Part 01 (Pertemuan)
Flashback
Bruk
“Aduh!” pekik Almahira.
Beberapa barang yang Almahira bawa berjatuhan karena ada seseorang yang tidak sengaja menabraknya. Ia menatap laki-laki itu dengan tatapan kesal. “Tuh kan, jatuh!” Almahira mengomel melampiaskan kekesalannya.
“Lain kali kalu jalan lebih hati-hati lagi!”
“Kalau kayak gini kejadiannya jadi masalah buat orang lain.”
“—“ laki-laki itu terdiam mendengarkan perkataan Almahira.
“Maaf!”
“Ck,” Almahira justru berdecak setelah mendengar permintaan maaf darinya.
Tanpa mengatakan apapun Almahira melangkah pergi meninggalkan laki-laki tersebut. Ada hal yang lebih penting daripada mengurusi orang lain. Tanpa Almahira ketahui laki-laki itu adalah seorang Dosen yang mengajar di kampusnya saat ini. Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
Flashback off
***
Tok.. tok.. tok
“Sayang, kamu sudah siap?” Rahma mengetuk pintu kamar putrinya karena sejak beberapa menit lalu tidak kunjung keluar.
“—“
Tok.. tok.. tok
“Almahira!” panggilnya
“Ke mana anak itu? Kenapa nggak ada jawaban?” gumamnya
Ceklek
Rahma memutar knop pintu karena tidak mendapat jawaban dari putrinya. Dan ternyata Almahira tengah duduk santai di pinggir kasur. Bahkan saat ini anak itu menatap ke arah Ibunya. “Astagfirullah’haladzim, Almahira!”
“Ya Allah, kamu dari tadi belum siap-siap juga, nak!?”
Almahira mengerucutkan bibirnya. Ia tidak mau menghadiri acara tersebut. Ia sudah menolak namun kedua Orang Tuanya tetap memaksa. Terbesit keinginan untuk kabur, tapi ia takut berdosa karena melawan perintah Orang Tua.
“Bunda, Almahira nggak mau. Almahira mau di rumah aja!”
“Huhh.” Rahma menghela nafas kasar.
Rahma duduk tepat di samping putrinya. Beliau mencoba memberi pengertian agar Almahira mau ikut bersamanya. “Nak, pertemuan itu hanya sebentar. Dan Ayah sekarang sudah menunggu di bawah sejak beberapa menit yang lalu. Apa kamu tidak kasihan dengan Ayah?”
“Tapi Bunda…”
“Hanya sebentar, sayang!” ujar Rahma sembari mengelus kepala putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Ck,” decak Almahira
“Ganti baju sekarang, ya! Ayah dan Bunda menunggu di bawah.”
“Tapi…”
“Jangan pakai lama ya, sayang!” dan setelahnya Rahma keluar dari kamar meninggalkan putrinya yang sedang menahan kesal.
“Aarrghhh,” teriak Almahira
Almahira menghentakkan kakinya karena kesal. Penolakannya sama sekali tidak berguna, karena kedua Orang Tuanya tetap kekeh meminta dirinya untuk ikut. Almahira menarik nafas panjang lalu ia hembuskan secara perlahan. Ia melakukannya berulang kali agar bisa lebih tenang. Ia harus bisa mengontrol amarahnya.
“Sabar, Almahira!”
“Kamu harus bisa tenang dan sabar. Lagipula Bunda bilang kalau pertemuan itu hanya sebentar.” ucapnya sembari tersenyum paksa
Almahira tidak tahu pertemuan apa yang akan dilakukan kedua Orang Tuanya. Ia menolak untuk ikut karena ingin tetap berada di rumah. Namun sayang, sepertinya pertemuan itu mengharuskan dirinya untuk ikut.
Beberapa menit kemudian.
“Bunda, di mana Almahira? Kenapa dia lama sekali?” tanya Akmal
“Tadi Bunda sudah bilang untuk segera bersiap, Yah. Semoga saja sebentar lagi datang.”
Dan tidak lama terdengar suara langkah mendekat ke arah ruang tamu. Akmal dan Rahma menatap ke sumber suara dan ternyata putri mereka yang datang. Almahira sudah siap dengan style hijabnya yang modern.
“Kamu sudah siap, nak?” tanya Rahma
“Hmm,” gumam Almahira dengan nada malas.
“Yaudah, kita berangkat sekarang!”
“Ayo, Yah!” Akmal mengangguk sembari tersenyum.
Mereka masuk ke dalam mobil. Selama di perjalanan tidak ada obrolan, bahkan Almahira lebih memilih untuk menatap ke luar kaca. Moodnya hancur berantakan, namun dipaksa untuk tetap terlihat baik-baik saja.
Sesekali Rahma menoleh ke belakang untuk melihat putrinya. “Sayang, senyum dong! Masa dari tadi Bunda lihat cemberut terus.”
“—“
“Almahira!” panggilnya sekali lagi dengan nada lembut.
“Almahira capek, Bunda.”
“Ayah dan Bunda kan tahu sendiri kalau Almahira baru saja masuk kampus. Kegiatan Almahira sudah mulai aktif hari ini.” lanjutnya
Akmal dan Rahma saling menatap. Mereka tahu akan hal itu. Tapi, mereka sudah terlanjur membuat tanggal pertemuan dengan seseorang. Dan karena itu mau tidak mau Almahira harus ikut bersamanya.
Almahira menatap ke arah Ibunya karena Rahma tidak menjawab perkataannya. “Huhh.” Ia menghela nafas kasar.
Kurang lebih membutuhkan waktu 45 menit untuk sampai di tempat tujuan. Almahira menatap sekeliling karena merasa asing dengan tempat tersebut. Sebelumnya ia belum pernah mendatangi tempat ini bersama Orang Tuanya.
“Restaurant?” Rahma mengangguk sembari tersenyum.
“Kita sebenarnya mau ketemu siapa sih, Ayah, Bunda?” tanya Almahira karena merasa begitu penasaran.
“Ada. Nanti kamu juga akan tahu sendiri.” jawab Akmal
“Kenapa Ayah nggak langsung jawab aja kita bertemu siapa sekarang ini!”
“Kita masuk, yuk!” bukannya menjawab pertanyaan Almahira, Akmal justru mengacak istri dan putrinya masuk ke dalam Restaurant tersebut. Mereka pasti sudah ditunggu di dalam.
“Astagfirullah. Sabar, Almahira!”
“Mau bagaimanapun beliau adalah Ayah kandung kamu.” ucapnya dalam hati
Almahira berjalan di belakang kedua Orang Tuanya. Akmal dan Rahma tersenyum saat melihat keluarga yang akan mereka temui. “Assalamualaikum.” salam Akmal dan Rahma bersamaan
“Waalaikumsalam. Akhirnya kalian datang juga.” mereka berdiri menyambut kedatangan Keluarga Akmal.
Almahira menautkan kedua alisnya bingung karena belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Bahkan sepertinya mereka bukan anggota keluarganya. “Mereka siapa? Atau mereka keluarga jauh Ayah dan Bunda? Tapi kenapa aku nggak tahu?” batinnya bertanya-tanya
Almahira bersalaman dengan Fatimah untuk menghormati beliau. Ia tersenyum canggung menatapnya. Bahkan wajahnya terlihat kebingungan. Ia tidak tahu apa-apa tentang mereka. “Kenapa wajah mereka asing sekali bagiku?” batinnya berucap
“Jadi, ini anak kamu Akmal?” tanya Zainal
“Iya. Ini anak saya namanya Almahira!” Akmal tersenyum memperkenalkan putrinya pada keluarga mereka.
Almahira hanya tersenyum canggung. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia duduk tepat di samping Ibunya. Mulutnya terasa gatal ingin bertanya banyak hal pada Orang Tuanya. “Bunda, mereka ini siapa? Kenapa Almahira belum pernah melihat mereka sebelumnya?” tanyanya dengan nada berbisik
“Apa mereka keluarga jauh kita?” lanjutnya
“Sstt!” Rahma meminta putrinya untuk diam.
“Ck, Ayah dan Bunda kenapa sih? Sejak tadi aku tanya nggak dijawab.” gerutu Almahira dalam hati
Almahira sejak tadi menahan rasa kesal. Ia berulang kali bertanya namun tidak ada jawaban dari kedua Orang Tuanya. Yang ada mereka hanya meminta dirinya untuk diam dan menunggu. Apa yang harus ia tunggu?
“Oh ya, di mana putra kalian?” tanya Akmal
“Sebentar lagi datang!”
“Putraku izin datang terlambat karena masih ada urusan.” Akmal dan Rahma mengangguk mengerti.
“Oh ya, silahkan duduk! Sembari menunggu putraku sebaiknya kita ngobrol dan menikmati hidangan yang ada.”
“Terima kasih.”
Sembari menunggu anggota keluarga yang belum datang mereka berbincang tentang bisnis. Almahira yang tidak tahu apa-apa memilih untuk memainkan ponselnya. Rasanya begitu membosankan. Justru ia lebih baik diam di rumah sembari menikmati ketenangannya.
Almahira terus menggerutu dalam hati. Bermain ponsel membuatnya bosan, namun di satu sisi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Yang ia inginkan adalah pulang ke rumah lalu istirahat. Tubuhnya terasa lelah karena aktivitasnya terlalu padat hari ini.
"Ck, Ayah dan Bunda nggak kasihan sama Almahira." ucapnya dalam hati
Next>>