Bab 1. Tawaran di Tengah Desakan
“Berapa harga kehormatanmu?”
Suara itu dingin dan penuh keyakinan, menggema di ruang sempit di sebuah kafe kecil di pusat kota.
Barata Yudha duduk tegak dengan sikap percaya diri yang hampir menantang, memandang lurus ke arah Mia Karina yang duduk di depannya.
Mia tersentak, kedua matanya membelalak. Ia tidak yakin bahwa kalimat itu baru saja keluar dari mulut pria di hadapannya.
“Maaf, apa maksud Anda?” tanyanya dengan nada tegas, meskipun tangan yang ia letakkan di meja sedikit gemetar.
“Saya bertanya, berapa harga kehormatanmu?” ulangnya dengan nada datar. “Saya tidak suka membuang waktu, jadi jawab saja.”
“Kalau ini lelucon, Anda salah orang. Saya tidak tertarik menjadi bahan hiburan orang kaya seperti Anda.” Mia mengepalkan tangan. Rasa penghinaan langsung merayap ke dalam dirinya.
"Saya tidak sedang bercanda, Mia. Saya butuh istri, dan kamu adalah pilihan yang tepat. Pertanyaan saya cukup sederhana, apa yang kamu inginkan sebagai gantinya?”
“Pernikahan?” Mia hampir tertawa. Ia menggeleng pelan, mencoba memproses apa yang baru saja ia dengar. “Anda tidak waras.”
"Hanya untuk satu tahun. Pernikahan kontrak, tanpa cinta, tanpa keterikatan emosional. Setelah itu, kita berpisah. Saya akan memberikan kompensasi yang cukup untukmu.”
Mia menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. “Anda pikir saya orang seperti apa? Saya tidak menjual diri saya, apalagi untuk pernikahan seperti itu!”
“Ini bukan soal harga dirimu, Mia." Bara menjawab dengan nada yang lebih tegas. “Ini soal kesempatan. Kamu butuh uang, dan saya butuh istri. Kita bisa saling membantu. Sederhana bukan?"
Mia menegakkan tubuhnya, mencoba menahan rasa panas di wajahnya. “Anda tidak tahu apa-apa tentang saya. Jangan seenaknya membuat asumsi.”
“Oh, saya tahu segalanya,” Bara memotong dengan tenang. “Tagihan sewa rumahmu menunggak tiga bulan, hutangmu pada tetangga sudah hampir tidak bisa ditoleransi, gajimu di tempat kerja bahkan tidak cukup untuk makan sehari-hari, dan Ibumu ... kamu membutuhkan biaya untuk operasi."
Mia terdiam. Jantungnya berdetak kencang, matanya melebar karena keterkejutannya. “Dari mana Anda tahu semua itu?”
"Saya punya banyak cara untuk mengetahui semua tentang kamu." Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Mia seperti seorang pengusaha yang sedang menilai aset berharga. “Kamu tidak perlu tahu caranya. Yang perlu kamu tahu adalah saya bisa menyelesaikan semua masalahmu, asalkan kamu setuju dengan perjanjian ini.”
Mia menggeleng, mencoba menyingkirkan rasa panik yang melanda pikirannya. “Apa sebenarnya tujuan Anda? Kalau Anda kaya seperti ini, kenapa tidak cari orang lain saja? Kenapa saya?”
“Karena saya rasa kamu tidak akan merepotkan. Kamu hanya akan menjalankan kesepakatan ini, tanpa tuntutan, tanpa drama. Saya butuh seseorang yang tidak akan mencampuri urusan pribadi saya, dan kamu adalah orang yang tepat."
Mia terdiam lagi. Tawaran ini, meskipun terdengar menggiurkan dalam beberapa hal, terasa seperti sebuah jebakan.
“Dan apa saja yang akan saya dapatkan dari semua ini?” tanyanya dengan suara rendah.
“Uang DP yang diminta pihak rumah sakit agar ibu kamu segera dioperasi, pengobatan sampai sembuh, biaya hidup, semuanya akan saya tangung, termasuk sekolah adikmu." Bara menjawab langsung. “Setelah pernikahan selesai, kamu bisa meminta apa pun dari saya dan kamu bisa memulai hidupmu dari awal, tanpa hutang, tanpa beban.”
Mia menahan napas. Uang sebanyak itu, jika dikalkulasikan bisa mencapai satu miliar. Jumlah itu lebih dari cukup untuk menyelesaikan semua masalahnya, tetapi bagaimana dengan harga dirinya?
“Saya tidak bisa,” katanya akhirnya, suara Mia bergetar.
“Kamu punya waktu satu minggu untuk berpikir." Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. “Kalau kamu berubah pikiran, hubungi saya.”
Mia memandang kartu nama itu dengan ragu, tetapi tidak mengambilnya. “Kenapa Anda begitu yakin saya akan menerima tawaran ini?”
“Karena saya tahu kamu tidak punya pilihan lain.” Bara menjawab tanpa ragu. “Dan, saya tahu kamu cukup pintar untuk mengambil kesempatan ini.”
Setelah mengatakan itu, Bara berdiri dan meninggalkan kafe tanpa menoleh lagi.
***
"Tolong selamatkan Ibu saya!" Suara Mia pecah, memenuhi lorong rumah sakit. Matanya memerah, napasnya terengah-engah seolah dia baru saja menyelesaikan lari maraton. Ia menggenggam tas kecilnya erat-erat, tubuhnya gemetar karena putus asa.
"Maaf, Bu. Kami mengerti situasi Anda. Tapi operasi ini memerlukan biaya besar. Rumah sakit tidak bisa melanjutkan prosedur tanpa jaminan." Perawat di meja administrasi menatapnya dengan penuh belas kasihan, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jaminan apa lagi yang kalian butuhkan? Saya sudah menandatangani semua dokumen!" Mia memukul meja administrasi, mengabaikan tatapan dari orang-orang di sekitarnya. "Nyawa ibu saya dipertaruhkan!"
"Dokumen saja tidak cukup, Bu. Sudah Kami katakan, kami butuh bukti pembayaran sebagai DP," jawab perawat itu dengan lembut.
Mia merasa dunia runtuh. Segala upaya telah ia lakukan dengan menjual barang-barang, meminjam uang dari tetangga, bahkan menggadaikan satu-satunya perhiasan milik ibunya. Namun ternyata, semua itu belum cukup. Bayangan kehilangan ibunya membuat dadanya terasa sesak, karena dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dijadikan uang, dan hanya ada satu nama dalam ingatan Mia.
"Pak Bara."
Tanpa berpikir panjang Mia pergi ke pusat kota, menemui orang yang paling tidak ingin ia temui. Iya, untuk saat ini hanya Bara yang bisa membantu kesulitannya.
Hujan turun deras ketika Mia berdiri di depan sebuah gedung perkantoran mewah di Jakarta. Tangannya gemetar memegang kartu nama yang diberikan Bara. Keputusan ini bukanlah sesuatu yang mudah ia ambil.
Selama seminggu terakhir, ia terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Setiap malam ia mencoba mencari jalan keluar lain, tetapi kenyataan selalu membawa ia kembali pada fakta bahwa ia tidak punya pilihan.
Ia menelan ludah, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk. Resepsionis membawanya ke sebuah ruang meeting di lantai 20. Bara sudah menunggunya di sana, duduk di belakang meja besar dengan ekspresi tenang.
“Jadi?” tanyanya begitu Mia masuk. “Kamu sudah membuat keputusan?”
Mia mengangguk pelan. “Saya setuju,” katanya, nyaris berbisik.
Bara tidak menunjukkan ekspresi puas atau gembira. Ia hanya mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah dokumen dari map di mejanya. “Baca semua poin yang ada di dalam kontrak ini. Bacalah sebelum tanda tangan. Berkas lengkapnya akan segera disiapkan oleh sekretaris saya.
Mia mengambil dokumen itu dengan tangan gemetar. Ia mulai membaca setiap poin dengan hati-hati, meskipun setiap kata terasa seperti jerat yang semakin mempersempit ruang geraknya.
“Pernikahan ini berlangsung selama satu tahun,” Bara menjelaskan saat Mia membaca. “Tidak ada hubungan emosional, tidak ikut campur dalam kehidupan pribadi masing-masing, tidak ada kontak fisik. Setelah satu tahun, kita berpisah, dan kamu akan menerima apa yang kamu inginkan."
Mia berhenti membaca dan menatap Bara dengan ragu. “Apa sebenarnya tujuan Anda? Kenapa harus pernikahan? Kenapa tidak dengan syarat lain?”
“Saya butuh seorang istri untuk memenuhi syarat warisan perusahaan keluarga,” Bara menjawab tanpa basa-basi. “Peraturan itu meminta saya untuk menikah sebelum saya bisa mengambil alih kendali penuh.”
Mia mengangguk pelan. Alasan itu masuk akal, meskipun tidak sepenuhnya mengurangi rasa tidak nyaman dalam dirinya. “Dan setelah satu tahun?”
“Kita bercerai,” Bara menjawab. “Dan kamu bebas pergi ke mana pun dengan uangmu.”
Mia kembali membaca kontrak itu, kembali tercengang pada satu poin. "Keturunan. Anda menginginkan keturunan dari saya?"
"Iya," jawab Bara tanpa ragu. "Itu poin utama kenapa harus menikah."
"Tidak ada kontak fisik, tetapi Anda menginginkan keturunan dari saya. Lalu, bagaimana saya bisa hamil?"