Kenapa bukan Giska, Bu?

1418 Kata

Puas menumpahkan semua perasaannya. Kini Maya mulai terlihat tenang. Sebuah senyuman terbit di wajah cantiknya yang masih terlihat sembab. "Lebih baik kamu cuci muka dulu! Jangan sampai Erwin memikirkan yang tidak-tidak," ujar ibu Erwin, mengelus lembut pucuk kepala Maya. Maya mengangguk, kemudian beranjak menuju toilet yang ada di dalam kamar mertuanya. Di dalam toilet, Maya memperhatikan pantulan wajahnya dari depan cermin. Matanya masih terlihat merah dan sembab. Dengan cepat ia cuci, sampai terlihat lebih segar dari sebelumnya. "Kamu sudah selesai?" tanya ibu Erwin, melihat Maya yang baru saja keluar dari toilet. "Sudah Bu," jawab Maya, seraya mendekat ke arah mertuanya. Ibu Erwin menepuk kasur di samping tempatnya duduk. "Sini Nak!" Maya menghempaskan bokongnya pelan, duduk di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN