Majikan Kejam Tukang Bully
"Sabrina, ambilkan pakaianku untuk rapat hari ini. Oh ya, sekalian ambilkan sepatu dan tasnya yang senada," perintah Nyonya Elizabeth pada asisten pribadinya itu.
Sabrina mengangguk dan bergegas menuju walk in closet milik sang nyonya yang berisi ratusan baju, sepatu dan berbagai printilan fashion koleksi pribadi Nyonya Elizabeth. Sabrina mengambilkan dress sebawah lutut berwarna putih yang elegan, meraih sepatu hitam sederhana dengan aksen titanium di atasnya, lalu segera berlari menuju ruang ganti tempat Nyonya Elizabeth sedang di make up.
"Ini, Nyonya. Apa anda mau menambahkan blazer agar lebih formal?" tanya Sabrina dengan wajah ramah.
Brak!
Nyonya Elizabeth melempar pakaian yang dibawakan oleh Sabrina tersebut. Matanya menatap Sabrina tidak suka. Wanita itu lalu melangkah mendekati Sabrina dan mengomelinya dengan wajah bengis.
"Kau ini bodoh atau bagaimana, Brina? Aku ini akan menghadiri rapat, bukan acara minum teh atau fashion show. Bagaimana bisa kau pilihkan aku pakaian seperti itu?" hardik Nyonya Elizabeth marah.
Wanita cantik berdarah blasteran eropa itu lalu berjalan sendiri menuju walk in closet-nya dan memilih pakaian untuk dirinya sendiri. Sebuah atasan crop top dan celana kulot berwarna merah. Nyonya Elizabeth lalu memadukan pakaiannya dengan blazer dan sepatu hitam.
Sabrina yang baru saja dimarahi hanya bisa menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya. Wanita muda itu begitu ketakutan dengan sikap arogan Nyonya Elizabeth.
"Belajarlah style dan fashion, Brina! Biar gayamu tidak selalu terlihat kampungan," ledek Nyonya Elizabeth merendahkan Sabrina. Wanita itu lalu pergi meninggalkan Sabrina sendiri dalam ruang gantinya.
Hati Sabrina terasa sesak, wanita muda itu kemudian berlari menuju taman di rumah mewah milik sang majikan yang luasnya berhektar-hektar itu. Ia lalu menghilangkan rasa kesal dengan tidur terlentang di atas rumput yang masih agak basah dan menghadap ke langit.
Sabrina menghela napas berat beberapa kali. Wanita muda itu memenuhi rongga paru-parunya dengan udara segar untuk menghilangkan rasa kesal dan sesak di dadanya akibat sikap Nyonya Elizabeth yang menyebalkan.
"Tenanglah, Brina! Ingatlah bahwa adikmu butuh banyak biaya untuk sekolahnya dan ibumu sedang terbaring di rumah sakit," ucap Sabrina sembari terus memejamkan mata dan menghela napas.
Cup! Sebuah kecupan mendarat di bibir Sabrina. Membuat wanita muda itu terkejut hingga terbangun. Matanya membelalak semakin terkejut tatkala melihat siapa sosok yang berani mencuri ciuman pertamanya itu.
"Tu-tuan Diego!" pekik Sabrina melihat suami sang nyonya kejam sedang memeluk tubuhnya.
Sabrina segera mendorong tubuh Tuan Diego agar menjauh dari tubuhnya. Wanita muda itu begitu takut jika sampai Nyonya Elizabeth yang kejam melihatnya.
"Ah, ma-maafkan aku, Sabrina. Aku tak tahu apa yang sedang kulakukan. Aku reflek melakukannya karena terpesona dengan kecantikanmu yang masih polos," sahut Tuan Diego kikuk.
Pria tampan itu duduk membelakangi tubuh Sabrina yang segera bangkit dan membersihkan dirinya.
"Sabrina! Sabrina kau di mana?" sebuah teriakan Nyonya Elizabeth membuat Sabrina segara berlari menuju arah teriakan tersebut.
Wanita muda itu begitu ketakutan kalau sampai Nyonya Elizabeth marah padanya. Saking takutnya Sabrina sampai tidak peduli dengan Tuan Diego yang tersenyum lucu memandangnya.
"Sungguh naif dan polos," desis Tuan Diego sembari tersenyum dan mengamati bagian belakang tubuh Sabrina sampai menghilang.
"Ya, Nyonya! Saya di sini," jawab Sabrina sambil berlari-lari kecil ke arah Nyonya Elizabeth.
"Lama sekali, Brina! Ayo berangkat, bawakan semua barang-barangku! Ingat jangan sampai ada yang tertinggal!" tegas Nyonya Elizabeth sambil tersenyum sinis.
Tergopo-gopo Sabrina masuk ke dalam rumah dan membawa semua barang-barang Nyonya Elizabeth yang sudah disiapkan asisten rumah tangganya. Sabrina meneliti sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
"Apa semua kebutuhan Nyonya Elizabeth sudah masuk, Bik? Tidak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Sabrina memastikan pada asisten rumah tangga Nyonya Elizabeth yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
Wanita paruh baya itu tersenyum ramah dan mengangguk pada Sabrina.
"Sudah, Non Brina. Semua kebutuhan Nyonya Elizabeth sudah masuk dalam tas besar itu," jawab Bik Minah.
"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu ya, Bik," pamit Sabrina sambil tersenyum tipis.
Wanita muda itu setengah berlari mengikuti Nyonya Elizabeth yang sudah melangkah pergi memasuki mobilnya lebih dulu.
***
"Brina! Mana kartu akses apartemenku?" tanya Nyonya Elizabeth pada Sabrina sore itu setelah agenda kegiatan mereka.
"Kartu akses? Sa-saya tidak tahu, Nyonya," jawab Sabrina kebingungan.
"Kau ini bagaimana sih, Bria? Aku mau pulang ke apartemenku!" tegas Nyonya Elizabeth. Wanita itu terlihat kesal dengan Sabrina.
"Saya sudah membawa semua barang yang disiapkan Bibik, Nyonya. Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada kartu akses apartemen di sana," cicit Sabrina takut-takut.
"Aku tidak mau tahu! Kau harus mendapatkan benda itu dalam waktu satu jam dari sekarang!" tegas Nyonya Elizabeth kejam.
Sikapnya yang arogan membuat Sabrina ketakutan dan segera berlari menelepon sopir untuk mengambilkan kartu akses di rumah sang majikan. Tak lupa Sabrina menelepon Bik Minah untuk menyiapkan kartu akses apartemen milik Nyonya Elizabeth.
"Kartu akses apartemen yang mana, Non Sabrina? Ada empat apartemen milik Nyonya Elizabeth. Malam ini beliau ingin menginap di mana?" tanya Bik Minah saat Sabrina meminta untuk menyiapkan kartu akses apartemen tersebut.
"Aduh ... Nyonya enggak bilang, Bik. Hanya minta disiapkan kartu akses karena hari ini dia akan pulang ke apartemen. Aku pikir apartemennya hanya satu atau Bibik mungkin tahu apartemen yang paling disukai Nyonya Elizabeth untuk tinggal?" tanya Sabrina lagi.
Sesungguhnya Sabrina merasa tidak enak jika harus menanyakan lagi kepada Nyonya Elizabeth. Wanita jahat itu pasti akan mengomelinya macam-macam lagi kalau Sabrina banyak bertanya.
"Waduh ... kalau begini saya juga jadi bingung, Non Sabrina. Lebih baik ditanyakan saja daripada nanti salah lagi. Nona Sabrina kan tahu bagaimana watak Nyonya Elizabeth," usul Bik Minah.
Sabrina memutar bola matanya dan menghela nabas berat. Bayangan ia harus menuju sang majikan dan menanyakan Hal itu membuat Sabrina malas. Bayangan mulut jahat Nyonya Elizabeth akan mengomelinya lagi tergambar sudah.
"Ya sudah, Bik. Siapkan saja semuanya sementara aku akan menanyakan pada Nyonya Elizabeth. Kalau memang nanti tidak ada jawaban Tolong berikan semua kartu aksesnya pada sopir biar nanti di sini Nyonya sendiri yang memilih," putus Sabrina akhirnya mengalah.
Wanita muda itu lalu mematikan panggilan telepon dan bergerak menuju tempat Nyonya Elizabeth masih asik mengobrol dengan kolega-koleganya. Takut-takut Sabrina mendekati sang nyonya.
"Kau gila, Beth! Kalau modelmu begitu mana tahan seorang asisten pribadi bekerja padamu lama," ucap salah satu teman Nyonya Elizabeth.
"Iya, Beth. Manusiawilah sedikit, kasihan betul Sabrina kalau terus kau bully seperti itu," ujar temannya yang lain.
Nyonya Elizabeth dan semua rekan-rekannya itu seolah tidak tahu bahwa Sabrina telah berada di dekat mereka. Semuanya asyik mengobrol dan membicarakan Sabrina.
"Kalian ini kenapa sih? Sejak kapan kalian begitu perhatian dengan caraku memperlakukan asisten pribadiku?" bentak Nyonya Elizabeth bangkit dan mengomel.