-13- Precious Memories

1784 Kata
Ketika kau tak bisa melupakan sebuah kenangan Sadarlah tentang betapa berharganya kenanan itu   Suara ketukan di pintu kamar Radit membuat Radit mendongak dari laptopnya. Tak lama kemudian, sebuah kepala tersembul di sana. Wajah ketakutan Bea nyaris membuat Radit tertawa saat itu juga, tapi Radit menggigit bagian dalam pipinya untuk mencegah tawanya. “Kenapa, Be?” tanya Radit polos. Bea berdehem seraya masuk ke kamar Radit, lalu menutup pintu kamar itu dengan cepat. Gadis itu bahkan membawa bantal bersamanya. “Malam ini … aku tidur di sini, ya?” Bea memasang senyum termanisnya, membuat Radit kembali ingin tertawa. “Hei, mana bisa begitu? Kita bukan anak kecil. Mana bisa kita tidur di kamar yang sama seperti ini?” tolak Radit. Bea merengut. “Tapi, tadi aku mendengar suara aneh di kamarku,” keluhnya. “Suara apa?” tuntut Radit. “Suara tik tak tik tak, seperti itu,” jawab Bea polos. Radit menyamarkan tawanya dalam batuk. Ia yakin, itu hanya bunyi jam dinding di kamar Bea. “Tidurlah di kamar orang tuamu saja,” saran Radit. “Tidak mau. Tadi kau mengatakan kalau di sana juga terdengar suara debum itu,” tolak Bea. “Kalau begitu, ke kamar Bi Sum saja,” Radit tak menyerah. “Tidak mau. Kau bilang di belakang juga ada suara aneh,” Bea juga tak mau menyerah. “Lalu, bagaimana? Kau tidak bisa tidur di sini,” tegas Radit. “Kata siapa?” cibir Bea seraya melangkah ke tempat tidur Radit, lalu dengan santai melempar bantalnya di sana, dan dengan kasar menggeser Radit agar lebih menepi. “Hei, kau tidak bisa …” “Radit, diamlah. Aku sudah mengantuk. Aku lelah setelah liburan,” Bea menyela kalimat Radit. Radit membeku di tempat, kepalanya berpikir keras, mencari cara untuk mengusir Bea. Ah, mungkin ini bisa membantu. Radit menyalakan pemutar musik dari laptopnya, lalu memutar lagu yang dibenci Bea. Dan kemudian … “Argh! Radit, apa kau sudah gila? Kau tahu aku benci lagu itu,” omel Bea. Tapi, gadis itu tidak tampak ingin pergi. Bahkan kemudian, dia merebut laptop Radit, menutup flip-nya, membuat laptop itu otomatis ter-sleep. Setelahnya, Bea turun dari tempat tidur hanya untuk meletakkan laptop itu di meja belajar Radit, dan kemudian, ia kembali lagi ke atas tempat tidur, berbaring di sebelah Radit. Sepertinya akan sia-sia, Radit mengeluh dalam hati. Radit mendesah lelah, menyerah, seraya berbaring dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Tapi kemudian, Bea ikut memakai selimut itu. Radit memejamkan mata menahan kesal. Ia melirik Bea yang berbaring memunggunginya. Mendadak, ia merasa suhu di kamar itu semakin panas. “Bea, kamarku jadi terasa panas karena kau di sini,” ketus Radit. Bea mendesah lelah, lalu meraba-raba ke bawah bantalnya untuk mengambil remote AC. Ketika dia menunduk menatap angkanya, dia langsung berseru protes, “Tapi, ini sudah enam belas!” “Justru itu, karena ada kau, jadi tidak terasa dingin,” sengit Radit. “Tidak terasa dingin? Kalau begitu, jangan pakai selimut!” Bea menarik selimut yang mereka pakai itu. “Bea, ini …” Bea menjerit frustrasi seraya berbalik tiba-tiba, mengejutkan Radit. Kini wajah mereka hanya berjarak tak lebih dari sejengkal tangan. Radit benar-benar tak mengerti kenapa tiba-tiba tatapannya turun ke bawah dan mendarat di bibir Bea. Ingatan ketika ia mencium bibir Bea sekilas beberapa hari lalu membuat Radit langsung beranjak duduk. Sekarang dia benar-benar termakan jebakannya sendiri. Semua ini tidak akan terjadi jika tadi dia tidak mengatakan hal-hal yang aneh pada Bea. Dan sekarang, dia harus terjebak dengan Bea dalam situasi seperti ini. Bagaimanapun, dia bukan anak kecil. Dia sudah delapan belas tahun, akan sembilan belas tahun beberapa bulan lagi. Dan betapa pun aneh dan gilanya seorang Bea, dia tetaplah seorang perempuan. Radit bahkan sudah menciumnya, meski hanya ciuman sekilas. Dan itu adalah ciuman pertamanya. Sialan. “Kau tidak bisa tidur di sini, apa pun yang terjadi,” tegas Radit. Bea ikut bangun dan menatap Radit dengan muram. “Kenapa?” Gadis itu mencebik. Radit menggeleng. “Bea, dengar. Aku … tidak bisa …” Radit benar-benar bingung untuk menjelaskan. Bagaimana dia akan menjelaskan tentang perempuan dan laki-laki yang sudah cukup dewasa tidak tidur sembarangan dengan lawan jenisnya? Bagaimana Radit akan menjelaskannya ketika ini Bea? “Jika bukan di kamar ini, kau mau tidur bersebelahan denganku?” tanya Bea penuh harap. Radit mengambil napas dalam, lalu menatap Bea. “Di tempat terbuka yang luas dan dingin,” jawabnya. Bea mengangguk. “Kita tidur di taman depan saja,”usulnya. Radit ternganga. “Di … taman depan?” Bea kembali mengangguk. “Di atas rumput, kita bisa menghitung bintang,” sarannya dengan ekspresi meyakinkan, seolah itu adalah saran yang sangat brilian. Radit mendesah frustrasi. Sepertinya tak ada pilihan lain. Akhirnya, dia pun mengangguk, menuruti saran brilian gadis paling bodoh yang pernah dikenalnya ini. *** “Jika besok aku sakit, aku akan menuntutmu untuk bertanggung jawab,” ancam Radit. Bea menghentikan kegiatannya menghitung bintang untuk menatap Radit. “Tidak masalah. Jika besok kau sakit, aku akan menciummu, dengan begitu, sakitmu akan berpindah padaku. Mudah, kan?” ucapnya riang sebelum kemudian kembali mendongak menatap langit. Radit mendengus tak percaya. Gadis ini … entah polos, entah bodoh. “Ah, sampai mana aku tadi?” keluh Bea seraya menunjuk langit. Radit ikut mendongak menatap langit. “Kau sampai pada bintang yang bersebelahan itu,” jawabnya. “Bukan, aku sudah melewati itu, mungkin aku sampai di bintang sebelahnya. Oh, tunggu dulu, aku sepertinya sudah menghitungnya juga. Berarti … argh! Ini semua gara-gara kau!” Bea menatap Radit dengan kesal. “Sudahlah! Aku lelah! Aku mau tidur!” kesalnya seraya berbaring memunggungi Radit dan meringkuk di balik selimutnya. Radit mendengus geli melihat tingkah kekanakan Bea itu. Gadis itu membawa bantal dan selimutnya keluar. Entah apa yang dia pikirkan. Radit tersenyum geli seraya melipat kedua tangannya di bawah kepala. Yah, setidaknya di sini cukup dingin hingga bisa menjaga akal sehat Radit tetap berfungsi. Tapi kemudian, Bea memanggil Radit. “Kenapa lagi, Bee?” tanya Radit sabar. Bea memutar badannya dan kini berbaring menghadap Radit. “Dingin …” keluhnya. Tubuhnya sedikit gemetar meskipun dia sudah berada di balik selimut. Radit mendengus geli. “Kemarilah,” katanya seraya merentangkan lengan. Bea tersenyum riang ketika beringsut mendekat pada Radit. Berpindah di sebelah Radit, Bea berbantalkan lengan kanan Radit. “Kau hangat,” Bea berkata seraya mendekat pada Radit. Radit tertawa pelan menanggapinya. “Dasar gadis bodoh. Kau ini, benar-benar merepotkan,” katanya seraya melingkarkan lengan kirinya ke tubuh Bea, lalu ia mengusap lembut kepala Bea. “Tidurlah, Bee. Tidurlah yang nyenyak dan bermimpilah yang indah,” ucap Radit. Hangat dan tenang. Itulah yang dirasakan Bea, yang akhirnya mengantarkannya pada lelap. *** Radit sudah naik ke mobilnya, menyalankan mesinnya dan mulai menjalankan mobilnya ketika kepalanya mendongak ke atas, ke lantai dua rumah Bea, dan melihat pintu balkonnya belum ditutup. Radit mengerutkan kening heran. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Gadis bodoh itu … kenapa ceroboh sekali? Radit kembali memarkirkan mobilnya dan turun, lalu kembali masuk ke dalam rumah Bea. Orang tua Bea tampak bingung dan kaget, tapi Radit beralasan bahwa dia ingin mengatakan sesuatu pada Bea. Orang tua Bea mengangguk, sementara Radit bergegas naik dan berjalan ke pintu menuju balkon. Ketika sampai di pintu, Radit segera menutup pintu itu. Tapi kemudian, sudut matanya menangkap sosok di bangku panjang di balkon itu tepat sebelum ia menutup pintu itu. Radit mengerutkan kening heran seraya kembali membuka pintu itu dan melongok ke bangku di sebelah kiri balkon. Radit mendengus tak percaya melihat Bea yang berbaring di bangku panjang itu, dalam keadaan tertidur. Gadis ini benar-benar … Radit mendesah lelah seraya menghampiri Bea. Ia menyentuh wajah Bea yang dingin. Sudah berapa lama Bea berada di luar sini? Radit kembali teringat pada kejadian hampir sepuluh tahun lalu, yaitu ketika ia dan Bea tidur di taman karena Bea takut tidur di kamarnya. Malam itu juga, ketika Bea sudah terlelap, Radit mengangkat Bea masuk dan membaringkannya di kamar Bea, sementara Radit tidur di lantai kamar Bea karena khawatir gadis itu akan terbangun di tengah malam dan ketakutan karena sendirian di kamarnya. Radit tersenyum lembut menatap wajah tidur Bea itu. Dia tidak berubah. Ini … Bea yang sama. Radit meletakkan tangannya di pipi Bea untuk menghangatkannya. “Radit?” Suara dari pintu itu mengejutkan Radit yang segera menarik tangannya dari wajah Bea. “Oh, hai, El. Bea … sepertinya dia tertidur di sini,” gugup Radit. “Oh,” gumam Elia. “Ini salahku. Dia pasti kesal padaku karena aku tertidur saat mendengarkan ceritanya tadi. Ketika aku bangun karena haus tadi, dia tidak ada. Dan ketika aku keluar, kulihat pintu ini masih terbuka,” urai Elia. Radit mengangguk. “Aku akan membawanya masuk. Tolong bukakan pintu kamarnya,” kata Radit. Elia mengangguk. Ia mengawasi Radit yang dengan sangat hati-hati, menyelipkan lengannya di bawah tubuh Bea dan mengangkat tubuh gadis itu. “Astaga, dia masih seringan dulu,” Elia mendengar Radit bergumam. Elia mengangkat alis. Dulu? Berarti, Radit pernah menggendong Bea seperti ini dulu? Bea bergerak pelan dalam gendongan Radit, membuat Radit menghentikan langkahnya, menunggu. Tapi, gadis itu tidak bangun dan hanya bergumam, mengigau, tak keras tapi cukup keras untuk didengar Radit dan Elia, “Radit bodoh …” Elia harus menahan tawa ketika ia menunggu reaksi Radit. Dia harus bersiap-siap jika Radit melepaskan Bea dari gendongannya begitu saja, tapi Radit tidak melakukannya. Alih-alih marah karena igauan Bea itu, Radit malah mendengus geli seraya menatap wajah Bea. “Selalu saja merepotkan,” Radit berkata pelan ke arah Bea. Elia berusaha menahan senyum saat ia menepi ketika Radit membawa Bea masuk. Elia juga membukakan pintu kamar Bea untuk Radit. Elia masih bertahan di pintu dan memperhatikan bagaimana Radit menurunkan Bea di atas tempat tidurnya dengan sangat lembut. Pria itu bahkan menyelimuti Bea, dan setelahnya, ia masih membungkuk di sana dan menatap wajah Bea. Elia tersenyum ketika Radit menyentuh wajah Bea dengan lembut, sebelum kemudian menarik tangannya dengan terburu-buru, dan berdiri dengan terburu-buru pula. Ia berdehem pelan, tampak canggung ketika berjalan ke pintu. “Aku … akan kembali ke hotelku. Dan kau … bisakah kau tidak mengatakan tentang ini padanya?” pinta Radit, nyaris putus asa. Tangannya mengusap leher dengan canggung. Elia tersenyum penuh sesal. “Aku tidak janji, Radit,” katanya. “Usahakan saja, kalau begitu,” kata Radit lagi. Elia tersenyum geli. “Aku tidak akan mengatakan padanya bahwa kau menyentuh wajahnya berkali-kali malam ini,” ucap Elia. “Aku menyentuh wajahnya untuk menghangatkannya. Tadi tubuhnya sangat dingin dan … baiklah, lupakan saja. Aku pergi dulu,” pamit Radit seraya bergegas melewati Elia, mengunci pintu balkon sebelum kemudian menuruni tangga. Elia mendengus geli sebelum masuk ke kamar dan menutup pintu kamar Bea. Elia menatap Bea yang sudah terlelap. “Apa yang membuat kalian berdua bermain kucing-kucingan seperti ini, Beatrice Alexandra?” ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN