Raphael Xilio Xavier, ia adalah kekasih Elma. Seorang CEO di perusahaan ternama, selain perusahaan milik marga Alveric. Namun, sesuai dengan sejarahnya. Kedua marga Xavier dan Alveric itu tak pernah akur. Mereka selalu saja bermusuhan dan menganggap bahwa mereka bersaing.
Bahkan, di dunia politik saja. Mereka berdua berebut kekuasaan hingga membuat kota Veridia ini berkembang maju, tapi sayangnya, maraknya kasus kematian semakin meningkat setiap tahunnya hingga membuat pemerintah kota lain cukup ketakutan.
Dan kini, kedua Tuan muda dari masing-masing marga itu saling berhadapan. Menatap tajam dan penuh amarah.
"Sepertinya, kau datang karena takut pacarmu itu tertarik denganku, bukan?" cetus Dante dengan suara yang mengunus tajam.
Raphael tertawa sinis. "Tidak! Saya datang justru karena saya takut, Anda lah yang tertarik dengan wanita saya."
Mendengar kalimat itu, Dante melangkah maju. Hingga tak ada jarak lagi yang tercipta. Lalu, tepat ditelinga Raphael ia berkata, "Saya memang sudah tertarik dengannya, Tuan muda Xavier!"
Raphael melotot tajam. Ia mengepalkan tangannya erat. Lantas dengan gerakan cepat, Raphael langsung menarik kerah baju pria itu.
"Sialan! Tarik ucapan Anda atau kau akan mendapatkan kehancuran yang tiada tandingnya di Veridia!" tukas Raphael tak main-main. "Jika seinci-pun kau menyentuh wanita ku, maka saya pastikan kau tak akan pernah melihat dunia ini!"
"Santai, Tuan Raphael. Lagipula, perasaan tak ada yang bisa mengendalikannya, bukan? Jadi, tak ada masalahnya jika saya mengambilnya darimu! Toh, dia juga belum menjadi istrimu."
"Akan aku percepat acara pernikahanku dengan Elma. Dan kau tak akan bisa mengambilnya dariku!"
"Jika kau lupa, saya adalah Tuan Muda Alveric. Bukankah kau juga tahu bahwa ayah dan kakek saya adalah pimpinan tertinggi di kota Veridia? Jadi, harusnya kau sadar diri. Apa yang saya inginkan, harus terpenuhi meski kau harus menjadi mayat sekalipun!" Senyum Dante begitu sumringah hingga membuat Raphael lagi-lagi mengepalkan tangannya kuat.
Sontak Elma yang sedang menjauh karena perintah kekasihnya, menatap mereka heran. Apalagi sahabatnya, sejak keluar ruangan ibu, Vera menekuk wajahnya. Begitu masam bahkan tak terlihat bahagia. Ia menerka, Vera pasti tengah diancam.
"Jangan sombong, kalau kau lupa. Kakekku pangkatnya hampir setara dengan tua bangka di keluargamu!" ujar Raphael begitu bahagia.
Dante langsung tersulut mendengarnya. Ia tak terima hingga langsung memukul pipi pria dihadapnya sangat keras.
Bug!
"Jaga bicara Anda!"
Raphael tak gentar. Ia malah tertawa sinis dan berdecih bahkan hampir meludahinya. Namun, sebelum itu benar-benar terjadi, Dante gegas memukulnya kembali hingga membuat Elma membelak mata dan langsung berlari ke arahnya.
"Sialan!" cetus Dante. "Pangkat rendah keluargamu itu tak seberapa!"
"Oh, mengapa Anda begitu marah? Takut posisinya benar-benar direbut?"
Dante benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya hingga pukulan telak ingin diberikan. Namun sebelum itu benar-benar terjadi, Elma lebih dulu mencegahnya.
"Minggir!" tintah Dante. Pria itu tak bisa memukulnya.
"Apa? Pukul saja aku? Jangan pukul kekasihku!" seloroh Elma. Matanya melotot tajam, seolah tak takut dengan pria itu. "Kamu tidak berani memukulku? Maka pergilah! Jangan mencari ulah dengan pacarku atau aku yang lebih dulu menendang bokongmu!"
Dante diam. Namun, kini ia malah yang mengepalkan tangan cukup kuat. Sungguh, pemandangan yang dilihat begitu amat menjijikan hingga membuat matanya berkobar penuh amarah.
Ia ingin memukulnya. Tapi, harus menahan agar citranya tak buruk. Lantas Dante mendegus, ia melirik Raphael yang malah tersenyum sinis, seolah memberitahukan bahwa pria itu tak bisa berbuat apa-apa.
"Sial!" umpat Dante tepat di hadapan Elma. Dengan gerakan terampil, ia mencengkeram keras pipi Elma hingga membuat Raphael yang terjatuh di lantai buru-buru bangun.
"Hanya karena kau seorang wanita, bukan berarti aku tak bisa memukulmu, Elma! Jadi, sekarang berbahagialah karena aku sangat malas untuk menyakitimu. Sebagai gantinya, sahabatmu ...." Dante menghentikan kalimatnya. Ia menoleh pada Vera yang sejak tadi bergeming di tempat. Gegas Elma mengikuti arah pandangannya. "Aku akan membuat sahabatmu—"
"Tidak!" Elma langsung memotong kalimatnya. Sahabatnya tak salah. "Jangan berani-berani menyentuhnya!"
"Oh, baiklah. Kalau begitu, esok kau harus datang bersama Vera di Caferia dekat dengan rumah sakit ini. Jika tidak kau akan melihat Vera menderita dan menanggung kesalahanmu dan pria rendahan itu."
"Sial!" Raphael langsung melerai, berusaha melepaskan cengkaram di pipi kekasihnya itu. "Jangan terprovokasi oleh perkataannya, Sayang. Kau dan Vera jangan datang."
Dante tertawa. Tanpa mengucapkan apapun, ia pergi begitu saja bersama dua asisten pribadi yang selalu menjaganya.
Tak ada yang bisa dikatakan oleh Elma. Ia hanya diam, sibuk dengan pikirannya bahkan kalimat yang kini telah diucapkan oleh kekasihnya tak terdengar jelas.
"Sayang. Hei ... lihat aku." Raphael berusaha keras menyadarkan kekasihnya yang termenung, menatap ke arah Vera dengan seksama.
Ia tahu betul. Elma menyayangi sahabatnya melebihi apapun. Karena mereka telah lama bersama. Bahkan, jika Vera meminta Elma untuk memutuskan dirinya. Mungkin Elma akan melakukan itu demi kebahagian sahabatnya.
"Sayang, sadarlah ...!" pekik Raphael kembali hingga mengguncang bahu kekasihnya.
Elma terkesiap. Ia menatap sang kekasih dengan tatapan cukup sendu. Hatinya sesak, ingin menangis tapi ia tak mau Raphael mengetahui sisi lemahnya.
"Aku harus gimana?" tanya Elma pelan seraya menundukkan kepalanya.
Raphael langsung memeluknya erat, membawa dekapan hangat untuk menenangkan kepalanya yang mungkin tengah riuh. "Jangan dengarkan perkataan Dante. Dia pria gila, dan kamu tak perlu datang."
"Lalu, bagaimana dengan Vera? Aku tak akan mungkin seegois itu untuk membiarkannya menanggung kesalahan yang bahkan tidak ia lakukan sama sekali," seloroh Elma.
"Aku tahu! Tapi, kau bisa menyuruh Vera untuk tidak datang. Jika kamu akan tetap datang, sama saja kau menyerahkan hidupmu dengan Dante."
"Vera bekerja di perusahaannya. Kita bisa saja tak menemuinya, tapi kau tahu pria gila itu akan melakukan suatu hal untuk membuat Vera menderita. Dan sebagai sahabat, aku tak akan mungkin membiarkan itu."
Raphael menghela napas panjang. Ia melepaskan pelukan, menatap kekasihnya dengan tatapan kecewa. Elma terlalu memikirkan orang lain, ia melupakan dirinya sendiri yang bisa saja akan menjadi target Dante.
Apalagi, Dante mengatakan telah tertarik dengannya. Mungkin pria itu akan membuat suatu cara untuk mendapatkan Elma sepenuhnya. Dan jika tak berhasil, ia akan mengambil Elma secara paksa darinya, meski telah diancam oleh Raphael sendiri.
"Kau terlalu memikirkan orang lain!" cetus Raphael dengan suara lembutnya.
Raphael sangat marah, tapi untuk membentak bukanlah suatu hal yang harus dilakukan. Karena amarah tak akan membuat semuanya seperti semula.
"Pikirkan dirimu sendiri, Elma! Jangan terlalu memikirkan orang lain. Kau terlalu egois dengan dirimu sendiri," lanjut Raphael.
Elma mencengkeram ujung bajunya kuat. "Aku hanya takut kehilangan seseorang yang sangat aku sayangi, lagi."
"Lalu, kau ingin apa? Datang menemaninya?"
"Iyah!" Elma mengatakannya dengan tekad yang kuat. "Aku akan datang bersama Vera."