11. Sadarlah Jyan!

1662 Kata
“Arga pasti naksir lo,” ucapnya saat kami dalam perjalanan pulang. Aku hanya menanggapinya sambil tersenyum. “Dia cuma minta nomor ponsel kok, bukan ngajak pacaran,” sahutku. “Semuanya, kan berawal dari tukaran nomor ponsel. Yakin deh, sebentar lagi dia pasti bakal menghubungi lo buat ngajak jalan.” “Kayak anak remaja aja,” cetusku. “Arga ini memang idola dari jaman kuliah. Gue nggak begitu ingat siapa-siapa aja pacarnya karena kami nggak satu jurusan.” Ranu seperti sedang memulai ceritanya. “Nggak pengaruh di gue juga dia mau punya pacar berapa dan siapa aja,” ujarku dan membuat Ranu tertawa. “Siapa tahu aja lo penasaran.” “Gue sudah jarang terlalu mau tahu tentang seseorang, apalagi kehidupan pribadinya,” ujarku. “Intinya karena sudah berumur, lo semakin malas menjalin hubungan dengan seseorang?” tanya Ranu mirip sebuah ledekan. “Gue nggak ada bilang sudah berumur loh.” Aku mengerling ke arah Ranu dengan tatapan tajam. “Kurang lebih begitu, kan. Itu makanya selama ini lo terlihat kurang bersemangat setiap ada lelaki yang berusaha mendekat,” katanya. “Kesimpulan lo nggak berdasar,” kataku. Ranu nggak tahu aja jika alasan di balik sikap dinginku pada lelaki selama ini adalah karena Genta. Demi jambang Genta, kenapa aku mengucapkan namanya lagi? “Memang sudah berapa banyak lo lihat gue nggak bersemangat dengan lelaki, mungkin nggak sampai lima,” sambungku dan membuat Ranu terkekeh. “Biar kesimpulan gue nggak benar, paling nggak lo harus jalan sekali sama Arga,” katanya dan membuat keningku berkerut. “Lo dibayar berapa sama Arga?” tanyaku. Kali ini Ranu tertawa dengan kerasnya. “Enak aja, memangnya gue jasa mencari jodoh,” ucapnya. “Atau selama ini lo anggap gue nggak normal?” “Astaga Jyan! Jauh banget pikiran lo. Gue cuma ingin lo lebih membuka diri aja karena selama ini gue merasa jika lo terlihat tertutup dan nggak bersemangat saat wanita-wanita yang lain sudah histeris,” jawabnya dan tentu saja membuatku bingung. “Maksudnya?” tanyaku dengan kening berkerut. “Misalnya waktu Manda dan Gloria begitu mengidolakan Mas Genta, lo cuma dingin, nggak ada reaksi apa-apa. Lo kayak bukan wanita,” jelasnya dan tentu saja membuat napasku tertahan. Apa aku harus menjelaskan kenapa aku nggak tertarik dengan Genta? Apa Ranu perlu tahu cerita masa laluku dengannya? Tentu saja aku nggak tertarik dengan Genta lagi karena dia pernah membuat hidupku sangat menyedihkan. “Enak aja lo bilang gue bukan wanita! Selera tiap orang, kan beda. Gue nggak tertarik sama yang model kayak Mas Genta,” kataku memberi pembelaan. “Terus sama yang kayak mana? Yang kayak gue?” Pertanyaan Ranu kontan membuatku mencubit lengannya sampai dia mengaduh kesakitan. Untung saja saat ini sedang di lampu merah dan aku bisa mencubitnya untuk yang kedua kalinya. “Wah nggak kerasa sudah malam aja ya, mumpung malam minggu, kita sekalian jalan yuk,” ajak Ranu tiba-tiba. Mataku kontan membesar. “Ogah kalau malam minggunya sama lo,” tolakku tegas. “Sudah cukup ya ngajak gue ke nikahan mantan lo, jangan ngelunjak deh,” lanjutku. “Jalan muterin komplek rumah lo aja kok, nggak ke mana-mana,” ujar Ranu dengan wajah memelas. “Nggak, gue mau pulang. Banyak cucian,” ujarku sekenannya. “Lo memang lebih dingin dari kulkas dua pintu,” komentar Ranu dengan wajah lucu. Aku tahu dia sedang bercanda dengan menguji emosiku, karena itu aku nggak terlalu memikirkan maksud dari ucapannya. “Nah sudah sampai. Selamat