Maya menghentikan langkahnya tidak jauh dari Erwin berdiri. Dadanya bergemuruh menahan sesak yang datang tiba-tiba. Tubuhnya yang letih tak ia pedulikan lagi. Keringat sebesar biji jagung mulai memenuhi keningnya. Pertemuan kembali setelah setengah bulan lebih, nyatanya membuat Maya masih merasa sakit. "Kenapa Maya muncul disaat yang tidak tepat sih? Kalau saja Maya tidak muncul, aku yakin pak Erwin pasti akan mengganti uang ganti rugi setelah mendengar ceritaku tadi," umpat bi Titin, gegas menjauh saat Erwin masih menatap Maya. Erwin terpaku menatap tubuh sang istri yang terlihat sedikit kurus dari sebelum terakhir ia lihat. Loyang besar yang Maya pegang masih ada sisa jualan yang tak laku, semakin membuat Erwin merasa bersalah. Matanya menatap nanar wajah Maya, hampir saja buliran beni

