Bab 6. di Ambang Harapan

1004 Kata
"Ngapain kamu masak?" Bara tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur, memandangi Mia yang sedang sibuk mengaduk sayur di panci, dan suaranya terdengar tegas. Mia menoleh, sejenak terkejut. "Nggak apa-apa, Pak. Biar ada kegiatan aja," jawabnya sambil tersenyum tipis. Di sebelahnya, Bi Marni sedang mencuci sayuran. Ia ikut melirik ke arah Bara, lalu melanjutkan pekerjaannya, berusaha tidak terlalu mencampuri urusan majikannya. Namun, Bara tampaknya tidak puas dengan jawaban Mia. Dia mendekat, mengambil centong sayur yang sedang dipegang Mia. "Kenapa diambil?" tanya Mia bingung, menatapnya dengan heran. "Kamu lupa sama ucapan dokter kemarin?" Bara menatapnya tajam, suaranya sedikit meninggi. "Dia bilang kamu harus menjaga kesehatan. Kalau kamu capek di dapur, gimana kalau nanti malah ada masalah sama rahim kamu? Saya nggak mau ya, cuma gara-gara hal sepele kayak masak gini bikin proses inseminasi kita gagal." Mia menelan ludah. Perhatian Bara terdengar begitu serius, tetapi cara menyampaikannya saja yang terasa kaku, bahkan sedikit kasar. Mia memaklumi itu, baginya Bara adalah majikan, dan bagi Bara Mia adalah pegawai sama seperti yang lain, hanya tugasnya saja yang berbeda. "Tapi, Pak, saya nggak ngerasa capek kok. Masak begini nggak berat, cuma sayur aja. Bara menggeleng tegas. "Pokoknya saya nggak mau kamu terlalu capek. Kalau nggak ada kerjaan lain, cari aktivitas lain yang lebih aman." Mia ingin membalas, tapi dia tahu ini bukan saatnya berdebat. Di sisi lain, Bi Marni hanya bisa menyimak dengan raut wajah khawatir. "Dengar ya, Bi. Kalau sampai saya lihat Mia ada di dapur lagi, kalian yang bakal kena hukumannya. Paham?" Bara beralih ke arah Bibi Marni. "Maaf, Pak Bara. Iya, saya mengerti," jawab Bibi Marni sambil menunduk. Setelah itu, Bara melangkah pergi meninggalkan dapur dengan langkah lebar. Mia yang merasa tidak enak kepada Bi Marni pun mengikutinya dari belakang. "Pak Bara, tunggu." Begitu sampai di ruan tengah, Bara berhenti, berbalik dengan alis terangkat. "Apa lagi?" "Jangan memarahi Bi Marni, Pak. Beliau nggak salah apa-apa." "Makanya kamu jangan aneh-aneh, nurut sama saya." "Saya cuma nggak ngerti, kegiatan apa yang harus saya lakukan kalau nggak boleh masak? Saya nggak bisa terus-terusan duduk diam, itu membuat saya semakin stres," jawab Mia dengan nada yang berusaha tenang. Bara memandangnya, ada kilatan ketidaksabaran di matanya. "Olahraga. Kata dokter, itu bagus buat kebugaran dan kesehatan kamu. Jalan pagi, yoga, atau apa pun. Pokoknya jangan di dapur." Mia menatap Bara sejenak, lalu mengangguk patuh. "Baik, Pak." Setelah Bara pergi, Mia kembali ke dapur dengan langkah gontai. Di sana, Bi Marni langsung menghampirinya, tersenyum kecil sambil menyeka tangannya dengan celemek. "Ciee, yang diperhatiin sama Pak Bara," goda Bibi Marni. "Hati kamu pasti berbunga-bunga, ya? Baru kali ini Bibi lihat Pak Bara peduli banget kayak tadi. Selama Bibi kerja di sini, belum pernah lho Pak Bara begitu sama Bu Luna. Mereka berdua malah terkesan memiliki jarak. Mia hanya tersenyum tipis. Ia hendak menjawab, tapi sebelum sempat berbicara, suara seseorang memotong pembicaraan mereka. "Jangan ge-er dulu kamu, Mia," ujar Luna dingin dari pintu dapur. Perempuan itu melangkah masuk dengan gaya angkuh. "Bara perhatian kayak gitu bukan karena dia peduli. Dia cuma anggap kamu mesin pencetak anak, nggak lebih dari itu. Kasian banget ya kamu." Kata-kata Luna seperti duri yang menusuk hati Mia. Ia mencoba menenangkan dirinya, menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Saya nggak peduli apa pun alasannya, Bu Luna. Yang penting, saya menjalankan peran saya di sini dengan baik, sesuai dengan yang Pak Bara inginkan." Luna mendengus, lalu melipat tangan di dadanya. "Terserah kamu. Tapi jangan lupa, posisi kamu di rumah ini cuma sementara. Setelah Bara dapat apa yang dia mau, kamu nggak akan punya tempat lagi di sini." Mia memilih diam. Ia tahu, membalas ucapan Luna hanya akan memperpanjang masalah. Setelah kejadian di dapur, Mia memutuskan untuk menuruti semua permintaan Bara demi menjaga keadaan tetap baik-baik saja, walaupun hati kecilnya kadang merasa jenuh. Ia hanya melakukan kegiatan ringan seperti senam dan yoga di halaman belakang rumah. Baginya, ini bukan hanya soal menenangkan pikiran, tetapi juga bentuk tanggung jawabnya untuk memenuhi harapan Bara. Waktu berjalan begitu cepat. Satu minggu pun berlalu, dan hari ini Mia dan Bara kembali menemui dokter Theo untuk mendengar hasil pemeriksaan mereka minggu lalu. Bara tampak gelisah, duduk di ruang praktek dengan tangan bersilang di depan d**a. Sementara Mia, meski mencoba terlihat tenang, sebenarnya juga tidak kalah cemas. "Bagaimana, Dok?" tanya Bara langsung setelah dokter Theo masuk ke ruangan dengan berkas hasil pemeriksaan di tangannya. Nada suaranya tegas, mencerminkan ketidaksabarannya. Dokter Theo duduk di kursinya dengan tenang, membuka berkas tersebut, lalu berkata, "Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi Mia cukup bagus. Tubuhnya siap untuk menjalani prosedur inseminasi." Mia menghela napas lega, tapi itu tidak berlangsung lama. Dokter Theo melanjutkan, "Namun, hasil pemeriksaan Anda, Bara, menunjukkan bahwa kualitas s****a Anda mengalami penurunan." Wajah Bara langsung berubah. Matanya menatap dokter dengan penuh ketidakpercayaan. "Apa maksudnya, Dok?" tanyanya dengan nada tajam. Dokter Theo tetap tenang. "Kualitas s****a Anda saat ini tidak dalam kondisi optimal. Proses inseminasi atau bahkan bayi tabung akan sulit berhasil jika kualitasnya seperti ini." Tanpa peringatan, Bara menggebrak meja di hadapannya. Suara keras itu membuat Mia tersentak. "Gimana sih, Dok?! Minggu lalu semua normal, sekarang Anda bilang kualitas s****a saya buruk? Saya sudah menjaga pola hidup sehat, makan makanan bergizi, bahkan olahraga teratur. Kok bisa jadi seperti ini?!" Ruangan itu terasa tegang. Mia menatap Bara dengan khawatir. Ia tahu suaminya mudah emosi, terutama jika menyangkut masalah yang penting seperti ini. Namun, Dokter Theo tetap mempertahankan sikap profesionalnya. "Pak Bara," sela Mia dengan lembut, mencoba menenangkan suasana. "Dokter pasti lebih tahu apa yang terjadi. Daripada kita marah-marah, lebih baik kita fokus mencari solusinya." Bara menghela napas panjang, berusaha meredakan emosinya. Ia menatap Mia sejenak, lalu kembali melihat Dokter Theo. "Baiklah. Apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki kondisi ini?" tanyanya dengan nada lebih tenang, meskipun masih ada sisa kekesalan di matanya. Dokter Theo tersenyum tipis. "Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan. Pertama, konsumsi obat-obatan yang akan saya resepkan. Kedua, terus jaga pola hidup sehat, termasuk olahraga teratur dan cukup istirahat. Dan yang paling penting adalah terapi." "Terapi apa?" tanya Bara penasaran. Dokter Theo menatap mereka bergantian sebelum menjawab. "Banyak melakukan hubungan suami istri."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN