Syarat

1002 Kata
Lorong rumah sakit terasa cukup sunyi. Padahal, waktu masih menunjukkan pukul 2 siang. Jam kerja-pun belum sepenuhnya selesai. Namun, sejak masuk dari gerbang sana, semua orang tak terlihat. Para dokter, suster, dan kunjungan untuk pasien yang di rawat seperti tak ada hingga membuat Elma dan Vera menjadi saling pandang. "Ini kenapa semuanya terasa sunyi?" tanya Elma bingung. Vera menggelengkan kepala. "Mungkin, jadwal makan jam siang." "Aneh. Jadwal makan siang? Kok kesannya malah kek apa gitu," cetus Elma. Tak mau terlalu dipikirkan, mereka berdua tetap melangkah. Mendekati ruang rawat intensif sang ibu. Hingga sampailah disana, Tuan Dante telah datang dengan dua orang asisten di kanan juga kiri. Ia menatap ke arah Vera dengan tatapan amat tajam. Namun, ketika menatap ke arah Elma. Ia malah tersenyum smrik. Elma menatapnya tajam. Keberadaan pria itu benar-benar mengundang kekesalan yang hinggap di hatinya. Namun, ia tetap berada disini untuk menemani sang sahabat. "Lama sekali!" cetus Tuan Dante. "Tidak menghargai waktu!" "Eh, Tuan sesuka hati! Kau pikir kita datang kemari ini tak menunggu bus lebih dulu? Emangnya kau yang datang dengan mobil pribadi dan dikawal oleh polisi setempat!" jawab Elma menggebu-gebu. Vera langsung memegang tangannya kuat, bermaksud untuk menyandarkan agar tak terlalu jauh memarahinya. Mereka berdua harus tahu diri, jika di depannya adalah sosok pria yang amat di takuti. "Jika tahu seperti itu, harusnya kalian berdua lebih dulu yang datang. Bukan malah saya," jawab Tuan Dante. Pria itu melangkah maju, membuat Vera gegas memundurkan langkah. Sementara, Elma hanya diam. Enggan untuk memundurkan langkahnya. Toh, Elma yakin, ia tak salah. "Kau mengabari—" "Maaf, kami kejebak macet. Lain kali, kami tak akan melakukan ini, Tuan," jawab Vera lebih dulu. Elma menggeram. Menatap ke arah Vera dengan tatapan menuntun penjelasan. "Saya tidak bisa berlama-lama. Vera, Anda ikut saya ke ruangan Ibumu. Dan kamu ...." Tuan Dante menatap Elma. "Tetap berada disini. Marcus dan Marka akan menjaga Anda!" "Dih, kamu pikir aku apaan di jaga-jaga? Lagian, kalau Vera ke dalam. Aku juga harus ikutlah!" sahut Elma tak terima. "Saya hanya ada urusan dengan Vera, bukan kamu!" tukasnya. "Dih, menjengkelkan sekali!" Vera gegas maju. Ia melirik ke arah Elma seraya menggelengkan kepala. Lalu, Vera membuat seulas senyum manis. Setelah melakukan itu, Vera menatap ke arah Tuan Dante dengan tatapan yang begitu takut. Aura Tuan Dante benar-benar dominan seram. Bahkan, bulu kuduknya begitu meremang ketika mata mereka saling menatap. "Baik, Tuan. Mari," ujar Vera akhirnya. Ia mengalah, tak mau berdebat di rumah sakit dan malah mengundang masalah lagi. Sebelum Vera benar-benar pergi. Ia menggengam tangan Elma sambil mengatakan, "Jangan berbuat ulah. Tetap disini saja." Elma mengangguk meski terlihat begitu terpaksa. Kemudian, ia gegas duduk di kursi dan menatap kepergian Tuan Dante bersama Vera yang masuk ke dalam ruangan ibu Vera. Rasanya begitu menjengkelkan disini. Apalagi ditemani dua manusia yang terus menatapnya seperti mengintimidasi. Elma bukanlah gadis yang membuat onar, apalagi membuat keributan. Jika tak ada api lebih dulu. Namun, mereka seolah-olah mencurigainya. "Jangan natap aku kayak gitu!" tukas Elma risih. "Nanti kalian malah suka, repot jadinya." Marcus mendengus. Gadis yang berada di hadapannya begitu konyol. "Percaya diri sekali. Kami disini hanya menjagamu, agar tak membuat onar!" "Aku bukan anak pembuat onar! Tuan kalian yang harusnya di temani, takut malah mengancam sahabatku!" "Tuan kami tidak sejahat itu!" sahut Marka. "Alah, pembohong!" "Kami—" Suara dering ponsel terdengar cukup keras membuat kalimat Marcus terhenti. Sontak Elma memandangi mereka, sebelum akhirnya sadar bahwa teleponnya lah yang berbunyi nyaring. Gegas Elma mengambilnya. Nama sang kekasih tertera di layar ponselnya membuat Elma tersenyum cerah. Suasana hatinya langsung bahagia, ketika suara pria yang sangat amat dicintai terdengar. "Aku lagi di rumah sakit, Sayang," ujar Elma. "Di rumah sakit? Kamu sakit apa? Cepat shaerlock, biar aku langsung kesana," katanya. "Aku tidak sakit, kok. Hanya menemani Vera saja. Dia kemari karena ingin bertemu Tuan sesuka hati itu. Jadi, sebagai sahabat yang baik aku menemaninya saja." "Dante?!" "Iyah." "Astaga, rumah sakit mana? Cepat kasih tahu aku! Aku akan menjemput kamu, jangan sampai pria gila itu malah melakukan sesuatu denganmu." "Nggak perlu, Sayang. Sebentar lagi—" "Elma, aku tidah butuh penolakan kamu. Ini perintah! Cepat kasih tahu aku, rumah sakit mana?" Elma mengangguk saja, meski kekasihnya tak melihat. Lantas ia menuruti permintaannya dan memberitahukan lokasi rumah sakitnya. Disisi lain, Vera tertunduk. Ia hanya diam, kehilangan seribu kata di depan Tuan Dante. Sementara pria itu, sejak tadi menghindar dan hanya memandangnya remeh. Rasanya, Vera ingin berteriak, meminta tolong untuk keluarkan dirinya dari pria itu. Namun Vera tak akan bisa melakukan itu. "Seperti yang kau ketahui, saya akan membantu membayar operasi ibumu, tapi dengan satu syarat," ujar Tuan Dante akhirnya. Vera mendongak, menatapnya sejenak sebelum akhirnya kembali menundukkan kepala lagi. Ia terlalu takut untuk melihat bola matanya yang berwarna hijau itu. "Syarat?" "Iyah! Itu-pun kalau kau menyetujuinya." Vera terdiam lagi. Pikirannya cukup kalut. Entah mengapa, otaknya seperti mencerna sesuatu hal dan hatinya cukup untuk mencurigai pria itu. Karena mau bagaimanapun, Tuan Dante tak akan pernah membantu seseorang jika tak ada maunya. "Jangan terlalu banyak berpikir, Vera! Saya tak ada waktu untuk melihatmu menunduk dan diam seribu bahasa! Apakah kau tak memiliki mulut?" sungut Tuan Dante. "Maaf, aku terlalu bingung," ujarnya pelan bahkan hampir tak terdengar. "Jadi, bagaimana ... kau mau mendengarkan syaratnya atau tidak? Saya tidak mau berlama-lama di ruangan menjijikkan ini." Vera meremas ujung bajunya. Hati terasa sesak mendengar kalimat itu. Namun, ia juga butuh uang operasi sehingga ia mengatakan, "Apa syaratnya, Tuan? Aku akan melakukan apapun. Asalkan Ibuku kembali sehat seperti semula." Tuan Dante langsung tersenyum merekah. Meski hanya sebentar saja. Lantas ia melangkah maju, mendekati Vera yang terdiam di tempat. Sekujur tubuh Vera benar-benar menegang. Ia bahkan tak berani untuk mendongak. Namun, Tuan Dante malah menarik kepalanya hingga mata mereka berdua bertemu. Dari jarak dekat ini, parfum aroma ambergris dan oud tercium. Aromanya benar-benar terkesan misterius dan juga mewah. Vera tebak, harganya pasti jutaan. "Kau harus berpura-pura menjadi kekasihku. Dan esok, kita berkencan juga mengajak Elma bersama pacarnya. Setelah sebulan, kita akan mengadakan acara pernikahan. Tapi, kau harus pergi jauh dan menjebak Elma. Agar wanita itu menjadi istri sahku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN