Tak ada malam pertama

1002 Kata
Maya dan Erwin akhirnya sah menikah secara siri. Beberapa tetangga Maya ikut hadir dalam proses pernikahan itu. Semuanya terlihat serba sederhana. Dari dekorasi, makanan dan yang lainnya. Hanya pakaian Erwin saja yang mewah sendiri. Maya duduk bersanding dengan pria yang dulunya hanya orang lain, kini sudah berganti status menjadi suaminya. "May, salaman dulu sana dengan suami kamu! Kenapa kamu malah bengong begitu?" bisik bibi Titin, menyenggol lengan Maya pelan. Terus terusan disuruh oleh bibinya. Maya akhirnya mengulurkan tangannya lebih dulu ke arah Erwin. Erwin menatap sekilas tangan putih Maya. Hingga akhirnya juga ikut mengulurkan tangannya membalas jabatan tangan itu. Maya dengan kakunya mencium punggung tangan suaminya. Sedangkan Erwin, entah mendapat bisikan dari mana. Tanpa perintah dari siapapun, langsung mengecup kening Maya. Mungkin karena sudah pernah melakukan pernikahan sebelumnya, membuat Erwin langsung bergerak. Maya memejamkan matanya merasakan sentuhan hangat dari bibir kenyal Erwin. Kecupan yang harusnya berlangsung singkat. Kini malah berlangsung lama, Erwin terlalu betah meletakkan bibirnya berlama-lama di kening istri keduanya itu. "Mas, kecup keningnya sudah dulu! Nanti saja malam baru lanjut?" ledek salah satu saksi, menegur Erwin. Mendengar itu, Erwin dengan cepat menarik tangan dan mulutnya. Wajahnya sedikit memerah menahan malu. Sedangkan Maya hanya menunduk malu, ini kali pertama untuk Maya. Sebelumnya, jangankan dikecup pria lain di kening. Berpegangan tangan dengan pria lain saja Maya tidak pernah. Satu jam berlalu, setelah pernikahan selesai. Erwin bersiap untuk kembali ke kota. Maya diperintahkan Erwin untuk segera bersiap. Tanpa mau membantu sang istri, Erwin lebih memilih menunggu Maya di dalam mobilnya, menikmati hembusan pendingin udara di mobilnya. Air mata Maya jatuh begitu saja, saat memandangi sekeliling rumah peninggalan orang tuanya. Rumah yang selama 20 tahun dia tempati itu, hari ini dan seterusnya akan kosong tanpa ada yang menghuni lagi. Bibi Titin langsung menghampiri Maya yang sedang duduk di atas tempat tidurnya, dengan memegang tas kain berukuran sedang. "May, kenapa melamun di sini? Itu suami kamu sudah menunggu di dalam mobil mewahnya. Ayo cepat!" desak bibi Titin, sudah tidak sabar lagi melihat Maya pergi. Semua itu karena, setelah sang keponakan pergi bersama Erwin. Uang lima puluh juta yang sudah Erwin janjikan, akan langsung diberikan orang kepercayaan Erwin kepada Arman dan juga Titin. "Sebentar lagi Bi. Aku masih mau di sini. Rumah ini begitu banyak kenangannya. Berat sekali rasanya, jika harus pergi meninggalkan semuanya yang ada di sini," ucap Maya. "Aduh May, ini hanya rumah tua. Walaupun banyak kenangannya, status kamu sekarang sudah berubah. Kamu sudah menikah, dan harus ikut ke mana suami kamu pergi. Cepatlah! Jangan terlalu meratapi kesedihan! Toh, saat kamu sampai di kota nanti, kamu akan melupakan kesedihan ini. Rumah yang sudah disiapkan oleh pak Erwin, pasti berkali-kali lipat lebih bagus dari rumah gubuk derita ini," desak bibi Maya, menarik tangan Maya sedikit kasar. "Maya titip rumah ini Bi," ucap Maya. Malas berdebat dengan sang bibi, Maya akhirnya beranjak dari tempatnya. Maya menyeret kasar kakinya. Tas kain berukuran sedang dan usang, satu-satunya harta berharga yang Maya bawa dari desa kelahirannya. "Sudah siap?" tanya Erwin, bergegas membuka kaca jendela mobilnya saat melihat Maya berjalan mendekat. "Iya," Maya menjawab singkat. Tidak ada pilihan lain, Erwin membuka pintu mobilnya dan menggeser posisi duduknya ke arah samping. Duduk berdua dengan seorang gadis kampungan seperti Maya, membuat Erwin merasa harga dirinya turun seperti diinjak-injak. Wajahnya terlihat tidak senang dengan kehadiran Maya. Namun, mau bagaimana lagi? Semua ini demi mencapai kepuasannya. Mobil yang ditumpangi Maya dan Erwin melaju melewati beberapa rumah tetangga yang menatap kepergian Maya dengan senyuman dan cibiran. Sedangkan bibi dan paman Maya, bergegas menutup pintu rumah mereka. Uang lima puluh juta tampak bersusun di atas meja rumah mereka. Memiliki uang sebanyak itu, tentulah membuat orang menjadi lupa diri. Tak terkecuali paman dan bibi Maya. Mereka bahkan tidak mempedulikan, bagaimana nasib keponakan mereka nanti ke depannya. Yang terpenting saat ini adalah uang. Keserakahan membuat mata dan hati mereka buta. Beberapa jam berlalu, akhirnya Maya sampai juga di sebuah kawasan perumahan yang kesannya biasa saja. Sebenarnya Maya tidak mempedulikan bangunan yang akan dirinya tempati nanti. Hanya saja, rasa heran muncul dalam benaknya, mengenai kesan yang dari awal Erwin perlihatkan di desanya. Seorang pria kota yang hidup bergelimang harta dan kaya raya. Namun, mengapa huniannya jauh dari kata mewah seperti orang kaya raya kebanyakannya. "Ayo turun! Kenapa diam saja?" tanya Erwin, sifat aslinya sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit. Maya tersadar dari lamunannya. Melihat ke arah samping, sang suami ternyata sudah turun lebih dulu. Maya yang mengira akan mendapat perlakuan istimewa dari sang suami, nyatanya harus menelan perkiraan itu. Erwin tidak mempedulikan dirinya sama sekali. Membukakan pintu untuk dirinya saja. "Ayo masuk!" seru Erwin, membuka pintu rumah dan masuk lebih dulu ke dalamnya. Maya hanya mengangguk sambil mengikuti langkah suaminya, dengan menjinjing tas kain lusuh di tangannya. "Rumah ini tempat tinggal kamu sekarang, semoga suka dan betah," ucap Erwin, menatap Maya dengan tatapan aneh. "Tempat tinggal saya? Apa hanya saya yang akan tinggal di rumah ini?" tanya Maya, mengartikan sesuatu yang lain dari kata-kata Erwin. "Ah, maksudnya tempat tinggal kita. Untuk 40 hari ke depan, kamu akan tinggal di sini dulu. Rumah utama sedang dalam tahap renovasi. Tapi, ada sesuatu yang ingin aku beritahu. Malam ini sepertinya kamu harus tidur sendiri di sini, aku harus pergi karena ada urusan bisnis mendadak," ucap Erwin, dengan santainya mengatakan itu, tanpa mempedulikan perasaan Maya. "Apa harus malam ini? Maksud saya, ini malam pertama kita. Apa tidak bisa,-" Kata-kata Maya seketika saja terhenti saat Erwin menyelanya lebih dulu. "Bisa apa? Besok saja? Maaf, bisnis ini sangat penting untuk perusahaanku. Jadi, aku harap kamu bisa mengerti," Maya hanya bisa mengangguk, berdebat pun percuma. Dirinya hanya seorang gadis desa yang tidak mengerti apa-apa mengenai bisnis ataupun semacamnya. Setelah mengatakan itu, Erwin langsung pergi, tanpa berpamitan lebih dulu dengan Maya. Maya menatap punggung pria yang kini sudah sah menjadi imamnya itu semakin menjauh, dan akhirnya hilang tatkala Erwin masuk ke dalam mobil mewah miliknya. Di dalam rumah berukuran lebih besar dari rumahnya di desa, Maya tinggal seorang diri. Malam pertama yang digadang-gadang akan menjadi malam sejarahnya, kini harus sirna dengan perginya Erwin karena alasan bisnis perusahaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN