. Bukankah ia belum memiliki uang sepenuhnya, tapi mengapa esok operasi? Elma bukan tak senang mendengar kabar baik itu, tapi hatinya seperti mengatakan ada sesuatu yang janggal.
"Jadi, bagaimana? Bukankah lebih baik kita mengobrol sekarang saja?"
Elma menoleh. Ia ingin mengiyakan, tapi Raphael seperti enggan untuk menyetujui kalimat itu. Namun, disisi lain esok juga akan menjadi hari yang panjang karena ibu Vera akan operasi.
Keheningan terjadi sejenak. Raphael yang tahu apa pikiran kekasihnya, merasa berat. Malam ini adalah malam mereka untuk menghabiskan waktu bersama, tapi Dante selalu saja mengusiknnya. Sialan!
"Baiklah!" seloroh Raphael akhirnya.
Entah apa yang terjadi, sepertinya keputusan ini akan membuat mereka terjebak sendiri.