Hello not hello
To you
“Kenapa kau tidak memesan tiket kereta?” keluh Bea kesal ketika mereka sudah berada di dalam bis yang akan berangkat meninggalkan Jakarta.
“Sudah habis. Seharusnya kita reservasi setidaknya seminggu sebelumnya. Ini long weekend, Be. Tiket bis ini pun aku bisa mendapatkannya karena Juna kenal dengan pengelolanya di sini. Kita beruntung masih bisa mendapatkan bis eksekutif ini,” urai Elia bangga.
Bea mendengus gusar seraya melirik Elia yang sedang melambai ke sosok pria tinggi tegap di luar. Itu Juna, tunangan Elia. Mereka berencana menikah akhir tahun ini.
“Oh!” Pekikan kaget Elia itu membuat Bea menoleh ke samping. Dilihatnya Juna pergi, dan mendadak, insting Bea mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang bodoh. Dan insting Bea terbukti benar ketika tiba-tiba, seorang pria tinggi berambut cepak, naik ke dalam bis, dan dengan langkah cepat menghampiri kursi tempat duduk Bea dan Elia.
“Juna, kenapa kau naik ke sini?” Elia berdiri menyambut tunangannya itu.
“Aku merindukanmu. Aku tidak akan melihatmu sepanjang akhir pekan. Dan astaga, dengan total perjalanan, ini akan menjadi seminggu. Dan ini akan menjadi minggu terberat dalam hidupku,” keluh Juna.
Elia tertawa pelan seraya memeluk Juna. “Aku juga pasti akan merindukanmu. Dengar, kau bisa meneleponku kapan pun kau merindukanku, oke?” Ia melepaskan pelukannya dan mengusap lembut pipi Juna.
Bea menatap pasangan itu dengan jengah. Sementara, para penumpang lain yang juga memperhatikan pasangan itu tersenyum. Seorang pria tampan dan wanita cantik, oh, pasangan serasi yang manis. Atau lebih tepatnya, memuakkan. Bea mungkin akan baik-baik saja jika membaca kejadian ini dalam novel yang ia tulis, meksipun ia mengakui, itu juga membuatnya jengah. Namun, melihat kejadian itu terjadi tepat di depan matanya, Bea merasa luar biasa jengah dan muak. Ini memalukan, astaga!
“Kalian berdua, hentikan itu,” gusar Bea.
Juna dan Elia menoleh pada gadis itu, saling menatap pasrah, lalu mendesah.
“Sudah kubilang kan, dia tidak pernah jatuh cinta,” Elia menjelaskan.
“Dan apa pentingnya kau mengatakan itu, Elia?” sengit Bea.
“Karena sikapmu membuat Juna bingung,” jawab Elia santai, lalu ia berkata pada Juna, “Sayang, sampai jumpa minggu depan, oke? Jaga kesehatan, dan jangan terlalu lelah selama aku pergi.”
Juna tersenyum seraya mengangguk. “Kau juga, Sayang. Semoga perjalananmu menyenangkan,” ucapnya seraya melirik Bea khawatir.
Melihat itu, Elia tertawa. “Dia tidak akan menggigit,” katanya pada Juna.
Juna tersenyum geli, lalu mengangguk. “Bye, Sayang,” pamitnya seraya mencium kening Elia lembut.
Elia membalas dengan lambaian, mengiringi langkah Juna meninggalkan bis itu.
“Tidak adakah yang bisa lebih memuakkan dari ini?” Elia mendengar Bea mendengus. Dan Elia tak dapat menahan senyumnya. Yah, ini baru saja dimulai.
***
“Wow, lima belas jam perjalanan,” desah Elia takjub ketika taksi yang mereka tumpangi membawa mereka ke rumah Bea.
“Itulah kenapa aku selalu mengeluh jika naik bis. Kau tidak bisa menghindari macet,” desis Bea kesal.
“Tapi, bukankah sebentar lagi tolnya dibuka? Perjalanan pasti lebih cepat,” celetuk Elia antusias.
“Secepat-cepatnya perjalanan, setidaknya akan memakan waktu sembilan atau sepuluh jam. Seperti kereta. Itu tetap melelahkan, Li,” ketus Bea.
“Yah, tidak masalah. Ini juga pengalaman baru. Toh perjalanan kita tadi juga menyenangkan,” riang Elia seraya melirik jam yang masih menunjukkan jam delapan pagi. “Ah, welcome holiday …”
Bea mendesis kesal pada sahabatnya itu, sebelum kemudian melempar pandang keluar jendela, mengamati jalanan yang sudah setahun lebih tidak ditengoknya itu. Benar. Sudah setahun lebih sejak terakhir kali Bea pulang ke kampung halamannya, Madiun. Dan setiap kali ia pulang pun, ia hanya mengunci diri di kamar. Bea tidak berani meninggalkan kamar, ataupun rumahnya. Ada terlalu banyak kenangan buruk di sini. Kenangan yang bisa menghancurkannya, merobohkan dinding pertahanan yang telah ia bangun selama ini.
Sebuah rumah bertingkat bercat biru lembut bergaya modern minimalis di komplek perumahan yang berkembang itu masih belum berubah sejak terakhir kali Bea melihatnya. Dua tahun lalu, ia membangun rumah ini untuk orang tuanya. Dan sudah satu setengah tahun terakhir ini, mereka tinggal di rumah ini. Setidaknya, rumah ini membuat Bea menjadi lebih tenang karena meninggalkan mereka.
Sebuah mobil Civic berwarna abu-abu terparkir di pelataran rumah itu. Bea mengerutkan kening. Ibunya tidak pernah mengatakan jika mereka membeli mobil. Dan kerutan di kening Bea semakin dalam ketika ia turun dari taksi dan melihat sebuah Avanza hitam terparkir di depan pagar rumahnya.
“Sepertinya ada tamu,” ucap Elia begitu ia berdiri di sebelah Bea.
Bea mengedikkan bahu seraya membuka gerbang. “Aku tidak tahu jika orang tuaku membeli mobil ini.” Bea menunjuk mobil Civic yang mereka lewati sebelum kemudian naik ke teras rumahnya.
“Syukurlah jika kau masih sempat menelepon orang tuamu di tengah kesibukanmu,” sindir Elia.
Bea melirik sebal pada Elia, seraya berjalan ke pintu rumahnya. Di sebelah pintu, tertera angka delapan di sana. Pintu tinggi bercat putih itu terbuka, dan ketika Bea masuk bersama Elia, sementara Elia memberi salam dan menyapa pasangan paruh baya yang duduk di sofa krem di sisi kanan ruangan itu, tatapan Bea terkunci pada sosok yang duduk di sofa seberang pasangan itu.
Pasangan paruh baya itu, –ayah dan ibu Bea, berdiri dan tampak sangat terkejut ketika melihat Bea, sementara pria itu juga berdiri dan tampak waspada. Yah, Bea tahu alasannya. Ini pertemuan pertama mereka setelah delapan tahun. Pertemuan pertama mereka sejak kejadian yang menyakitkan itu.
Senggolan Elia di lengannya menyadarkan Bea, lalu ia menyapa orang tuanya. “Ayah, Ibu … Bea pulang,” ucap Bea seraya mengusahakan sebuah senyum.
“Beatrice …” gumam ibunya tak percaya seraya menghampiri Bea dan langsung memeluknya. “Astaga, sudah setahun lebih kau tidak pulang, dan sudah tujuh bulan dua puluh tiga hari kau tidak memberi kabar pada Ibu, lalu sekarang tiba-tiba kau pulang …” ucap wanita itu, tampaknya masih tak percaya jika putrinya benar-benar ada di sana, dalam pelukannya.
Bea merasakan tatapan tajam Elia. Baiklah, tujuh bulan, hampir delapan. Bea tidak tahu jika sudah selama itu. “Aku sangat sibuk belakangan ini. Maaf, Bu,” sesalnya.
“Ibu tahu, Ibu tahu,” jawab ibunya santai, seperti biasanya. Ia lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Bea lekat. “Kau semakin kurus, Bea Sayang. Kau pasti tidak menjaga makananmu,” keluhnya.
