bc

Lelaki itu Ayahku

book_age18+
353
IKUTI
1.9K
BACA
like
intro-logo
Uraian

Syazwani dan ayahnya, Amran, dianggap sebagai orang buangan oleh keluarga sendiri. Mereka berdua hidup terasing di sebuah rumah besar yang sudah tua, peninggalan leluhur sang ayah.

Di saat Syazwani menginjak usia sebelas tahun, ayahnya menderita stroke, tetapi tidak ada seorang pun dari saudara kandungnya yang bersedia membantu merawat sang ayah. Tidak hanya enggan menjalankan tanggung jawab sebagai anak, Keenam kakak syazwani, bahkan tega merampas uang belanja bulanan yang diberikan ibu mereka untuk kebutuhan sang ayah.

Syazwani tidak mengerti mengapa mereka berdua dimusuhi. Kesalahan apa yang dilakukan ayahnya, hingga tidak ada seorang pun dari kakak-kakaknya yang bersedia membuka pintu maaf. Bahkan ketika ayahnya meninggal pun, keenam kakak syazwani enggan datang.

chap-preview
Pratinjau gratis
Di Makam Amran
Seharusnya Syazwani menangis, mengurai air mata di makam usang dengan batu nisan berlumut. Harusnya ia bersedih, melihat rumah peristirahatan terakhir sang ayah, begitu kotor tak terurus. Namun, sayang, air mata perempuan berusia dua puluh dua tahun itu, enggan tumpah. Meskipun jauh di dalam hati sangat berduka. Saat ini dirinya hanya ingin marah, meluapkan rasa benci pada segelintir orang yang merasa dirinya suci. Namun, tidak ada empati. Hati siapa yang tidak lara dan bercampur marah, melihat rumah terakhir milik cinta pertamanya begitu kotor tak terawat. Sedangkan laki-laki sepuh yang beristirahat dengan tenang di dalam sana, telah membesarkan tujuh orang anak penuh cinta, dan berhasil mengantarkannya menjadi orang-orang ternama. Di mana keenam anaknya yang lain? Apakah anak Amran hanya dirinya seorang, sehingga tidak ada seorang pun yang bersedia membantu merawat makam sang ayah? Tidakkah ada seorangpun dari saudaranya yang bisa menghargai pengorbanan Amran sebagai orang tua? Laki-laki renta yang tetap memikul tanggung jawab sebagai ayah, meskipun sudah tidak berdaya. Tetap meletakkan diri sebagai orang tua, walaupun dibenci oleh anak-anaknya. “Ayah, lama tak jumpa. Rumah Ayah kotor, penuh lumut dan rumput kecil,” lirih suara Syazwani, berbicara pada batu nisan usang sang ayah. Tangan kurus dengan jari jemari yang lentik itu, mengusap batu nisan bertuliskan nama Amran Yazid. Seolah di saat mengusap batu nisan itu yang telah memudar warnanya di makan usia itu, membuatnya merasa sedang membelai rambut sang ayah. “Maafkan Syaz yang jarang datang berkunjung, Yah. Syaz terlalu sibuk berbenah diri,” lanjutnya, Tangan lentik itu berganti mencabuti rumput-rumput kecil yang ada di atas makam. Menyingkirkan beberapa kantong plastik berukuran kecil di sekitar pusara yang entah dari mana datangnya. Sudah berapa bulan Syazwani tidak mengunjungi makam Amran. Ketiadaan waktu karena terlalu sibuk dengan penyakit yang diderita membuatnya harus sabar berdiam diri di rumah. Apalagi penyakitnya memang membutuhkan perawatan ekstra. Menyita banyak waktu, tenaga, serta biaya. Tidak ada niatan Syazwani melupakan Amran, bukan pula sengaja mengabaikan makam sang ayah yang menjadi tanggung jawabnya selama ini. Berbulan-bulan lamanya tidak datang mengunjungi beliau. Semua karena penyakit yang Syazwani derita. Penyakit yang sering membuat wanita itu lupa diri dalam artian yang sebenarnya. Sering kali Syazwani tidak dapat mengingat siapa dirinya, siapa anaknya, dan siapa saja orang yang berada disekitarnya. Penyakit yang sangat sulit untuk ia kendalikan. Namun, sayang, dirinya sangat mudah dikendalikan oleh penyakit itu. “Tak adakah seorang anak-anak ayah yang mau datang kemari? Tidak pun perlu setiap minggu membersihkan rumah ayah, cukuplah sebulan sekali,” ucapnya lirih. Syazwani pernah berpikir, kalau ketidakhadirannya di makam sang ayah setiap minggu, akan membuat saudara yang lain rajin bertandang. Menyisihkan waktu menziarahi orang tua mereka. Sayangnya pikiran itu hanya harap hampa. Dugaan Syazwani salah besar. Tidak seorang pun anak-anak dari almarhum ayahnya bersedia datang. Menggantikan tugas merawat tempat peristirahatan terakhir Amran. Terbukti dengan tak terurusnya makam orang yang sangat dicintainya itu. Tiba-tiba Syazwani tertawa lirih. Teringat kenangan lama saat dirinya masih sangat kecil. Dulu dirinyalah yang selalu merawat Amran. Dari masih sehat, hingga terserang stroke. Tidak ada satu pun dari saudaranya yang berniat ringan tangan membantu. Jangankan untuk merawat, menjenguk sang ayah pun, mereka semua keberatan. Lebih menyedihkan lagi, bukan hanya semua saudaranya yang mengabaikan sang ayah, bahkan ibunya pun, turut tak peduli. Semua kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh ketujuh orang anak Amran, dilakukan oleh Syazwani seorang diri, selaku anak bungsu. Padahal saat itu usianya baru menginjak sebelas tahun. Wajar kalau tugas itu terbawa sampai sekarang. Seakan sudah menjadi hak paten dalam keluarga mereka, bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas hidup sang ayah. “Dunia tak adil pada kita, ya, Yah? Kita tumpahkan cinta dan kasih sayang, tetapi dilupakan orang. Bahkan jasad sudah tinggal belulang pun, tak ada yang bersedia ziarah." Selesai membersihkan rumput-rumput liar, Syazwani berganti membersihkan nisan dan makam ayahnya. Mengelapnya dengan kain kecil yang sudah dibasahi air mineral. Sebuah kebiasaan lama yang tak pernah berubah. Sejak dulu, setiap kali Syazwani datang menziarahi makan Amran, selalu membawa kain kecil dan air mineral untuk membersihkan makam. Menggosoknya agak sedikit kuat, agar debu dan noda tanah yang menempel terhapus. “Ke mana anak-anak Ayah yang lain? Seorang pun dari mereka tak ada yang sudi datang. Ooh ... Syaz lupa, kita berdua hanyalah orang buangan. Sampai mati pun tak akan ada orang yang mengingat,” ucapnya lagi. Menyeka keringat yang menetes di dahi dengan punggung tangan. Wanita itu kembali mengingat masa lalu. Masa di mana dirinya dan Amran terasing dari seluruh keluarga. Hidup berdua di sebuah rumah tua yang amat besar, meskipun masih memiliki ibu yang kaya raya, serta banyak saudara kandung yang sudah menjadi orang berpangkat di kota mereka. Ibunya merupakan seorang peniaga ternama di Pontianak. Memiliki banyak toko sembako yang tersebar hampir di seluruh kota, bahkan hingga ke kabupaten. Keenam saudara Syazwani pun, merupakan orang terpandang. Memiliki jabatan penting di pemerintahan. Namun, entah mengapa, tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersedia memberikan secuil kasih sayang padanya dan Amran. Saat masih kecil Syazwani selalu bertanya pada sang ayah, mengapa ibu dan keenam saudaranya tidak bisa menerima kehadiran dirinya? Apakah perbedaan usia yang terlalu jauh, membuat mereka malu memiliki seorang adik bungsu? Namun, bagaimana dengan ibu? Mengapa ia juga membenci Syawani? Lambat laun Syazwani enggan lagi bertanya pada Amran. Merasa sia-sia mencari kebenaran, karena ayahnya pun tak pernah mau bercerita. Syazwani hanya bisa diam menerima kebencian dari Keenam saudara dan ibunya. Pasrah menerima kata-kata pedas penuh hinaan yang mengatakan dirinya dan sang ayah merupakan aib keluarga. “Syaz lupa kalau kita berdua cuma noda hitam yang meninggalkan warna kotor pada anak-anak ayah yang putih suci. Maklumlah, mereka tuh orang terhormat dan terpandang. Tak pantas disandingkan dengan kita, orang pendosa!” omel Syazwani tanpa henti. Entah untuk didengar siapa sindiran pedas itu ia keluarkan. Meskipun tidak ada orang yang mendengar umpatan dan ocehan bernada marah yang ia luahkan. “Tapi yang Syaz heran, tidak pernah pula mereka lupa dengan harta warisan ayah. Siap begaduh dengan adik beradik meminta bagian. Hilang malu berebutkan sepetak tanah sampai ke kantor polisi dan pengadilan.” Kembali bibir tipis Syazwani mengeluarkan kata-kata pedas seiring selesainya pekerjaan membersihkan makam Amran. Ocehan wanita Syazwani terhenti seiring berakhirnya pekerjaannya membersihkan makam Amran. Ia mengumpulkan lap kecil dan botol kosong sisa air mineral ke dalam kantong plastik. Meletakkannya di sisi makam agar tidak terlupa dibawa pulang. Tanpa menyadari, seorang perempuan paruh baya memperhatikannya dari kejauhan. Cukup lama perempuan paruh baya itu mengintai Syazwani dari gerbang makam, menunggu hingga pekerjaannya selesai. Membiarkan wanita muda itu bekerja menguras tenaga membersihkan makan Amran seorang diri. Wanita paruh baya itu mendekat, setelah melihat Syazwani berjongkok di sisi makam sembari mengeluarkan buku kecil berisikan Surah Yasin, serta bacaan Tahlil. Melantunkan bacaan ayat suci dengan fasih.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Setelah Tujuh Belas Tahun Dibuang CEO

read
1.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TETANGGA SOK KAYA

read
52.2K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook