Tentang Gita
Malam ini begitu berat untuk gadis yang harus berakting berdebat dengan kakak pembina pramuka sekaligus anak dari pemilik sekolah.
Beliau menyiapkan skenario, agar gadis itu mendebat pendapatnya di depan murid lain, dan hasilnya gadis itu lah yang di rugikan, dia yang diolok, dia yang jadi sasaran kekesalan semua murid.
Obama...Obama...Obama…
Sorakan Nama Obama terdengar di seluruh lapangan sekolah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di sekolahnya memang diadakan acara camping akbar, atau lebih sering disebut malam keakraban bagi semua siswa. Acara ini diadakan dua hari setelah ujian sekolah, karena setiap ujian sekolah pasti semua murid bersaing ingin mendapatkan nilai terbaik nya, maka diadakanlah malam keakraban, untuk mengembalikan keakraban semua muri. Begitulah arti dari acara camping akbar ini menurut para guru.
Sebagai mantan pemimpin PASIS (pasukan istimewa dari ekskul pramuka) malam ini gadis itu diminta Mendebat sang kakak pembina. Katanya untuk menambah momen acara. Gadis itu menurut dan mengikuti sesuai arahannya. Namun, diluar prediksi ternyata semua murid salah paham padanya. Mereka mengira gadis itu keterlaluan, sok pintar dan belagu, sehingga terciptalah panggilan Obama, yang menurut Mereka karena gadis itu Hitam, kecil dan pendek. Dan tak jarang mengolok dengan kalimat udah kecil item pendek idup lagi
Karena memang pada saat itu Obama baru saja terpilih sebagai Presiden Amerika pertama yang berkulit Hitam. Dan mereka pun sama mengartikan gadis itu sebagai Ketua dari Tim PASIS pertama yang berkulit hitam.
Jika kalian bertanya apakah dia sakit hati? Jawaban nya tentu tidak! Malah dia bangga.
Karena memang dia pun mengagumi sosok Obama yang cerdas, dan mampu membawa perubahan pandangan bahwa orang yang berkulit hitam pun bisa memimpin negara Adidaya seperti Amerika. Dan jangan lupakan fakta jika Obama pernah bersekolah di Indonesia walaupun sekolah dasar, tetap saja itu jadi pondasi awal pendidikan nya. Setelah malam itu dan seterusnya gadis itu tetap dipanggil Obama di manapun jika bertemu dengan teman sekolah nya.
Anggita Purnama adalah nama gadis itu, atau jika disekolah teman temannya biasa memanggil Obama.
Dua hari kemudian tepatnya pada tanggal 15 Juni 2009, Hari ini adalah pengumuman kelulusan dan pengisian formulir pendaftaran bagi yang akan melanjutkan sekolah ke jenjang menengah Atas, sekolah berbasis Islamic boarding school dari menengah pertama atau yang disebut MTS (Madrasah Tsanawiyah) sampai menengah atas atau yang disebut MA (Madrasah Aliyah).
"Seperti tahun-tahun sebelumnya nilai terbaik di tingkat Madrasah Tsanawiyah di diraih oleh Anggita Purnama!" pembacaan nilai yang dibacakan oleh pak Solihin kepala Madrasah Tsanawiyah, yang langsung disambut tepuk tangan dan jangan lupakan teriakan nama Obama memenuhi aula gedung.
"selamat nya Git. Padahal cuma beda dua doang nilainya."
Yanti saingan terberat dalam pelajaran memberikan ucapan selamat. nilainya hanya beda dua angka dengan Gita, tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan Gita.
"Terima kasih, Yan. Iya, ya. di Raport Yanti lebih tinggi dua juga dari Gita."
Setelah pembacaan nilai selesai, sebagian melanjutkan mengisi formulir pendaftaran bagi yang ingin tetap melanjutkan di sekolah ini.
Gita berjalan keluar gedung dan mendapati Rina sedang duduk di salah satu teras sekolah sedang mengisi formulir. Gita pun berjalan mendekatinya dan bertanya.
"Rina. ngambil IPA apa IPS?" tanya Gita pada Rina dan ikut mendudukkan dirinya di sebelah Rina.
Rina menoleh tersenyum dan menjawab,
"IPS Git, IPA mah pusing, kalo Gita ngambil apa?" jawab nya dan bertanya balik. Sebisa mungkin Gita tersenyum dan menjawab.
"Kayaknya sama ngambil IPS, Gita kan suka sama IPS," jawab Gita dengan mempertahankan senyumnya.
"Pasti di Neta ya?"
NETA adalah nama sekolah menengah atas yang terkenal dengan jajaran murid berprestasi, sehingga Rina menebak bahwa Gita pasti melanjutkan ke sana. Gita tersenyum dan menggeleng.
"Gita mau ke Subang, jadi rencana nya mau sekolah di Subang."
Rina hanya ber oh ria. Setelah itu dia pamit dan melanjutkan langkahnya ke ruang penyimpanan piala. Ya dia bisa bebas keluar masuk ruang penyimpanan piala.
Gita lebih baik membersihkan piala-piala nya sebelum ia benar benar meninggalkan sekolah nya ini, karena setelah pulang dari sekolah besoknya dia akan langsung ke jakarta ikut bersama kakak nya. Jadi sebelum dia pergi, Gita akan bernostalgia dengan kemenangan nya. Kenapa Gita sebut kemenangan nya?
Karena di ruangan ini Gita menyumbangkan tiga piala pribadi dari lomba akademik, dan lima piala dari kegiatan pramuka di bawah kepemimpinan nya.
Setelah sampai dia berjalan ke sisi kiri melihat piala berukuran satu meter dengan empat tiang, ini adalah piala bergilir dari lomba jambore antar Kecamatan tingkat Kabupaten.
Pada saat itu untuk tingkat menengah pertama. Sekolah nya yang menjadi wakil kecamatan untuk berangkat ke kabupaten di bawah kepemimpinan nya, dan Alhamdulillah berkat kekompakan team, kecamatan nya menjadi pemenang dan berhasil membawa piala bergilir ini. Dan tentu saja Ibu Hj.Dedeh sebagai kepala yayasan bangga terhadap anggota PASIS angkatan nya.
Karena untuk pertama kalinya selama mendirikan sekolah, beliau berkata ini yang pertama mendapatkan penghargaan seperti ini. bayangan kemenangan itu bagaikan roll film yang berputar dengan sendirinya di ingatan sang gadis. Gita pun mulai membersihkan sedikit debu yang menempel dengan meniup-niupnya. Setelah dirasa puas, ia berjalan keluar, dan berpapasan dengan Pak Rohman.
"Gita nggak ngambil formulir?" tanya Pak Rohman guru yang bertugas membagikan formulir tersebut.
"Eh! Gak, Pak." Jawab nya sambil tersenyum tipis
"Loh, Emang tidak lanjut sekolah?" tanya nya lagi.
"Gita mau lanjutin sekolah di Subang Pak." Rina teman yang tadi tiba tiba datang dan menjawab pertanyaan Pak Rohman.
"Oh... Bapak kira tidak lanjut sekolah, murid berprestasi seperti kamu sayang jika tidak dilanjutkan."
"Eh, insya allah, Pak." Jawabnya sambil tersenyum.
"Ya udah kalo gitu Bapak ke ruang guru dulu. assalamualaikum," pamit Pak Rohman.
"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.
"Pulang yuk Git."
Ajak Rina, dan ia hanya mengangguk setuju. Setelah itu mereka berpisah di gerbang sekolah, karena arah rumah nya ke kanan dan Rina ke kiri.
Gita terbiasa berangkat dan pulang sekolah sendiri. Karena jika bersama teman-temannya yang lain di jalan mereka suka membicarakan tentang kakak kelas yang katanya tampan, dan Gita tidak suka itu. Karena sebenarnya Gita kurang pandai bergaul dengan teman perempuan, temannya lebih banyak laki laki.
***
Keesokan hari nya Gita berencana akan langsung berangkat ke Jakarta, tetapi Ibu nya menahan, kata Ibu nanti saja minggu depan, toh sekolah juga belum masuk, jadi ia tidak akan melihat teman-temannya berangkat ke sekolah, dengan memakai seragam putih abu-abu dan ia hanya melihat nya dengan sedih, ibu sempat bertanya.
"Beneran Gita nggak mau lanjutin sekolah? kemarin Bu Hj ngomong, Gita bisa dapetin beasiswa. Kalo mau di daftarin, tapi di kabupaten bukan di sekolah itu." Gita hanya menjawab dengan menggelengkan kepala, lalu berdiri dan berkata.
"Gita mau punya duit sendiri, Mak. Susah pengen beli buku doang juga kalau harus minta ke teteh aja, kasian teteh jua repot, belum lagi adik-adik harus sekolah, Gita mah mau kerja aja."
Selama seminggu itu Gita hanya berada di rumah tidak ke mana-mana, karena memang pada dasar nya ia lebih suka menyendiri di dalam kamar dan membereskan pekerjaan rumah.
Gita jarang sekali ke sawah membantu orang tuanya, bukan karena tidak mau, hanya saja Gita terlalu takut pada hewan yang bernama ulat bulu. Entah kenapa setiap kali melihat ulat bulu, Gita merasa wajahnya tertutup dan gelap, membayangkan nya saja dia sudah merinding, jadi Gita memang diberi tugas membersihkan rumah. Jadi jika hanya sekedar mencuci,memasak menyetrika sudah makannya sehari hari.
Gita memiliki 11 saudara. Jadi jika ia dihitung berarti anak orangtuanya ada 12, wow seperti kesebelasan sepak bola bukan? Dengan satu pemain cadangan.
Orang tua jaman dahulu tidak mengenal istilah KB dan menganut paham banyak anak banyak rezeki. Ya, karena rezeki itu bukan hanya sekedar uang kan? Memiliki tubuh sehat pun sebuah rezeki yang tak ternilai, mangkanya kita diajarkan harus tetap bersyukur.
Dari 12 Anak meninggal tiga berarti tinggal sembilan yang tersisa, Kakaknya lima dan adik nya tiga. Orang tuanya dilimpahi rezeki berupa Anak tapi tidak dilimpahi materi. Materi yang di punya hanyalah uang hasil bekerja sang ayah yang berjualan serabutan, dan dua kakak nya yang berada tepat di atasnya, sedangkan ke tiga lain nya sudah menikah dan mempunyai anak.
Dan ya, kehidupan mereka pun pas-pasan, jadi mereka hanya membantu sebisanya.
Sebenarnya Gita ingin sekali mengambil jalur beasiswa itu, tapi mengingat di keluarganya hanya ia yang mulai melanjutkan pendidikan dari tingkat SD ke SMP, membuat kedua kakaknya merasa iri. Jadi ya, mereka sedikit membencinya, jadi Gita memutuskan daripada tambah dibenci karena terus bersekolah, ia lebih baik bekerja dan menghasilkan uang untuk membantu biaya pendidikan ketiga adiknya. Walaupun nantinya dia hanya bekerja di sebuah Konveksi tapi tidak apa yang penting halal.
Ini adalah hari minggu kakaknya sudah pulang dari sabtu kemarin, dan hari ini ia akan berangkat kembali ke Jakarta. Tekad Gita sudah bulat, Gita akan mengikuti jejak nya bekerja di jakarta, sore nanti mereka akan berangkat.
Walaupun selama satu minggu ini Ibu nya terus bertanya tentang keputusannya, tapi Gita sama sekali tak merubahnya. Biarlah keinginan nya untuk bersekolah harus ia kubur sedalam-dalamnya. Gita akan melanjutkan keinginan nya itu melalui adik adiknya, agar mereka yang tetap bersekolah menggantikan nya.
Mereka berangkat pukul 16.00 dengan diantar sang bapak menuju jalan raya, dari jalan raya mereka menaiki bus yang membawa sampai ke terminal Kalideres. Selama di perjalanan kakak beradik itu tidak saling bicara.
Begitulah hubungan mereka, selalu dingin walaupun dia kakak yang tepat di atasnya, tapi dia lebih dekat dengan adiknya yang tepat di bawahnya.
Sampai di terminal pada jam 18.15 Wib, karena perjalanan lumayan macet, di terminal mereka tidak langsung melanjutkan perjalanan. Mereka mampir di mushola untuk melaksanakan sholat maghrib terlebih dahulu, baru setelahnya mereka melanjutkan perjalanan dengan menaiki Metromini.
Sampai di kontrakan sang kakak jam 19.00 Wib, Gita disambut kakaknya yang merupakan menantu dari si pemilik kontrakan.
Gita diantar ke kamar yang tidak lebih besar dari ukuran kamar mandi di rumahnya, kamar dengan ukuran 1x2 m persegi hanya muat untuknya tempati seorang diri, terdapat satu keranjang pakaian, bantal dan satu kipas baling-baling yang telah disediakan sang kakak.
"Ini kamarnya, udah dibayar buat bulan ini sama teteh, mulai besok kan udah kerja, jadi bulan depan bayar sendiri ok," jelas nya.
Gita hanya menjawab, "oke bos."
Setelahnya kakak Gita turun ke kamarnya. Kakaknya yang ini bernama Yola, dia Kakak yang pengertian, tapi jangan membuat nya marah, jika sampai membuat nya marah repot dunia persilatan, bisa-bisa dia murka.
Di daerah ini Yola menjadi adik angkat kesayangan kepala preman, karena katanya waktu pertama Yola bekerja disini dititipkan kepada kepala preman tersebut oleh orang tua mereka, karena kepala preman itu sangat menghormati orang tua Gita. Karena jasanya di masa lalu. Jadi Ya, Yola berkata tidak perlu takut di ganggu anak anak nakal di depan gang, tinggal bilang saja pada kepala preman nya nanti juga mereka takut sendiri.
Dan memang benar sampai sudah punya anak dua tidak ada yang berani mengganggu Yola. Jadi Gita bisa tenang tinggal disini walaupun lingkungan nya sangat pengap dan sedikit kumuh, tapi tidak apa, dia harus tetap semangat, itu yang Gita tanam kan.
Setelah membersihkan diri, Gita pun turun ke bawah menemui kakaknya untuk makan nasi timbel yang dibuatkan oleh sang ibu tadi siang.
Nasi yang dibungkus daun pisang, dan lauk berupa jengkol balado, ikan asin sepat, tidak ketinggalan tempe goreng, sambal dan juga lalapan daun singkong yang sudah direbus. Aroma nasi yang bercampur dengan bau daun pisang menjadikan rasa yang mantap, mereka pun makan bersama.
Setelah selesai Gita kembali naik ke kamar nya, menggosok gigi istirahat sebentar, setelah nya menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu sholat isya.
Selesai sholat Gita mulai merebahkan diri dan tak lupa berdoa agar tidur nyenyak dan tidak diganggu oleh penghuni kamar ini. Karena kata kak Yola kamar ini bekas gudang. adang ada yang menangis. Karena Yola tau Gita bukan penakut jadi Dia mengizinkan Gita menempati kamar ini, katanya asal jangan lupa berdoa saja minta di jauhkan dari segala macam bahaya.
Setelah nya ia pun terlelap untuk mengarungi alam mimpi, mempersiapkan diri mulai hari esok untuk memulai bagaimana susah nya mencari uang.