-14- Mimpi dan Kenyataan

1224 Kata
Kau adalah mimpiku Sekaligus nyataku   “Li, pergilah … jangan ganggu aku …” erang Bea kesal seraya mendorong Elia yang sedari tadi mengguncang-guncang tubuhnya dalam upayanya membangunkan Bea. “Tidak, Be, ini sudah jam delapan,” ucap Elia sembari mendaratkan satu pukulan keras di lengan Bea, membuat sahabatnya itu menjerit dan akhirnya duduk. Bea menatap Elia dengan galak. “Ini hari libur. Biarkan aku tidur lebih lama. Lagipula, langitnya mendung. Cuacanya juga dingin. Tidur adalah pilihan paling tepat untuk sepanjang hari ini.” Elia mendengus. “Kau ini benar-benar … jika sudah tidur, susah sekali membangunkanmu. Tapi jika sudah bekerja, susah sekali menyuruhmu beristirahat. Kenapa kau tidak pernah membagi waktumu dengan adil?” “Terserah apa katamu, aku mau tidur,” cuek Bea seraya kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal. “Bea, jangan tidur lagi!” seru Elia kesal seraya menarik lengan Bea. “Radit sudah datang dan menunggu di bawah. Kau harus segera bersiap agar kita bisa segera berangkat!” Nama Radit membuat mata Bea langsung terjaga sepenuhnya, tapi ia masih berbaring ketika bertanya, “Kenapa Radit ada di sini?” Elia memutar bola mata menyadari kewaspadaan dalam suara Bea. “Karena aku meminta bantuannya untuk menemanimu. Aku ingin mengajakmu ke SMA-mu.” “Kau … apa?” Bea langsung duduk tegak karena kalimat Elia itu. “Aku meminta Radit untuk menemanimu, karena aku ingin mengajakmu melihat-lihat ke SMA-mu. Kita akan mengadakan terapi singkat untuk mengobati traumamu dengan sekolah,” kata Elia mantap. “Kau pasti bisa.” “Kau pasti sudah gila,” desis Bea seraya kembali tidur dan menarik selimut hingga kepalanya. “Apa kau tahu memaksa untuk terapi bisa membuatnya semakin parah?” “Aku tidak memaksamu, karena itu aku membicarakannya dulu denganmu. Kau mau, kan?” bujuk Elia. “Kau sudah tahu jawabannya, Li.” “Kalau begitu, setidaknya pergilah ke psikolog atau psikiater,” usul Elia. “Malas. Toh, aku sebenarnya tidak harus pergi ke sekolah lagi. Itu tidak akan menggangguku selama aku tidak pergi ke tempat itu,” balas Bea ketus. “Lalu, kau akan selamanya begini?” kesal Elia. “Ya,” balas Bea cuek. Elia menghela napas. “Bea, apa kau tahu apa yang terjadi semalam?” tanya Elia tiba-tiba. Bea mengerutkan kening di balik selimutnya. “Memangnya, apa yang terjadi semalam? Aku mengigau keras hingga membangunkanmu?” “Apa kau tidak ingat, apa yang terjadi semalam? Kau tidur di mana, menurutmu?” sinis Elia. Bea lantas memutar ingatan tentang kejadian semalam. Elia memaksanya bercerita tentang Radit, lalu di akhir cerita, itu pun ketika Bea mengucapkan kata-kata manis untuknya, Elia tertidur. Akhirnya, karena kesal, Bea meninggalkan kamar dan pergi ke balkon. Bea berbaring di bangku panjang di balkon dan menghitung bintang, lalu … “Apa aku tertidur di luar?” Bea menarik selimut dari kepalanya untuk menatap Elia. Elia mengangguk. “Lalu, kau mengangkatku kemari?” Bea menunjuk Elia dengan takjub. Elia menggeleng. “Ayahku?” Bea menebak. Elia kembali menggeleng. Gelengan Elia itu membuat Bea tertawa, sebuah tawa kosong yang dipaksakan. Ia teringat bahwa semalam ketika ia pergi ke balkon, orang tuanya masih mengobrol di bawah dengan … “Jangan bilang …” “Radit, iya. Jika kau menebak itu, jawabanmu benar. Itu Radit,” tandas Elia. Bea mengerang. Semalam ia bermimpi tentang masa lalunya, mungkin itu karena Elia memaksanya bercerita sebelumnya. Tapi semalam, ia merasa ada bagian yang begitu nyata, yaitu ketika ia tertidur di taman rumahnya di sebelah Radit. Esok paginya ketika Bea bangun, ia sudah berada di kamarnya, di atas tempat tidurnya, sementara Radit tidur di lantai kamarnya. Ternyata, lagi, Radit mengangkat Bea dan memindahkannya ke tempat tidur setelah Bea tertidur di luar. Bea berdehem untuk mengusir kecanggungan yang mendadak menyergapnya. Ia lantas melirik lantai kamarnya sebelum bertanya, “Semalam … dia tidak tidur di lantai kamar ini, kan?” Elia mengangkat alis. “Apa sebelumnya begitu?” tanyanya takjub. Bea menggigit bibir. Sial. Dia keceplosan. Reaksi refleks. Tentu saja tidak mungkin Radit akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi. Dia sudah sangat muak dan membenci Bea saat ini. Tidak ada alasan baginya untuk melakukan hal-hal bodoh seperti itu untuk Bea. “Be?” Elia menjentikkan jari di depan wajah Bea. Bea mengerjap. “Eh?” Bea menatap Elia dengan panik, sementara sahabatnya itu tampak menunggu, tak ingin menyerah sampai di situ. “Apa?” Bea mengangkat dagu, menantang. “Kau akan menceritakan padaku atau aku harus bertanya pada Radit?” Lagi-lagi Elia mengancamnya. Bea berdehem. “Itu … saat itu kami masih SMA. Aku … dia … aku ketakutan. Dia mengusirku ketika aku ingin tidur di kamarnya. Lalu, kami tidur di taman rumah, dan ternyata, dia memindahkanku ke kamarku begitu aku tertidur. Dia bilang, dia khawatir jika aku terbangun tengah malam dan sendirian di kamarku, aku akan ketakutan, jadi dia tidur di lantai kamarku, sampai pagi.” Bea bisa merasakan wajahnya memerah dan ia tak berani menatap Elia setelah mengatakan itu. “Kau beruntung dia bukan orang yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,” Elia berkata. “Aku tahu itu,” Bea menjawab, masih tanpa menatap Elia. “Saat itu aku tak mengerti tentang hal seperti itu.” “Kurasa sampai sekarang pun kau masih belum mengerti,” komentar Elia. “Aku bukan anak remaja lagi, tahu!” desis Bea kesal. “Tapi … apa kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Setelah Radit menggendongmu ke sini semalam?” Elia menyipitkan mata misterius. “Memangnya apa yang terjadi? Dia tidak mungkin melakukan hal-hal bodoh, kan? Apalagi ada kau. Dia tidak mungkin membantingku, atau melakukan hal aneh …” “Bukan dia, tapi kau,” sela Elia. Bea melongo, tangannya terangkat menunjuk dirinya sendiri. “Aku?” Elia mengangguk. “Memangnya, apa yang kulakukan? Aku kan, sudah tidur. Bagaimana bisa aku …?” “Kau mengigau ketika dia menggendongmu,” beritahu Elia dengan baik hatinya. Bea terkesiap. “Apakah jelas? Apa itu sesuatu yang aneh?” tanyanya ngeri. “Sangat dan sangat,” Elia menjawab untuk kedua tanya itu tanpa keraguan. Bea menarik napas dalam. “Apa tepatnya yang kukatakan dalam tidurku?” Elia tersenyum sok misterius, membuat Bea ingin mencubit pipinya keras-keras. Tapi kemudian, Elia bangkit dari tempat tidur Bea, tanpa menjawab pertanyaan Bea dan berkata, “Bersiap-siaplah. Aku akan menunggumu di bawah.” Kontan Bea panik. “Tunggu, apa yang kukatakan dalam tidurku semalam?” panik Bea seraya melompat dari tempat tidurnya dan mengejar Elia. Elia tersenyum pada sahabatnya itu. “Sesuatu yang membuatmu malu jika kau bertemu Radit,” katanya. Bea terbelalak kaget. “Apa … apa yang kukatakan? Apakah … astaga, Elia, apa yang kukatakan? Apakah aku … mengatakan sesuatu yang buruk?” “Aku akan memberitahumu setelah kita selesai jalan-jalan hari ini,” janji Elia sebelum kemudian beranjak ke pintu, melambai riang pada Bea sebelum menutup pintu itu. Bea masih membeku di tempatnya, masih terlalu terkejut dengan apa yang dikatakan Elia tadi. Bea memejamkan mata, sekilas mimpinya kembali melayang pada potongan-potongan samar di kepalanya. Dan akhirnya, ia sampai pada bagian ketika ia meringkuk dalam pelukan hangat Radit. Saat itu, Radit berkata, “Dasar gadis bodoh. Kau ini, benar-benar merepotkan.” Tapi kemudian, tak lama kemudian, Radit kembali mengulangi kata-katanya, dengan sedikit berbeda, “Selalu saja merepotkan.” Apa yang sebenarnya Bea katakan dalam tidurnya semalam? Apakah itu … menyakiti Radit? Mata Bea terbuka dan ia mendesah pelan. Dia tidak ingin menyakiti Radit. Tidak lagi. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN