Nyonya Elizabeth bangkit sambil menunjuk-nunjuk teman-temannya. Wajahnya terlihat begitu emosi mendapat komentar negatif dari teman-temannya.
"Kalian itu tidak perlu berkomentar bagaimana aku harus bersikap. Kalian sudah kenal aku lama bukan? Sudah tahu bagaimana tabiatku. Pekerjaanku ini butuh asisten yang tahan banting dan tidak lembek!" bentak Nyonya Elizabeth sungguh sangat arogan.
Semua kolega sang nyonya langsung diam seribu bahasa. Tak ada yang berani membantah Nyonya Elizabeth. Di antara mereka, memang Nyonya Elizabethlah yang paling kaya dan berkuasa.
"Aku menjanjikan gaji yang tidak sedikit pada Sabrina. Toh kalau kerjanya baik aku juga memberinya bonus. Sudah sewajarnya aku memberinya perintah seperti itu agar dia belajar menjadi asisten yang lebih cerdas!" lanjut Nyonya Elizabeth semakin emosional.
"Oke-oke, maafkan kami sudah ikut campur urusanmu. Kalau memang semua yang kau lakukan itu baik, maka lakukanlah," sahut salah satu teman sang nyonya mengalah. Wanita itu sepertinya tidak mau lagi memperpanjang urusan dan menyulut kemarahan Nyonya Elizabeth lebih besar.
"Lagipula, perempuan miskin butuh uang seperti Sabrina itu, kalau tidak diajari adat, bisa mentang-mentang dia. Kalian tahu kan aku punya suami setampan Diego," tambah Nyonya Elizabeth lagi.
"Hah, memangnya dia ada main dengan suamimu, Beth? Jadi itu alasanmu kejam padanya? Kalau begitu aku dukung!" tegas teman Nyonya Elizabet yang lain.
"Belum, tapi aku benar-benar tidak mau wanita miskin rendahan itu macam-macam!" tegas Nyonya Elizabet dengan kejam.
Tubuh Sabrina langsung membeku mendengar ucapan sang nyonya. Pikirannya melayang pada kejadian pagi tadi, saat ia sedang menenangkan diri di taman lalu Tuan Diego menciumnya.
"Apakah Nyonya tahu soal itu? Atau memang beliau sengaja meminta Tuan Diego untuk mengujiku?" batin Sabrina ketakutan.
Sabrina beringsut mundur dan memilih pergi meninggalkan ruangan tempat Nyonya Elizabeth mengobrol dengan teman-temannya itu. Tidak ada gunanya juga ia tiba-tiba muncul di situ dan menanyakan hal yang berpotensi akan membuat Sabrina semakin dibully dan dipermalukan di depan rekan-rekan sang nyonya.
[Bik, siapkan saja semua kartu akses apartemennya. Nyonya sedang sangat sibuk dan tidak bisa diganggu]
Sabrina akhirnya memilih untuk mengirim pesan tersebut kepada Bik Minah. Wanita itu kemudian duduk dalam ruang ganti Nyonya Elizabeth sambil menunggu sopir yang dimintanya mengambil kartu akses tiba di lokasi.
"Brina, lama sekali! Mana kartu akses apartemenku?" teriak Nyonya Elizabeth terdengar memasuki ruang ganti. Wajahnya terlihat kejam saat menagih apa yang ditugaskannya pada Sabrina beberapa saat lalu itu.
"Sopir masih dalam perjalanan, Nyonya. Apa anda ingin pergi bersenang-senang dulu dengan teman-teman anda, Nyonya? Nanti biar saya antarkan kartunya ke tempat Nyonya berada," jawab Sabrina berusaha tenang.
"Ck ... kau ini lambat sekali, Brina! Kenapa tidak kau sendiri yang pergi mengambil kartu akses itu? Dasar bodoh malah menyuruh supir yang mengambilnya!" hardik Nyonya Elizabeth meradang.
Hati Sabrina semakin teriris. Ibunya saja tidak pernah mengata-ngatainya seperti itu. Mengapa wanita yang menjadi majikannya ini begitu tega. Andai tidak karena iming-iming gaji delapan juta sebulan, Sabrina mungkin sudah lama menjambak rambut sang nyonya dan mengajaknya beradu otot.
"Asisten lamban seperti ini Kenapa sih masih kau pertahankan, Beth! Bahkan asistenmu yang lama masih jauh lebih baik!" tegas rekan Nyonya Elizabeth yang tadi terlihat hampir membela Sabrina. Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja rekannya itu sekarang ikut membully Sabrina.
Sabrina hanya bisa menunduk sambil menahan hatinya yang mulai panas. Apa serendah itu martabatnya di depan wanita-wanita kaya ini? Sampai mereka menghinanya pun Sabrina tidak bisa membalas.
"Waktumu lima belas menit lagi. Aku akan menunggu, sekalian saja nanti dengan supir bersihkan apartemenku yang berada di daerah Jakarta Selatan. Aku akan bersenang-senang dengan teman-temanku di sana malam ini," perintah Nyonya Elizabeth pada Sabrina.
Setelah berkata demikian Nyonya Elizabeth lalu pergi meninggalkan Sabrina begitu saja. Membuat bajunya tidak bisa mengerti apa maksud sang nyonya.
"Bukankah aku ini digaji untuk menjadi seorang asisten pribadi? Lalu apa pekerjaanku juga sekalian menjadi pembantu untuk membersihkan apartemennya?" batin Sabrina masygul.
Sabrina tidak menyangka Nyonya Elizabeth akan membullynya sampai sekejam itu.
"Ini uangnya, Brina. Jadi sekalian belikan aku makanan dan minuman untuk kami bersenang-senang nanti," ujar Nyonya Elizabeth yang kembali lagi untuk melemparkan segepok uang pecahan seratus ribuan kepada Sabrina.
"Ba-baik, Nyonya. Oh ya, anda mau dipesankan makanan di restoran mana?" tanya Sabrina lebih detil. Kali ini dirinya tidak mau lagi dipersalahkan dan menjadi bulan-bulanan Nyonya Elizabeth.
"Pesankan saja yang enak. Kau tahu kan seleraku? Ingat, jangan sampai salah kalau tak mau aku mengomelimu!" tegas Nyonya Elizabeth lagi.
Sabrina lagi-lagi harus menghela napas berat. Wanita muda itu sekali lagi harus menebak-nebak apa yang menjadi kesukaan sang nyonya dan teman-temannya.
"Kau ini, Beth! Bagaimana asisten pribadimu itu bisa tahu apa kesukaan kita?" bisik teman Nyonya Elizabeth yang tidak sengaja didengarkan Sabrina.
"Biar saja, aku sengaja ingin menguji seleranya. Kalau dia bisa mengesankan kita untuk pesta malam ini, aku yakin dia memang cocok jadi asistenku," sahut Nyonya Elizabeth santai.
Sabrina manggemelatukkan gigi menahan kesal. Bisa-bisanya sang nyonya berbuat seperti itu. Rupanya segala kesulitan yang dialami Sabrina adalah bentuk ujian Nyonya Elizabeth pada asisten pribadinya itu.
'Baiklah, Brina! Kau harus bisa membuatnya terkesan kali ini. Buktikan kalau kau adalah wanita tangguh!' batin Sabrina menyemangati dirinya sendiri.
Sambil berpikir Sabrina lalu menuju lobby untuk memesan taksi online menuju apartemen yang diminta sang nyonya. Sekalian Sabrina mengirim pesan pada sopir yang dimintanya mengambil kartu akses untuk segera menuju apartemen tersebut.
Untunglah sopir yang diperintahkan Sabrina tiba tepat saat dirinya juga tiba di lobby gedung apartemen tersebut. Setelah mengambil kartu akses Sabrina Lalu naik menggunakan lift menuju unit milik sang nyonya.
Sabrina membuka kunci kamar nomor 1567 itu dengan hati-hati. Handphone masih tergenggam di tangannya sambil digunakan untuk memesan beberapa makanan dari restoran yang sering dijadikan tempat makan Nyonya Elizabeth.
[Pesanan sedang kami siapkan. Mungkin satu jam lagi semuanya akan tiba. Tiga pukuh menit kami butuh waktu untuk memasak dan tiga puluh menit perjalanan menuju lokasi]
Pesan dari pemilik restoran membuat Sabrina bisa sedikit bernapas lega. Wanita muda itu lalu bergerak untuk membersihkan apartemen tersebut. Namun Sabrina terhenyak saat melihat sesosok manusia keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk menutupi setengah tubuh bagian bawahnya saja.
"Tu-tuan Diego .... "
Sabrina teranyak melihat suami sang nyonya baru saja keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang seperti. Bagaimana Sabrina tidak terpesona dengan tubuh berotot, perut rata dan wajah maskulin yang sangat tampan itu.
"Eh, Brina! Kau di sini?" pekik Tuan Diego tak kalah terkejut. Pria itu menyilangkan kedua tangan di dadanya karena malu dilihat Sabrina.