-18- More Than Words

1280 Kata
Action speaks louder than words Actually more than just words   Setelah menghabiskan waktu hingga tengah hari dengan berkeliling kota, akhirnya mereka tiba di rumah. Dan sementara Elia dan Radit bergabung dengan orang tua Bea, Bea langsung naik ke kamarnya. Bea tidak membuang waktu istirahatnya. Berkeliling kota, kembali ke SMA-nya, membuka kembali kenangan masa lalunya, sama sekali bukan hal yang mudah baginya. Bahkan meskipun ada Radit di sampingnya, ini tetap saja melelahkan. Yah, setidaknya trauma Bea di sekolahnya tadi tidak separah kemarin. Radit benar tentang satu hal: Bea tidak boleh membiarkan masa lalu menghancurkannya. Bea sudah terlalu jauh untuk kembali ke belakang dan terjebak di sana. Hanya saja, jika mengingat kenangan SMA-nya … “Tidak perlu mengingat hal-hal yang menyakitkan.” Suara Radit dari pintu kamar Bea membuat Bea terlonjak dari tempat tidurnya. “Kau mengagetkanku,” desis Bea kesal. Radit membawa piring makanan dan gelas minum ketika ia masuk ke kamar Bea. “Ibumu mengkhawatirkanmu. Habiskan makananmu. Setidaknya itu akan mengurangi kekhawatirannya,” Radit berkata seraya meletakkan makan siang Bea di meja samping tempat tidur Bea. “Aku bisa mengurus diriku sendiri,” sengit Bea. “Kalau begitu, makanlah jika sudah tiba waktunya makan,” sinis Radit. “Jangan membuat orang tuamu terus-menerus khawatir karena sikapmu ini, Be. Kau tidak tinggal sendiri di sini. Jadi, jangan egois.” Bea tak tahu harus menanggapi apa, jadi dia hanya terdiam ketika menatap punggung Radit berjalan ke pintu kamarnya. “Satu lagi.” Radit menghentikan langkah di pintu dan berbalik untuk menatap Bea. “Jangan mengingat hal-hal yang menyakitkan. Itu tidak akan memberikan apa-apa selain kesiaan. Jangan buang waktumu dengan mencemaskan kenangan menyakitkanmu. Setiap orang pasti memiliki kenangan indah tentang masa lalunya, kan? Tidak mungkin kau tidak punya.” Bea masih menatap pintu kamarnya yang terbuka bahkan setelah Radit meninggalkan kamar Bea. “Tapi untukku, bahkan kenangan indah itu pun menyakitkan, Radit. Semua kenangan indah yang kumiliki, hanyalah tentangmu. Tapi, aku menghancurkannya, kan? Dan hingga saat ini, aku tak bisa memikirkannya tanpa merasakan sakit itu. Kau … mengatakannya semudah itu. Apakah perpisahan kita sama sekali tak menyakitkan bagimu? Apakah kita … tak lagi berarti bagimu?” Bea berbicara dengan nada putus asa. Tanpa Bea tahu, Radit berdiri di anak tangga teratas, bersandar di dinding samping kamar Bea dan memejamkan mata. “Sebelum menanyakan pertanyaan itu padaku, apakah kau sudah menanyakan pertanyaan itu pada dirimu sendiri, Bee?” Radit membuka mata dan mendengus ke arah langit-langit. “Kau bahkan begitu egois tentang kita, tentang perasaanmu, dan perasaanku. Kau hanya … terlalu egois untuk mengerti, Be.” *** “Kapan kau akan menyerah dengan semua ini, Li?” Bea mendesah putus asa pada Elia yang menyeretnya masuk ke mobil Radit. “Kau ini … benar-benar tidak mengerti apa arti liburan, ya?” sinis Elia. “Apa serunya liburan jika hanya berkeliling kota kecil seperti ini?” sengit Bea seraya memasang seat belt. “Tentu saja ini sangat seru,” tandas Elia seraya duduk di jok belakang. “Tidak setiap hari aku melihat Bea yang ini, Bea yang sebenarnya, dan bukan Bea yang bak patung es tak berhati.” “Kau … kapan aku seperti itu?” omel Bea seraya mengulurkan tangan ke belakang hendak memukul Elia. Elia berkelit seraya tertawa. “Kau mau aku menyebutkan daftar keanehanmu lagi?” “Daftar apa?” Radit terdengar penasaran ketika ia baru masuk dan duduk di sebelah Bea. “Daftar keanehan Bea,” Elia menjawab enteng, membuat Bea melotot kesal padanya. “Wah, itu pasti menarik. Tapi … apakah cukup menuliskannya dalam selembar kertas? Kupikir itu akan terlalu banyak untuk ditulis,” komentar Radit seraya menyalakan mesin mobil. “Hei, kau jangan ikut campur. Kau tidak tahu apa-apa tentang itu. Jadi diamlah,” sengit Bea pada Radit. Radit tersenyum seraya menoleh untuk menatap Bea. “Tidak tahu apa-apa? Baiklah, bagaimana dengan keanehanmu yang ini: kau yang seperti patung es tak berhati itu bisa langsung hancur hanya dengan satu kepingan masa lalu, kau yang selalu kuat dan mandiri itu ternyata sosok penuh trauma yang takut menghadapi dunia luar, kau yang menghindariku selama delapan tahun terakhir, tapi menyalahkanku untuk itu ...” “Aku tidak menyalahkanmu,” sela Bea. “Aku merasa bersalah, oke? Aku tahu aku telah menyakitimu, dan aku menyesal. Tapi, tak ada yang bisa kulakukan untuk itu. Aku …” “Kau selalu berpikir dalam cerita kita ini, kaulah yang paling terluka,” cetus Radit seraya menjalankan mobilnya. “Aku harus menjauhimu karena aku tidak ingin lebih menyakitimu!” teriak Bea frustrasi. “Dan itu juga menyakitiku,” desahnya seraya melempar pandang keluar jendela. “Itulah masalah terbesarmu, Be. Kau terus-menerus memutuskan apa yang orang lain rasakan, padahal kau tidak tahu. Kau tidak tahu apa yang mereka rasakan, tapi kau selalu membuat keputusan sepihak. Keputusanmu itu bahkan menyakitimu, tapi kau terus melangkah dengan pikiran egoismu itu,” ucap Radit tanpa menatap Bea. Bea menatap Radit tak percaya. “Kau tidak tahu betapa menyakitkannya bagiku, melangkah pergi seperti itu,” katanya dingin. Radit menarik napas dalam, lalu ia menepikan mobil dan menatap Bea. “Kenapa kau juga harus terluka, Bea? Menghindariku itu menyakitimu. Karena apa? Kenapa kau harus terluka?” Bea membuka mulut, tapi tak satu pun kata keluar dari bibirnya. Bea terluka dengan perpisahan mereka. Kenapa? Karena dia kehilangan Radit? Kehilangan sahabat, sekaligus orang yang paling mengerti dirinya? Tapi, bukankah sekarang Bea sudah punya Elia? Lalu, kenapa …? “Lihat itu, kau bahkan tidak bisa mengakuinya, kan? Kau bahkan tidak bisa jujur dengan perasaanmu, Be.” Radit mendengus. “Apa maksudmu?” Bea menyipitkan mata waspada. “Apa kau pernah jujur pada dirimu sendiri? Tentang perasaanmu? Apa sulitnya mengatakan bahwa kau juga merasa kehilangan? Apa sulitnya mengakui itu? Kau berkata kau tidak ingin membuatku lebih terluka lagi. Itu tidak akan terjadi jika kau tidak peduli padaku. Tapi, kau bahkan tidak mau mengakuinya. Kau bilang kau terluka ketika kau pergi. Apa artinya itu, Bea? Sulitkah mengatakan bahwa kau merasa kehilanganku? Sulitkah untuk jujur pada dirimu, setidaknya sekali saja?!” Suara Radit meninggi. Bea menatap Radit penuh amarah. Berani sekali dia mengatakan itu semua pada Bea … Bea melepaskan seat belt-nya, membuka pintu mobil, tapi Radit bergerak cepat dengan meraih pintu mobil dan menutupnya kembali. “Jangan melarikan diri lagi, Bea,” Radit berkata di telinga Bea. Jarak mereka kini sangat dekat. Ketika Bea menoleh untuk menatap Radit, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Dan sorot terluka di mata Bea begitu jelas, membuat Radit mencelos. “Jangan mendesakku terlalu jauh, Radit. Segalanya sudah terlalu berat bagiku saat ini,” balas Bea dingin. Radit menatap mata Bea dan langsung menyesali apa yang ia lakukan tadi. Dadanya terasa sakit ketika Bea memalingkan wajah dengan kasar. “Maafkan aku, Bea. Seharusnya aku tidak mengatakan semua itu. Aku hanya … lelah melihatmu seperti ini. Aku … lupakan saja. Lupakan apa yang kukatakan tadi. Dan sebagai gantinya, mulai sekarang, aku akan menuruti apa yang kau inginkan. Kau ingin aku menjadi orang asing, kan? Aku akan melakukannya. Mulai detik ini, aku hanyalah orang asing. Apa itu membuatmu merasa lebih tenang? Aku akan berusaha seasing mungkin bagimu,” ucap Radit. Mata Bea berkaca mendengar perkataan Radit itu. Hatinya sakit karena kata-kata Radit itu. Bea tidak ingin … tapi … sepertinya hanya itu cara agar Radit tidak lagi terluka olehnya. Bea menggigit bibir tatkala air matanya mulai jatuh satu-persatu. Ini menyakitkan. Sangat … Radit harus menahan tangannya untuk tidak meraih wajah Bea dan menghapus air mata gadis itu. Radit hanya ingin menjaga Bea. Jika Radit yang menjadi orang asing bagi Bea bisa membuat Bea senang, Radit akan melakukannya. Tapi, kenapa sekarang gadis itu malah menangis? Kenapa dia terus-menerus memaksa Radit melakukan hal-hal yang menyakitinya? Kenapa dia terus-menerus mengambil keputusan yang menyakitinya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN