Hati yang sedingin es
Apa yang telah membekukannya?
“Sekarang, jelaskan padaku, apa yang terjadi di bawah sana tadi?” tuntut Elia begitu mereka sudah berada di kamar Bea.
Bea menghela napas berat. “Bukan cerita yang mudah, Li. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku tidak pernah menceritakannya padamu karena … kurasa kau tidak perlu tahu. Itu tidak penting. Seperti kata …” Bea mengambil napas, “Radit tadi, itu hanya masa lalu.”
Elia mengangkat alis. “Masa lalu yang bertahan hingga saat ini,” tuduhnya.
Bea menatap Elia dengan lelah. “Jangan mendesakku, Li. Sudah ada banyak hal dalam kepalaku dan aku nyaris gila memikirkannya,” keluhnya.
Elia mendengus menanggapinya. “Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, Be?”
Bea mendesah berat. “Aku lelah. Aku mau mandi, lalu tidur,” katanya seraya menarik jubah mandi dari lemarinya, lalu pergi ke kamar mandi.
Elia mendesah, lalu menatap kamar Bea itu. Kamar itu terletak di lantai dua. Kamar yang cukup luas dan nyaman. Ada dua kamar lain di lantai dua, dan keduanya kosong. Namun, meskipun kedua kamar itu kosong, tampaknya kamar itu selalu dibersihkan setiap hari. Begitu pun dengan kamar Bea ini. Elia tidak melihat tanda-tanda bahwa kamar ini sudah tidak dihuni selama setahun. Kamar ini, tampak seolah dipakai Bea setiap hari. Tidak ada debu, tidak pengap, tidak tampak tak berpenghuni. Sepertinya, ibu Bea sangat merawat kamar ini.
Elia berjalan ke jendela di sisi kamar, dan dari sana, dia bisa melihat ke bawah, ke jalan depan rumah Bea. Sementara di seberang jalan, ada lapangan berumput tak terurus. Elia menatap rumah-rumah lain di sekitarnya yang juga tampak sepi. Tampaknya, kawasan perumahan sedang dalam proses pengembangan, jika dilihat dari beberapa rumah yang direnovasi dan ditingkat di ujung jalan, dan rumah lain yang masih dalam proses pembangunan.
Suara ketukan di pintu kamar membuat Elia berbalik. Ketika pintu itu terbuka, masuklah ibu Bea dengan membawa nampan berisi dua piring makanan.
“Tante!” seru Elia panik seraya bergegas mengambil alih nampan dari ibu Bea. “Astaga Tante, kenapa repot-repot membawa sarapannya naik? Setelah mandi, aku dan Bea juga pasti akan turun dan sarapan di meja makan.”
Ibu Bea tersenyum. “Biasanya Bea malas turun, Elia. Jadi, ini Tante bawakan ke sini. Minumnya masih dibuatkan Bi Sum. Nanti Tante antarkan ke atas,” ucap ibu Bea seraya berjalan ke pintu.
“Tunggu, biar aku saja yang ambil ke bawah, Tante,” susul Elia.
“Tidak perlu. Kau pasti lelah. Istirahatlah,” balas ibu Bea lembut.
Elia menggeleng. “Aku ikut ke bawah,” putusnya. Akhirnya, ibu Bea mengalah dan turun dengan Elia. “Kan, sudah ada Bi Sum, kenapa Tante sampai repot-repot begini?”
Ibu Bea tertawa. “Tante tidak terbiasa menyuruh Bi Sum untuk mengurus kebutuhan Bea atau ayahnya. Bi Sum itu tugasnya hanya bersih-bersih rumah dan mencuci baju. Kecuali kamarnya Tante sama Om, dan kamarnya Bea. Khusus dua kamar itu, Tante yang selalu membersihkan. Oh, dan kamarnya Radit.”
Elia mendesah kagum. “Tante benar-benar wonderwoman,” ucapnya seraya mengangkat dua ibu jarinya.
Ibu Bea tertawa. “Itu tugas seorang ibu, Elia. Kelak, kalau kau menjadi ibu, jangan serahkan tugas mengurus keluargamu pada orang lain. Karena mereka itu keluargamu, tanggung jawabmu,” nasehatnya.
Elia tersenyum haru. “Bea benar-benar beruntung karena punya ibu seperti Tante,” katanya tulus.
“Memangnya ibu Elia bagaimana?” tanya ibu Bea heran.
“Kurang lebih sama seperti Tante, tapi aku tidak pernah sadar betapa hebatnya Ibu, sampai saat aku kehilangan Ibu,” jawab Elia sendu.
“Astaga!” Ibu Bea merangkul Elia dan mengusap punggungnya lembut. “Kau pasti sangat sedih.”
Elia mengangguk. “Karena itu, Bea beruntung, karena masih memiliki Tante.”
Ibu Bea tersenyum. “Mulai sekarang, kalau kau pergi ke Madiun, pulang ke sini. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Kapan pun, dan sampai kapan pun.”
Elia benar-benar terharu dengan perhatian dan ketulusan ibu Bea. “Terima kasih, Tante. Aku pasti akan pulang ke sini setiap beberapa bulan sekali untuk mengunjungi Tante,” janjinya.
“Tapi, kalau kau sibuk …”
“Aku tidak akan terlalu sibuk untuk pulang,” sela Elia.
Ibu Bea menatap Elia dengan lembut. “Terima kasih, Elia.”
***
Ketika Elia keluar dari kamar mandi, dilihatnya Bea sudah berbaring di atas tempat tidurnya sambil membaca novel. Elia melirik ke meja samping tempat tidur Bea, tempat nampan berisi sarapan yang dibawakan ibu Bea tadi. Kening Elia berkerut mendapati nampan itu belum tersentuh.
“Kau tidak makan?” tanya Elia seraya menghampiri meja rias untuk mengeringkan rambutnya.
“Aku malas makan. Perutku masih tidak nyaman setelah perjalanan kemarin,” sahut Bea cuek.
Elia menatap Bea dengan kesal. “Apa kau tahu bahwa ibumu yang membawakannya kemari dari bawah?”
Bea menurunkan novelnya untuk menatap Elia. “Lalu kenapa?”
Elia mendengus tak percaya. “Kau bahkan tidak peduli, betapa perhatiannya ibumu padamu, kan? Dia sudah repot-repot membawakan makanan untukmu, dan dengan santainya kau bilang kau tidak mau makan karena malas?”
Bea mendecakkan lidah kesal. “Li, aku tidak mau ribut. Aku benar-benar lelah dan …”
“Kau benar-benar telah kehilangan hatimu, Be,” sela Elia tajam.
Bea menyipitkan mata. “Aku hanya lelah, Li. Jangan membuat suasana hatiku lebih buruk lagi,” Bea mengingatkan.
Elia menatap Bea lekat, sebelum mendesah lelah dan menghampiri makanannya. “Betapa bahagianya dirimu, memiliki seorang ibu berhati malaikat,” gumamnya di sela acara sarapannya.
Bea tahu itu. Namun, Bea tak mengatakan apa pun.
***
Sore itu, ketika Bea bangun dari tidur siangnya, dia tidak menemukan Elia. Bea mengerutkan kening seraya bangun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya, mencari-cari Elia di setiap kamar di lantai atas, bahkan ke teras. Bea tersentak ketika mendengar suara tawa dari bawah. Itu suara tawa ayahnya, ibunya dan … Elia?
Bea berjalan ke tangga, berhenti di anak tangga ketiga dari atas untuk melongok ke bawah. Dilihatnya Elia dan orang tuanya sedang duduk di depan televisi, tampak asyik menertawakan sesuatu, atau tepatnya … seseorang. Bea merasa tidak nyaman melihat album masa kecilnya di meja tengah.
“Hei, Bee, kau sudah bangun?” sapa Elia ketika ia menatap Bea dengan posisi melongoknya yang aneh.
“Oh, hei …” sahut Bea canggung. Bee, cara Elia memanggilnya tadi, seperti cara orang tuanya memanggilnya, dan sering kali Radit menggodanya dengan panggilan itu. Bee, yang berarti lebah, dimaksudkan untuk menyebut Bea yang suka sekali menggerutu akan sesuatu.
“Turun dan bergabunglah dengan kami,” ajak ibunya.
“Oh, aku … kurasa aku akan mandi dulu. Setelah itu aku akan turun,” sahut Bea.
“Bagus, mandilah. Setelah ini kita akan jalan-jalan,” timpal Elia riang.
“Apa?” Bea tersedak.
“Jalan-jalan, Bee. Cepatlah mandi dan turun,” ulang Elia, sebelum dia kembali memusatkan perhatiannya pada album masa kecil Bea.
Dan akhirnya, terpaksa Bea menuruti kata-kata Elia dan kembali ke kamarnya untuk bersiap mandi.
Jalan-jalan? Itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya selama di sini.
***