-19- Behind You

1215 Kata
Don’t be afraid I’ll always be there Behind you To keep you safe   “Kupikir kejadian seperti tadi hanya ada dalam novel yang ditulis Bea,” celetuk Elia ketika mereka tiba di pelataran parkir taman kota yang terletak di depan sebuah universitas di Madiun. Bea dan Radit mendengus kompak menanggapi komentar Elia itu. “Anyway, aku harus pergi dan menelepon Juna dulu. Kami belum mengobrol lama sejak beberapa hari lalu. Jadi, have a nice time …” Lalu, tanpa beban, Elia keluar dari mobil dan pergi ke arah taman, entah ke mana, seraya memulai telepon sibuknya dengan Juna. Bea mendesah lelah seraya melepas seat belt-nya, lalu turun dari mobil. Radit menyusul kemudian. Keduanya masuk dari samping taman itu. Taman itu sudah jauh berubah sejak terakhir kali Bea melihatnya. Tahun lalu, sepertinya taman ini masih berupa lapangan rumput. Tapi kini, taman itu tampak indah dan nyaman. Bukan lagi lapangan berumput tak terurus. Sore itu, suasana taman itu cukup ramai. Ada anak-anak yang bermain di permainan favorit mereka, ada komunitas skateboard yang bermain skateboard di seberang tempat bermain anak-anak. Banyak pula pasangan dan keluarga yang datang ke sana untuk jalan-jalan dan sekadar duduk-duduk sambil menikmati makanan ringan. Bea menuruti langkah kakinya yang membawanya ke area bermain anak-anak. Bea duduk di ayunan yang kosong dan menatap langit seraya berayun perlahan. Suasana sejuk sore itu membuat Bea sedikit tenang. Ia memejamkan mata, menikmati embusan angin ketika ayunannya berayun perlahan. Ia tersenyum mendengar celoteh lucu anak-anak kecil di sekitarnya. “Tante …” Suara imut itu membuat Bea membuka matanya. Ia menunduk dan dilihatnya seorang anak perempuan imut yang mungkin masih berumur tiga tahun berdiri di sampingnya, memakai jaket putih motif polkadot dengan sepasang telinga kelinci di tudung jaket yang dipakainya itu. “Hai, kelinci kecil,” sapa Bea ramah seraya menghentikan ayunannya. “Siapa namamu?” tanyanya seraya menyentil telinga kelinci di tudung jaketnya. Gadis kecil itu tampak seperti kelinci yang imut dan lucu dengan tudung jaket bertelinga seperti itu. “Namaku Beyya,” jawabnya riang. “Bea?” Bea mengerutkan kening. “Beyya,” ulang gadis kecil itu. Bea menatap gadis kecil itu dengan kening berkerut. Namanya Beyya? “Beyya mau naik ini,” ucap gadis kecil itu sembari menunjuk Bea, atau mungkin maksudnya, ayunan yang diduduki Bea. Bea akhirnya mengalah dan akan turun, tapi gadis kecil itu menahan tangan Bea. “Tante pegangi Beyya. Beyya takut jatuh yagi.” Gadis kecil itu lalu menunjuk lututnya yang tampak tertutup plester pink dengan motif kelinci. “Tapi, aku …” “Tante, Beyya mau naik ini …” rengek gadis kecil itu sembari menggoyang-goyangkan tangan Bea yang digenggamnya dengan tangan kecilnya. Bea menatap sekitar, berharap orang tua anak ini datang, tapi tak ada satu pun orang tua yang tampak mencari anaknya. Di tengah kebingungan dan kepanikan Bea itu, gadis kecil tadi menarik-narik tangan Bea. Ketika Bea menunduk menatap gadis itu, tampak gadis kecil itu merengut. Bibirnya maju beberapa senti, membuatnya tampak semakin imut. “Beyya mau naik ini …” Bea yakin, gadis kecil ini akan menangis ketika dia menggembungkan pipi. Dugaan Bea terbukti ketika detik berikutnya, gadis kecil itubenar-benar menangis keras. Bea yang panik segera berlutut di depan gadis kecil itu, sementara semua tatapan pengunjung taman tertuju padanya.   “Iya, iya … kalau kau berhenti menangis, aku akan naik ayunan denganmu,” bujuk Bea akhirnya. Gadis kecil itu berhenti menangis dan tersenyum lebar. Apa dia hanya akting? Bea menghela napas dan akhirnya menggendong anak itu. Bea tidak pernah berinteraksi dengan anak kecil sebelumnya. Jadi, Bea selalu takut jika harus berurusan langsung dengan anak kecil, bahkan meskipun ia suka mendengar celotehan lucu mereka. Bahkan, saat ini pun Bea merasa canggung ketika menggendong gadis kecil ini. Bea jadi bingung bagaimana dia akan naik ayunan sambil menggendong anak kecil? Bea sudah akan duduk, tapi berdiri lagi. Bea harus berpegangan di ayunan juga, kan? Tapi, bagaimana bisa dia melepas gadis kecil ini? Bagaimana jika nanti gadis kecil ini terjatuh? Di tengah kebingungannya, tiba-tiba seseorang mengambil alih gadis kecil dari gendongan Bea itu. Bea menoleh kaget. Tadinya sempat berpikir itu adalah orang gadis kecil itu, tapi ternyata itu adalah Radit. “Radit?” “Duduklah dulu,” ucap Radit. Bea mengangguk menurut dan duduk di ayunan itu. Lalu, Radit membungkuk di depannya dan mendudukkan gadis kecil itu ke pangkuan Bea. Setelahnya, Radit menarik satu tangan Bea untuk melingkari perut gadis kecil itu. Ketika Radit mengangkat tatapannya hingga tatapan mereka bertemu, Bea merasa canggung. Radit tersenyum geli. “Apa kau menculik anak ini?” Bea melotot tak rela menanggapi itu. “Anak ini yang datang padaku, tahu!” “Tante, ayo ayun …” rengek gadis kecil di pangkuan Bea. Radit mendengus geli dan menegakkan tubuh, lalu pergi ke belakang Bea. “Radit, tunggu. Kau yakin ini aman?” tanya Bea. Satu tangannya berpegangan di ayunan, satu tangannya memegangi gadis kecil di pangkuannya. “Aku ada di sini. Apa yang kau takutkan?” balas Radit. “Kau bisa menjamin aku dan anak ini tidak akan jatuh?” Bea menoleh pada pria itu. “Ya,” jawab Radit. “Berpeganganlah.” Bea mengeratkan pegangannya di besi ayunan, sementara satu tangannya memegangi gadis kecil di pangkuannya dengan erat. Lalu, ayunan itu mulai berayun karena dorongan Radit di belakangnya. “Om, ayo yebih kencang yagi …” rengek gadis kecil di pangkuan Bea ini. “Kau yakin?” tanya Radit di belakang Bea. “Tidak,” Bea menjawab. “Yaaa!” seru gadis kecil di pangkuan Bea dengan riang. Bea menoleh pada Radit. “Radit, tidak!” Bea menegaskan. Radit mendengus geli. Untungnya, Radit tidak melakukan hal gila seperti mendorong ayunan itu dengan kencang. Bisa-bisa Bea terlempar dengan gadis kecil di pangkuannya ini. Namun, gadis kecil ini tiba-tiba mengeluh protes, merengek, “Tante … teybang yebih tinggi …” “Kau bisa jatuh lagi nanti,” Bea mengingatkan gadis kecil itu. “Kau mau aku menggantikanmu?” Radit menawarkan diri. “Ya,” jawab Bea tanpa ragu. Radit mendengus geli, lalu berpindah ke depan Bea. Pria itu mengulurkan tangan pada gadis kecil di pangkuan Bea. “Kau mau  naik ayunan dengan Om? Kali ini kau bisa terbang tinggi,” ucap Radit sarat janji. Gadis kecil ini mengangguk bersemangat dan langsung mengulurkan tangan pada Radit. Radit membungkuk untuk menggendong gadis kecil itu, lalu mengedik kecil pada Bea, mengusirnya dari ayunan. Bea mendesis kesal dan berdiri. Ia memegangi ayunan untuk Radit, tapi pria itu tampak tak kesulitan sama sekali. “Apa kau punya anak?” tanya Bea iseng. Radit mengangkat alis heran menatap Bea. “Apa maksudmu?” “Kau tampak ahli dengan anak-anak.” Bea mengedik pada gadis kecil yang kini dipangku Radit di atas ayunan. Radit mendengus geli. “Mungkin karena aku sudah terlalu lama menanganimu.”   Jawaban Radit itu membuat Bea melotot kesal, tapi sebelum ia sempat protes, Radit sudah lebih dulu berkata, “Mundurlah. Kau  bisa tertabrak ayunannya.” Bea mendesis kesal, tapi akhirnya mundur juga. Lalu, dilihatnya Radit memundurkan ayunan itu, sebelum meluncur ke depan dengan kencang. Gadis kecil di pangkuan Radit bersorak gembira karena ayunan yang berayun kencang itu. Ketika gadis kecil itu melambaikan tangan pada Bea, Bea tanpa sadar sudah mengangkat tangannya dan membalas lambaian tangannya. Saat itulah, tatapan Bea dan Radit bertemu. Pria itu tersenyum padanya dan Bea … tanpa sadar sudah membalas senyum itu. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN