Di rumah berukuran kecil dengan dinding anyaman bambu yang tampak mulai lapuk Maya berada. Duduk di kursi yang mulai terlihat miring, Maya bersandar merenungi garis takdirnya. Seharian merenung, kini tak ada lagi penyesalan. Hanya rasa sakit dan kecewa yang masih setia bergelayut memenuhi ruang hatinya yang kini mulai kosong. "May, buka pintunya!" Suara bibi Titi terdengar nyaring, dari balik pintu reot rumah Maya. Maya hanya menoleh sejenak. Tak ada niat sedikitpun untuk beranjak, apalagi membuka pintu untuk bibi yang sudah tega menjual dirinya. Kesal karena sang keponakan tak kunjung membuka pintu. Bibi Titi semakin gencar mengetuk, sesekali disertai dengan gedoran keras. "May, buka sebentar! Ada yang mau Bibi tanyakan," teriak bibi Titin tak pantang menyerah. Rasa penasaran dengan