mencuci kalau gitu,” kata Ranu tepat di depan rumahku. “Sebentar, gue nggak asing deh sama mobil yang diparkir di depan kita ini,” ujar Ranu dengan kening berkerut. Matanya memicing, meneliti dengan saksama mobil berwarna hitam itu. Di saat yang sama, aku juga sedang memikirkan sesuatu. Memang benar yang dikatakan oleh Ranu, mobil hitam itu memang terlihat nggak asing. Tapi siapa? “Mas Genta,” bisik Ranu kemudian dengan suara tertahan. Mataku membesar, napasku terasa berat. Nggak mungkin! Dari semua orang yang ada, pikiranku juga memikirkan hal yang sama jika memang mobil Genta yang sedang terparkir di depan rumahku. Menyesal rasanya semalam aku mengijinkan dia mengantarku ke rumah. Dia jadi tahu di mana alamat rumahku. “Nggak mungkin dia mau menagih laporan mingguan kita yang belum selesai, kan?” tanya Ranu dan membuatku semakin tegang. “Turun gih sana, ngapain kamu betah banget di mobilku,” usir Ranu. Aku menatapnya dengan wajah masam. “Awas ya, lain kali gue nggak bakal mau nolongin lo lagi,” ancamku. Mungkin karena merasa nggak enak dengan ancamanku, Ranu kemudian turun dari mobil dan mengantarku hingga pagar rumahku. Lagaknya seperti seorang lelaki yang baru mengantar pacarnya pulang dari kencan. Tepat dugaanku, memang mobil Genta yang sedang terparkir tadi. Sedangkan dia duduk dengan manis di kursi yang berada di teras rumahku. Sepertinya dia sudah lumayan lama menunggu, rasain siapa suruh datang tiba-tiba, mana Papa dan Mama juga lagi nggak ada di rumah. “Mas Genta, tumben ada di sini,” sapa Ranu terdengar penuh basa-basi. Genta terlihat menatapku dan Ranu secara bergantian, seolah ada yang salah dari penampilan kami berdua. “Iya, ada barang milik Jyan yang tertinggal di mobil,” sahutnya dengan nada dingin. “Kalau gitu gue pulang dulu ya. Ini habis dari nikahan teman, Mas,” ucap Ranu. Aku meliriknya tajam, nggak perlu dijelaskan segala ke Genta, biar dia pusing memikirkannya sendiri. “Oh ya, oke,” sahut Genta. “Laku keras lo kayaknya.” Ranu masih sempat berbisik di telingaku sebelum dia beranjak. Aku mendesis kesal dan membiarkannya pergi tanpa memgucapkan apa pun lagi. “Kan, bisa hari Senin aja,” ujarku sambil membuka pintu rumah. Aku sendiri nggak bisa mengingat benda apa yang kutinggalkan di mobil Genta. Ikat rambutku? “Sekalian lewat tadi,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantong kertas padaku. Aku melirik isinya sekilas, ternyata cardiganku. Kalau cuma sekalian lewat, dia nggak ada niat mau mampir, kan? “Aku lagi banyak kerjaan nih, lebih baik kamu pulang aja,” ujarku tanpa basa-basi. “Aku bantuin kerjaan kamu biar cepat selesai.” Jawaban yang sama sekali nggak aku inginkan membuatku kebingungan untuk menanggapinya. “Bukan pekerjaan yang begitu penting,” sahutku. “Apa aja bakal aku bantuin,” katanya dengan nada yakin. Gila aja, masa aku minta dia bantuin aku nyuci pakaian? “Pulang deh sana, aku lagi pengen kerja sendiri,” kataku akhirnya. “Kenapa dengan Ranu kamu malah menemaninya pergi, sedangkan aku yang datang ke sini, kamu malah mengusirku?” tanyanya kemudian. Tentu saja karena Ranu dan dia adalah sosok yang berbeda. Ranu nggak pernah menyakitiku, sedangkan dia telah menyakitiku begitu dalam. “Tentu saja karena kalian berdua orang yang berbeda,” sahutku mulai kesal. “Justru kamu lebih mengenalku dibanding dia. Kenapa kamu malah lebih memilih dia?” Pertanyaan Genta membuat kepalaku terasa menegang. “Aku bahkan lebih memilih menghabiskan waktuku dengan Ranu dibanding denganmu,” sahutku dengan nada menantang. “Jyan, aku sedang nggak mau bertengkar,” ucapnya sambil menurunkan nada suaranya yang mulai meninggi. “Kalau kamu nggak mau bertengkar, lebih baik kamu pergi dari sini,” ucapku. “Aku sudah pernah bilang, kan kalau mulai saat ini kita adalah dua orang asing yang nggak pernah saling mengenal,” kataku lagi dan membuat wajah Genta terlihat berubah. “Baiklah, anggap saja aku sebagai orang asing. Kita baru saja berkenalan dan aku datang berkunjung ke rumahmu, apakah itu salah?” tanyanya. Mataku nggak berkedip saat menatapnya. “Salah, karena aku sedang ingin sendiri dan nggak mau diganggu,” sahutku cepat. “Ini nggak adil, Jyan,” ucapnya dengan nada sedih. Dari sudut mana dia mengatakan aku nggak adil? Hanya gara-gara aku mengusirnya pergi? “Kamu bahkan jauh nggak adil dari yang kamu tahu,” ucapku dengan nada sinis. “Katamu kita adalah dua orang asing, bukankah lebih baik jika nggak membahas masa lalu lagi?” Mendengar ucapan Genta membuatku menarik napas panjang. Sayang sekali dia yang berkunjung ke rumahku, jika sebaliknya mungkin aku sudah berlalu dan pergi dari hadapannya. Tentu saja kali ini aku nggak bisa pergi dan meninggalkan rumahku sendiri. Aku nggak ingin berbasa-basi dengan lelaki ini tapi mengusirnya juga sulit untuk kulakukan. Aku akan memancing rasa ingin tahu tetangga jika mengusirnya dengan cara yang kasar. “Apa yang kamu inginkan sebenarnya?” tanyaku sambil membuang napas panjang. “Kita harus bicara,” jawabnya. “Kita sudah berbicara banyak, apalagi yang mau kamu bicarakan?” “Tentang kita,” ujarnya. “Nggak ada kita lagi, yang ada hanya aku dan kamu,” jawabku tegas. Aku nggak mau memberi kesempatan padanya. “Jadi aku mohon, menjauhlah dariku,” pintaku dengan wajah serius. “Nggak akan kulakukan.” Wajah Genta terlihat sedang menahan marah saat mendengar ucapanku. “Jyan, setahun ini aku mencarimu. Aku sudah hampir gila karena semua ini,” ucapnya. Salah sendiri kenapa dia berbohong padaku. Dia yang memulai semuanya dan sudah seharusnya menerima apa yang telah dilakukannya. “Aku nggak pernah memaafkan seseorang yang telah menyia-nyiakan kepercayaanku,” kataku. “Pulanglah dan jangan ingat aku lagi.” “Kali ini kita hanya rekan kerja, nggak lebih,” ucapku. “Baik, aku akan pulang. Tapi ini bukan yang terakhir. Aku nggak akan menyerah walaupun kamu menolakku.” Genta mundur dan berbalik. Dadaku terasa berdebar dengan kencang, entah kenapa aku nggak pernah suka melihat punggungnya yang bergerak menjauh seperti ini. Seolah dia akan pergi jauh dan nggak akan kembali lagi. Sadarlah Jyan! Dia memang harus pergi sejauh mungkin agar kesalahan itu nggak terulang untuk yang kedua kalinya lagi. Aku menggenggam tanganku dengan erat. Ada banyak hal yang terlintas di pikiranku dan semuanya membuatku ingin menangis. Kenapa melihat Genta yang seperti ini selalu saja membuatku ingin menangis? Kenapa dia baru memperjuangkanku sekarang? Kenapa nggak dari dulu? Aku masih terdiam di depan pintu rumahku saat mobil Genta beranjak menjauh. Rasanya begitu hampa dan aku seperti menyalahkan diriku sendiri dengan membiarkannya pergi. Jyan bodoh! Bukankah memang sudah seharusnya dia pergi dari hidupku? Aku meringis dan merasakan nyeri di dadaku. Rasanya sangat menyakitkan, semua hal yang berhubungan dengan Genta pasti selalu membuatku sakit. Seharusnya aku nggak boleh memikirkannya lagi. (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN