Akhir pekanku akhirnya berlalu dengan sia-sia. Dan tentu saja semuanya dipenuhi oleh Genta dan Genta. Dia memang nggak mencariku lagi, tapi pikirankulah yang nggak bisa diajak bekerja sama dengan memikirkan wajah Genta terus.
Semuanya begitu mengesalkan, hanya karena kedatangannya, aku menjadi nggak berhenti memikirkannya.
Akhirnya aku pun kembali ke rutinitas pekerjaanku kembali tanpa merasakan hari libur yang menyenangkan. Dan semuanya bertambah menyebalkan saat melihat wajah Genta di hari yang masih pagi ini.
Aku sengaja nggak menyapanya pagi ini, masa bodoh dengan istilah karyawan baru yang masih melekat padaku. Aku begitu kesal padanya, selain karena telah membuat satu tahun terakhirku terasa begitu kelam, dia juga nggak pernah tahu jika aku nggak menginginkan kehadirannya lagi.
Walaupun statusnya sudah berubah, walaupun dia sudah nggak terikat oleh sebuah pernikahan lagi, tetap saja semua yang pernah dilakukannya padaku dulu sangat menyakitkan. Aku nggak bisa menerimanya dengan mudah, seserius apa pun dia meminta maaf padaku.
"Yah, pagi-pagi sudah nggak enak dilihat aja muka lo," komentar Ranu saat aku menghampirinya.
"Apa dua lelaki kemarin sama sekali nggak menjanjikan?" godanya dan membuatku kembali mengingat wajah Genta.
"Ngaco," ucapku ketus.
Arga, teman semasa kuliah Ranu memang ada menghubungiku setelah aku memberikan nomor ponselku padanya. Kami hanya bicara ringan, layaknya dua orang sahabat. Seenggaknya aku nggak menyesal telah memberikan nomor ponselku padanya.
"Gue lagi bad mood, malas banget mau kerja," keluhku.
"Wajar, penyakit di hari Senin," ucapnya.
"Jadi, hari ini kita masih di tax and payroll atau nggak ya?" tanyaku. Ranu mengangkat bahunya tanda dia nggak tahu jawaban dari pertanyaanku.
"Tunggu Mas Genta aja," ujarnya kemudian. Aku justru sedang menunggu agar dia nggak perlu menemui kami lagi.
Dan benar, baru saja Ranu menyelesaikan kalimatnya, Genta terlihat sedang berjalan mendekat ke arah kami. Aku menahan napasku yang tiba-tiba terasa begitu berat.
"Selamat pagi," sapanya terdengar begitu kaku.
"Pagi, Mas," sambut Ranu sambil tersenyum.
"Apa minggu ini kami masih di tax and payroll, Mas?" tanya Ranu.
"Aku rasa sudah nggak perlu. Kalian sudah mempelajari banyak hal di sana," sahutnya. Sejenak aku merasa dia menoleh ke arahku sekilas, tapi seperti biasa aku pura-pura nggak tahu dengan yang dilakukannya.
"Mungkin minggu ini kalian bisa mencoba mempelajari berbagai hal di recruitment and training," ujarnya dan membuatku ingin mengucapkan sesuatu pada Ranu tapi nggak jadi karena ada Genta yang sedang memperhatikan kami.
Recruitmen and training adalah bagian dari divisi HR and GA yang menangani tentang karyawan baru dan training yang berhubungan dengannya. Dan tentu saja Genta berada di sub divisi ini. Sudah kuduga dia memang sengaja, agar aku bisa berada di dekatnya.
"Sebelum kita mulai, apa kalian ada pertanyaan?" tanyanya. Aku menggeleng, demikian juga Ranu.
"Karena aku sendiri juga berada di bawah recruitment and training, jadi kalian akan belajar langsung dariku," jelasnya dan membuatku seketika merasa nggak bersemangat.
"Kalian pasti sudah tahu sendiri bagaimana proses recruitment karyawan di Global Oil ini, karena semua itu telah kalian lewati. Semua proses itu ditangani di sini." Genta kemudian melanjutkan penjelasannya tentang gambaran secara umum di sub divisi tempatnya bernaung.
"Kebetulan hari ini adalah training untuk karyawan level manager. Training tentang uji coba cara penyulingan minyak bumi dengan teknik terbaru," jelasnya kemudian.
"Kalian bisa ikut denganku untuk melihat secara umum apa saja yang perlu disiapkan oleh staf di sub divisi ini," ucapnya dan kemudian beranjak dari duduknya.
Aku dan Ranu saling berpandangan, nggak menyangka jika Genta akan mengajak kami terjun langsung.
"Tunggu apa lagi?" Genta menoleh dan melihat aku dan Ranu yang masih belum beranjak dari posisi kami.
"Sekarang ya, Mas?" tanya Ranu dengan nada bingung.
"Nggak, tahun depan," jawabnya ketus. Aku ingin tertawa tapi berhasil kutahan karena jika terjadi, Genta mungkin akan tersinggung.
Aku dan Ranu akhirnya mengikuti Genta menuju lift yang akan membawa kami ke lantai dua belas, lantai yang dikhususkan untuk training para karyawan Global Oil. Suasana terasa canggung, mungkin karena Genta yang nggak banyak bicara atau bisa jadi karena aku yang merasa nggak nyaman saat berada di dekatnya. Sampai di lift pun, aku dan Ranu berdiri di belakang Genta karena nggak mau mengganggunya. Wajah tegang Genta juga membuat Ranu merasa nggak nyaman. Entah apa yang terjadi pada Genta, mungkin ada hubungannya dengan kejadian tempo hari.
"Sudah ada staf yang menangani training ini, jadi kalian hanya melihat dan memperhatikan saja," ucap Genta saat kami telah berada di lantai dua belas. Genta kemudian beranjak meninggalkan kami berdua yang hanya bisa kebingungan di depan sebuah ruangan di lantai dua belas. Dia masuk ke ruangan itu tanpa bicara apa-apa.
"Jadi kita cuma bengong kayak gini?" tanya Ranu dengan wajah kesal.
"Mungkin ada yang lagi dikerjain Mas Genta di dalam," sahutku.
"Jelek banget mood-nya hari ini," cetus Ranu. Siapa lagi yang membuat mood-nya jelek hari ini kalau bukan aku. Kok bangga banget ya aku.
"Kamu nolak dia yang kemarin," tebak Ranu asal.
"Nolak apanya, ngajak pacaran aja nggak," sahutku sambil mengerling ke arah Ranu. Aku kemudian memberi kode pada Ranu untuk diam, karena Genta terlihat keluar dari ruangan training.
"Ranu ikut bersama Kania untuk mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan peserta training. Jyan ikut aku, kita kembali ke lantai enam. Ada beberapa dokumen yang mesti disiapkan." Ucapannya terdengar seperti sebuah perintah. Aku menoleh ke arah Ranu, seolah meminta pertolongannya. Tapi karena terlalu fokus pada ucapan Genta, Ranu nggak melihatku sama sekali.
Aku ingin mengucapkan sebuah permintaan, tapi melihat wajah dingin Genta membuatku membatalkan niatku. Apa nggak bisa jika aku dan Ranu bertukar posisi saat ini? Bagaimana mungkin Genta tega melakukan semua ini. Dia pasti tahu jika kami berdua hanya akan membuat suasana bertambah canggung.
"Baik, Mas," sahut Ranu. Dia kemudian segera menghampiri Kania yang sudah menunggu di depan pintu ruang training. Nggak adakah sebuah keajaiban agar aku jangan bersama Genta? Beberapa menit bersamanya saja sudah membuatku begitu tertekan, bagaimana jika satu hari penuh?
Genta kemudian beranjak dan berjalan meninggalkanku. Mataku mengerjap, apa yang harus aku lakukan sementara Genta nggak berbicara satu patah kata pun padaku. Dia sedang ngambek, aku tahu ini. Genta memang cenderung diam saat sedang marah. Hanya satu yang bisa meluluhkannya, dengan pelukan dan ciumanku. Dan tentu saja aku nggak sudi melakukannya saat ini.
Saat aku sedang diam dan merenungi nasibku, Genta menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. Apa dia akan memarahiku saat ini?
"Kenapa hanya diam?" tanyanya tanpa senyum. Aku tersadar dan dengan setengah berlari mengejarnya. Kali ini dia seolah berada di atas angin, dengan posisinya saat di kantor seperti ini, dia bisa melakukan apa saja padaku.
Hawa kemarahannya terasa saat aku berada di dekatnya. Aku memilih berjalan di belakangnya agar Genta nggak terganggu dengan keberadaanku.
"Nggak bisakah kamu berjalan di sebelahku?" tanyanya tanpa menoleh padaku. Aku menelan ludahku yang terasa pahit, semuanya terasa serba salah saat ini. Kemarahan Genta membuat suasana terasa nggak nyaman. Tunggu dulu..., harusnya saat ini aku yang kesal dan marah, bukan dia.
Aku kemudian berjalan di sebelahnya dan menutup mulutku rapat-rapat. Memangnya dia aja yang bisa kesal, aku juga bisa lebih dari itu.
"Coba buka file training dari komputer Kania," ucapnya. Saat ini kami sudah kembali di lantai enam. Aku bergumam pelan dan melakukan apa yang diperintahkannya.
Karena tadi pagi aku berangkat buru-buru, rambutku yang biasa selalu aku ikat ekor kuda, hari ini nggak sempat kulakukan. Suasana terasa gerah, terlebih lagi tadi aku berlari mengejar Genta. Bahkan pendingin udara di ruangan ini terasa tidak terlalu bermanfaat Keringat terasa mengalir di kening hingga leherku. Aku mengibaskan rambutku dan mencari benda yang bisa mengikatnya.
Sepertinya Genta tahu jika aku sedang kepanasan, dia kemudian menurunkan suhu pendingin ruangan dan perlahan hawa dingin terasa di sekujur tubuhku. Ternyata diam-diam begitu, dia perhatian juga.
Ini terasa begitu aneh, kami berdua bekerja dalam diam. Nggak ada yang saling memulai pembicaraan. Walaupun sedikit nggak mengerti dengan perintahnya, aku tetap berusaha melakukannya seorang diri dan nggak berniat bertanya padanya.
Kami duduk bersebelahan, Genta sibuk dengan komputer di sebelahku, sedangkan aku dengan komputer milik Kania. Aku berdehem pelan, mencoba mencari perhatiannya saat mulai putus asa mencari file yang disuruhnya tadi. Tapi tetap saja gengsi terus membuatku seperti orang sombong.
“Sudah?” Terdengar suara yang membuatku menciut. Genta seperti memiliki kepribadian ganda, dia bisa tiba-tiba bersikap dingin seperti sekarang ini dan bisa tiba-tiba penuh perhatian. Mana yang aku suka? Tentu saja nggak keduanya. Sejak setahun yang lalu, apa pun tentangnya tidak ada yang aku sukai.
“Belum,” sahutku singkat dan nggak mau menjelaskan letak kebingunganku padanya.
“Kenapa lama? Apa kamu nggak mengerti?” tanyanya dan kemudian mendekat setelah terdengar embusan napas panjangnya. Apa dia kesal karena aku yang bekerja sangat lambat?
“Kenapa nggak bertanya jika nggak mengerti,” ucapnya sambil menyentuh mouse dengan cara menimpa tanganku dengan telapak tangannya.
“File nya disimpan di sini, perbaiki dan tambahkan beberapa seperti yang aku katakan tadi. Setelah itu kamu tinggal mencetaknya,” ucapnya dan tangannya kemudian terlepas dari punggung tanganku. Aku menarik napas lega saat dia kembali ke komputernya dan terlihat sibuk.
Genta bukan tipe lelaki yang akan berdiam diri dalam waktu yang lama saat sedang marah. Dia hanya butuh waktu beberapa saat hingga perasaannya akan membaik, biasanya nggak perlu dibujuk pun kemarahannya akan mereda sendiri. Tapi kali ini aku nggak yakin, dari tadi pagi hingga menjelang siang, mood nya nggak berubah, tetap dingin dan menyebalkan. Dia beberapa kali mengomentariku dengan bahasa yang terdengar kesal saat aku melakukan kesalahan dan juga kalimat pendeknya saat menjawab pertanyaanku membuatku ingin mengetuk kepalanya sekali saja.
Aku melirik ponselku sekilas saat sebuah pesan masuk. Ajakan makan siang dari Arga yang katanya kebetulan sedang berada di sekitar kantorku. Aku tersenyum dan membalas pesannya untuk mengiyakan ajakannya. Aku juga sedang nggak memiliki teman makan siang karena Ranu sepertinya terlalu sibuk sampai nggak sempat istirahat.
“Istirahat aja dulu,” ucap Genta singkat. Aku mengangguk dan segera beranjak dari hadapannya.
“Apa kamu mau makan siang bersamaku?” tanyanya dan kontan membuatku mengernyit. Sepertinya perasaannya sudah membaik, terbukti dengan senyum tipis yang ditahannya saat melihatku.
“Nggak, aku sudah ada janji,” ucapku dan dengan cepat berlalu. (*)