Bea sudah hendak menjawab, tapi Elia lebih dulu menyahut, “Dia tidak pernah makan tepat waktu, Tante.” Tatapan ibu Bea berpindah pada Elia. “Elia, Tante,” Elia memperkenalkan diri.
“Oh, Bea selalu bercerita tentangmu jika dia pulang,” seru Ibu Bea seraya memeluk Elia. “Terima kasih karena sudah menjaga Bea kami,” ucapnya tulus ketika ia melepaskan Bea.
“Benarkah? Bea tidak pernah mengatakan padaku jika dia menceritakan tentang diriku pada Tante,” ucap Elia seraya melirik Bea.
Bea meringis.
“Ayo Elia, kuperkenalkan kau pada ayah Bea dan sahabat semasa sekolahnya, Raditya.” Ibu Bea menarik Bea dan Elia ke sofa di sisi kanan ruangan itu. “Radit itu sudah seperti putraku sendiri. Dia dulu sangat dekat dengan Bea. Tapi, setelah mereka bekerja, mereka jarang bertemu,” lanjut Ibu Bea.
Elia melirik Bea dengan bingung. “Tapi, Bea tidak pernah menceritakan padaku tentang Radit,” akunya. Dan sepertinya, Bea memang tidak pernah bertemu dengan siapa pun yang bernama Radit ini.
“Aku … uh, lupa,” dusta Bea.
“Aku hanya orang asing dari masa lalu Bea. Wajar jika dia lupa,” akhirnya Radit angkat suara. Bea bahkan tak berani menatap Radit ketika pria itu berkata seperti itu.
“Radit, kenapa kau bicara seperti itu?” halau ibu Bea. “Kau ini kan, sahabatnya. Mana mungkin dia lupa padamu. Dia hanya terlalu sibuk sehingga tidak punya cukup banyak waktu untuk menemuimu lebih sering.” Ibu Bea menepuk pundak Radit pelan. “Kau juga kan, sudah sangat sibuk sekarang.”
“Iya, dia memang selalu sangat sibuk,” sahut Radit seraya tersenyum. “Yah, kurasa kalian butuh waktu keluarga, jadi aku akan pergi ke hotelku sekarang.”
“Tapi, kau bilang kau akan menginap di sini tadi. Aku sudah menyiapkan kamar untukmu,” protes ibu Bea.
Radit tersenyum menyesal. “Maaf, Tante, tapi sepertinya lain kali saja aku menginap di sini. Lagipula, sudah ada Beatrice dan temannya yang akan menemani kalian. Sekarang, aku tidak perlu khawatir meninggalkan kalian,” ucapnya dengan nada bergurau.
Ibu dan ayah Bea tertawa. “Jangan selalu mengkhawatirkan kami seperti itu. Kami baik-baik saja,” ayah Bea berkata.
Radit hanya menjawabnya dengan senyuman, lalu ia mencium tangan ayah dan ibu Bea bergantian, mengangguk sekilas pada Bea dan Elia, lalu meninggalkan rumah itu. Bea membeku di tempatnya. Hanya dua kalimat pendek. Namun, efeknya seperti belati tajam yang mengiris hatinya berkali-kali.
“Aku hanya orang asing dari masa lalu Bea. Wajar jika dia lupa.”
“Bea?” ibu Bea memanggil Bea cemas. “Kau baik-baik saja?”
Bea tergagap. “Aku … iya, Bu. Aku tidak apa-apa,” sahut Bea. Ia lalu mendekat ke ayahnya dan mencium tangan ayahnya.
“Kau seharusnya lebih sering menelepon ibumu. Dia sangat mencemaskanmu,” tegur ayahnya pelan.
“Ayah, dia sangat sibuk. Wajar jika dia tidak sempat menelepon kita,” ibu Bea membela Bea.
Sementara itu, Elia menyipitkan mata menatap Bea. Ada banyak hal, terlalu banyak hal yang disembunyikan Bea darinya. Bahkan tentang keluarga dan sahabat masa sekolahnya itu. Apa yang sebenarnya berusaha Bea tutupi dari Elia?
***