Bayangan yang Hilang (POV Daniel)
Rumah itu kini terasa seperti gua yang luas dan dingin. Suara tawa ibunya, yang dulu selalu menggemakan di lorong marmer, telah hilang. Aroma parfum kesayangannya—sedikit bunga dan kayu—sudah tidak lagi melayang di udara. Yang tersisa hanya keheningan yang berat dan pelan-pelan dipenuhi oleh barang-barang asing: boneka beruang warna-warni yang bukan miliknya, sepatu kecil berhias pita di rak, dan buku bergambar yang berserakan.
Daniel, di usianya yang keenam tahun, duduk di anak tangga besar yang menghubungkan lantai satu dan dua. Ia memeluki lututnya, menatap kosong ke arah pintu utama. Ayah bilang, Ibu pergi “melakukan perjalanan jauh”. Tapi pelukan terakhir Ibunya terasa sangat kencang, air matanya membasahi pipinya yang dingin, dan bisikannya, “Daniel, anakku, maafkan mama,” terngiang-ngiang seperti mantra yang tak ia pahami. Ia menunggu. Hari berganti hari. Mama tak kunjung pulang. Kamar ibunya dikunci, dan tak seorang pun, bahkan Bibi Sari yang paling ia sayangi, berani menjawab pertanyaannya dengan jelas.
Lalu, satu hari, Ayah pulang dengan wajah yang aneh. Bukan sedih, tapi… keras. Penuh tekad. “Daniel,” ucap Ayah, suaranya seperti baja dingin yang ia gunakan saat rapat penting. “Mulai besok, keluarga kita akan bertambah. Akan ada mama baru, dan dua saudara perempuan untukmu. Mereka akan tinggal di sini.”
Hati kecil Daniel berontak. Mama baru? Saudara baru? Tidak! Ia hanya punya satu mama. Ia hanya ingin mamanya kembali. Tapi ia melihat mata ayahnya. Ada sesuatu di sana—cahaya gelap, perintah tanpa tawar. Daniel telah belajar sejak dini bahwa melawan ayahnya tidak pernah berakhir baik. Ayahnya adalah raja di istana ini, dan ia hanya pangeran kecil yang harus patuh. Ia mengangguk pelan, gigi kecilnya mengerat rahangnya. “Ya, Ayah,” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Keesokan harinya, kedatangan mereka seperti invasi diam-diam. Sebuah mobil besar berhenti di depan. Seorang wanita cantik dengan mata besar dan lembut turun, diikuti dua anak kecil. Seorang perempuan seusianya dengan rambut dikepang rapi, memegang erat tangan wanita itu. Dan seorang laki-laki yang lebih kecil, wajahnya masih bengkak seperti habis menangis.
Daniel mengintip dari balik tirai jendela perpustakaan. Dadanya sesak. Wanita itu, Riana, tersenyum pada ayahnya, dan ayahnya… ayahnya tersenyum kembali. Senyum yang jarang ia lihat sejak Mama “pergi”. Rasa sakit yang tajam menusuk hatinya. Apakah ayah sudah melupakan Mama? Apakah tempat Mama di hati ayah dan di rumah ini akan segera digantikan?
Saat mereka masuk, Ayah memanggilnya. “Daniel, kemari. Kenalkan, ini Ibu Riana. Dan ini Arumi, Misha. Mereka sekarang saudaramu.”
Daniel melangkah pelan. Matanya, yang mewarisi ketajaman Pram, memandangi Arumi. Gadis kecil itu menatapnya dengan pandangan penuh kehati-hatian, ada sedikit ketakutan, tapi juga… penerimaan? Daniel merasa geram. Mengapa dia bisa menerima ini semua dengan mudah? Mengapa dia tidak berontak seperti dirinya?
Ia mengulurkan tangan kecilnya, berjabat tangan dengan dingin seperti yang dia lihat ayahnya lakukan pada rekan bisnis. “Halo,” katanya, datar.
Di dalam hatinya, sebuah bibit hitam mulai tumbuh. Ia kehilangan mamanya. Rumahnya direbut. Dan ayahnya tampak senang dengan penjajah baru ini. Ia tidak akan menerima ini. Tidak akan. Mereka bukan mamanya. Bukan saudaranya. Ini semua salah. Dan rasa bingung, sedih, dan kesepian itu membeku menjadi sesuatu yang lebih keras: dendam. Dendam seorang anak berusia enam tahun yang merasa dunianya dihancurkan, dan ia akan mencari cara untuk membela reruntuhannya, sekecil apa pun caranya.