Pertemuan dengan Debt Collector tampan
Rossi yang saat itu terpaku menatap layar ponselnya tersenyum kala mendapat panggilan telpon dari kontak bernama "My Love" dengan antusias Rossi menjawab panggilan telpon itu.
"Iya sayang?" Jawab Rossie pada saluran telpon itu.
"Rossie bisakah kita bertemu sore ini setelah kau pulang kerja. Aku ingin membahas masalah pernikahan denganmu." Ucapan dari lelaki yang di pacari Rossie hampir empat tahun itu membuat Rossie sangat senang. Akhirnya setelah hampir 4 tahun menjalani hubungan asmara tercetus juga topik pernikahan di bibir lelaki yang sangat di cintainya itu.
"Aku akan menunggumu di caffe biasa, bagaimana?" Tanya lelaki bernama Kevin itu "Atau aku harus menjemputmu?" Tanya nya lagi setelah ada jeda beberapa detik
"Ah!" Rossie tersentak "Tidak perlu menjemputku sayang, itu akan membuatmu menempuh jalan memutar sebaiknya kita bertemu saja di teras caffe." Tolak Rossie masih dengan senyuman manis di bibirnya.
"Oke baiklah, aku akan menunggumu." Ucap Kevin dan panggilan telponpun berakhir.
***
Tepat jam 5 sore, Rossi kini bergegar meninggalkan perusahaannya langkahnya bahkan terburu tak sabar ingin bertemu dengan Kevin sang kekasih. Bayangan saat Kevin melamarnya dengan posisi berlutut di hadapannya sembari memegang bunga dan kotak cincin semakin membuat Rossie tak dapat menahan rasa bahagiannya ia yang biasanya naik bis kini rela memesan taksi agar segera tiba di teras caffe tanpa harus menunggu di halte bis terlebih dahulu.
Tepat hanya tinggal 5 kilometer saja ia akan tiba di teras caffe tiba-tiba taksi yang di tumpangi Rossie mogok.
"Ada apa?" Tanya Rossie bingung kearah sang supir.
Supir itu sedikit menengok kearah Rossie "Maaf Nona mobilku keliatanya sedang mogok, aku sudah beberapa kali menghidupkan kembali mesinnya tapi gagal." Jelas supir taksi itu dengan wajah penuh penyesalan.
"Yeah sudah kalau begitu aku turun disini saja Pak." Ucap Rossie seraya mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberikannya kepada supir taksi.
"Maafkan aku Nona, tidak bisa mengantar anda sampai tujuan."
Rossie tersenyum manis kearah supir taksi "Tidak masalah pak, kalau begitu aku pergi dulu." Balas Rossie kemudian berlari kecil di trotoar jalan dan yah lagi-lagi senyum bahagia tak perna pudar dari paras Rossie yang cantik hingga senyuman Rossie hilang karena dari arah samping seorang lelaki berjaket kulit menabraknya.
Lelaki itu terlihat terhuyun keluar dari dalam sebuah toko jahit.
"Sudah ku bilang aku belum ada uang untuk bayar angsuran!" Teriak suara lelaki tua dari dalam toko bersamaan dengan itu lelaki tua menyiramkan satu ember besar air kearah lelaki yang menabrak Rossie membuat Rossie yang berada di belakang lelaki berjaket kulit itu ikut terkena imbas dari air yang di siramkan.
"Aaah!..." Rossie berteriak membuat lelaki berjaket kulit segera menoleh kearahnya.
Lelaki itu sangat tampan, kulit sebersih s**u, sorot mata tajam bak elang serta sepasang rahang yang tegas sempat membuat Rossie terpesona sejenak pada ketampanan itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya lelaki berjaket kulit itu pada Rossie dan segera Rossie mengangguk.
"Pergi sana kau Debt collector busuk." Ucap lelaki tua itu kembali seraya mengambil ancang-ancang ingin melempar ember kearah lelaki berjaket kulit, tak ingin Rossie ikut terkena lemparan ember, Debt Collector itu segera memeluk Rossie menyembunyikan tubuh mungil Rossie dalam dekapannya dan terang saja saat lelaki tua itu melemparkan embernya, ember itu langsung mengenai lelaki berjaket kulit yang berprofesi sebagai Debt collector itu.
Kesal akan tingkah lelaki tua itu, lelaki berjaket kulit bernama Herry itu segera melepas pelukannya dari Rossie dan berbalik menatap tajam lelaki tua itu.
Lelaki tua itu sedikit terintimidasi oleh tatapan Herry, sementara Herry membungkuk mengambil ember yang mengenainya tadi mengangkat ember itu tinggi-tinggi dan nyaris melempar ember itu balik kearah lelaki tua itu andai saja Rossie tak menghalaunya.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Rossie seraya berlari lalu berdiri di depan lelaki tua "Apa kau tidak lihat, dia sudah tua sudah tidak cocok menjadi lawanmu." Ucap Rossie membuat Herry kesal namun meski begitu ia mengurungkan niatnya melempar lelaki tua itu.
Herry menatap Rossie tajam "Jangan ikut campur pada masalah yang tidak kau ketahui kebenarannya." Ucap Herry kearah Rossie.
"Aku memang tidak tahu permasalahan kalian tapi sangat tidak terhormat jika lelaki muda sepertimu memukul lelaki tua." Jawab Rossie membuat Herry hanya menghela nafas berat nampaknya Herry tak ingin berurusan dengan Rossie karena itu akan sangat merepotkan jika harus berdebat dengan Rossie.
Herry menarik kerah baju lelaki tua itu dengan kasar bahkan hingga lelaki tua itu terhuyun "Dengar tua bangka, kau sudah nunggak pembayaran 3 bulan, ketika aku datang menagihmu jangan bertingkah sok keras karena sedari tadi aku menagihmu aku sangat baik tiba-tiba kau mendorongku, menyiramku dan melemparku dengan ember, jika kau ingin menggunakan cara kekerasan akan ku ladeni." Herry mengangkat tinjunya hendak meninju wajah lelaki tua itu membuat Rossie panik.
"Maafkan aku Tuan Herry." Jerit lelaki tua itu dengan tubuh bergetar ketakutan membuat Herry segera menurunkan tinjunya dan melepas genggamannya pada krah baju lelaki tua itu.
"Bukannya aku tidak mau bayar angsuran, tapi jujur 3 bulan ini toko jahitku sepi jadi aku tidak ada pemasukan, jangankan untuk bayar angsuran untuk makan sehari-haripun aku masih kesusahan." Jelas lelaki tua itu dengan air mata berlinang membuat Rossie merasa iba dan nyaris ikut menangis.
"Nah!.. Jika anda menjelaskan seperti ini enak, aku bisa mengerti jangan setiap kali aku datang anda akan teriak marah-marah menyambut kedatanganku, ingat kewajiban hutang anda jangan hanya baik pas ingin pencairan uangnya saja." Ucap Herry membuat lelaki tua itu menunduk merasa menyesal.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak akan mengulanginya lagi." Balas lelaki tua.
Kini Herry menatap Rossie "Dan kau, perempuan!" Nada Herry berucap cukup keras hingga membuat Rossie spontan menatap kearahnya "Jangan ikut campur urusan orang lain karena bisa jadi itu akan membuatmu berada dalam bahaya." Ucap Herry kemudian berlalu pergi namun sebelum pergi ia sempat membuka jaket kulitnya mengibas-ibasnya hingga kering kemudian memberikannya pada Rossie yang saat itu bagian d**a Rossie nyaris terekspos karena baju yang basa.
"Heh! Tunggu!" Rossie berterik hendak mengembalikan jaket kulit milik Herry namun sayang Herry hanya terus berjalan tanpa menoleh sedikitput.
Rossie kini menatap kearah lelaki tua itu lalu bertanya dengan nada lembut "Apa kakek sudah makan?" Tanya Rossie lelaki itu menggeleng.
Rossie mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberikannya pada si lelaki tua namun lelaki tua itu menolaknya.
"Aku bukan pengemis Nona." Ucap si lelaki tua membuat Rossie tersenyum.
"Siapa bilang aku memberikan uang ini karena menganggap Kakek pengemis?" Balas Rossie membuat si lelaki tua menatapnya "Saat ini aku sedang menyewa jasa Kakek, kebetulan aku sebentar lagi akan menikah dan aku membutuhkan tukang jahit untuk membuat gaun pengantinku nantinya jadi uang ini ku berikan pada Kakek sebagai uang muka nanti aku akan kembali ke toko jahit Kakek lagi sambil membawa serta bahan gaun pengantinku serta sisa uang sewanya." Jelas Rossie membuat si lelaki tua tersenyum harus ia segera menerima uang pemberian Rossie.
"Terimakasih Nak." Jawab lelaki tua itu.
"Sama-sama, aku juga akan memberi tahukan temanku dan mempromosikan toko jahit Kakek." Balas Rossie dan lagi-lagi membuat si lelaki tua tak dapat berkata apa-apa selain hanya menangis haru, sementara itu disisi lain tak jauh dari sana Herry tersenyum melihat perbuatan Rossie dalam membantu si lelaki tua.
Bersambung!...