Jonathan melihat Diva yang tengah berganti pakaian. Sahabatnya itu benar-benar kurang ajar. Bisa-bisanya dia mengganggu tidurnya dan istrinya malam-malam begini. “Sayang, aku antar ya? ini sudah malam loh. Aku juga gak mau sampai kamu kenapa-napa di jalan nanti. Mana hotelnya jauh gitu. Ngapain sih Dava ngajak Siska menginap di hotel segala? Memangnya disini gak ada hotel yang bagus, sampai dia harus bawa Siska sejauh itu.” “Dava sudah gila kali ya. Masa dia tega ninggalin istrinya begitu saja di hotel.” Jonathan lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Sayang, apa jangan-jangan Siska menolak saat Dava mengajaknya untuk berhubungan, makanya Dava marah dan ninggalin Siska?” “Jangan berprasangka buruk dulu, Pa. Kita juga gak tau apa yang terjadi dengan mereka.” Diva mempoles wajah

