Ada Yang Kurang

1933 Kata
Setelah dari rumah Rian, mereka langsung menuju kontrakan Gita dengan Hendrik yang mengemudikan mobil. Begitu sampai di tempat parkir seperti biasanya, Gita, Kenn dan Rian turun, sedangkan Hendrik kembali menjalankan mobil menuju kontrakan Oncom. Gita berjalan di tengah antara Rian dan Kenn, hari belum terlalu sore, sehingga tidak ada pemuda yang berkumpul seperti biasanya, membuat Gita bernapas lega karena tidak mendengar godaan-godaan dari pemuda setempat. "Untung sepi, suka males gue kalo denger ledekan tu para bocah," kata Kenn yang mengingat jika berjalan bersama Gita di hadapan pemuda setempat. "Bocah teriak bocah," ledek Gita. "Lu kapan mau pindah dari sini? Betah banget sih di tempat kayak begini?" tanya Rian heran. "Gak bakalan boleh juga sama Mpo gue," jawab Gita yakin. Yola tidak akan mungkin mengijinkan Gita ataupun adiknya yang lain untuk tinggal jauh darinya. "Sumpek tau, mendingan tinggal di rumah gue. Gratis nyaman dan damai," saran Kenn santai. Gita memutar bola matanya, "Terus gue kudu berangkat jam lima pagi Gitu dari sono sampe ke tempat kerja?" "Ya gak usah kerja," jawaban Kenn membuat Gita mendengus. "Kalo gak di rumah gue." Rian ikut menyarankan rumahnya. "Makasih," kata Gita dengan tersenyum manis. "Lu mah." Rian mengacak rambut Gita pelan. Sepanjang jalan menuju kontrakan Gita banyak yang melihat mereka dengan tatapan kagum, padahal mereka sudah sering melihat Anak Onta nya, tapi entah kenapa masih tetap terpesona saja. "Assalamualaikum, 'A." Sapa Rian pada Dodo yang sedang menunggu konternya. "Waalaikumsalam, maaf ya lewat aja," canda Dodo. "Kasian, Pak. Tiga hari belom makan," balas Kenn dengan nada memeles. Mereka tertawa, Gita masuk ke dalam kontrakannya, sedangkan Rian dan Kenn duduk di kursi plastik yang tersedia. "Tolong ya, kalo gak beli pulsa jangan ngalangin jalan. Ribet deh." Yola datang dengan candaan seperti biasanya, jika yang tidak biasa mungkin akan tersinggung. "Pelit amat Bu," balas Rian dengan menggeser kursi yang didudukinya, karena memang mereka menghalangi jalan. "Kita mau pulang, Teh. Mau ikut gak?" tanya Kenn yang membuat Yola menaikkan sebelah alisnya. "Pulang ke mana? Kok ngajak-ngajak?" tanya Dodo heran. "Ke kampung dong," jawab Kenn bangga. "Emang punya kampung?" heran Yola. "Kampung Teteh," jawan Rian langsung. "Widih, maen akuin aja. Emang diterima kalo kesono?" "Weh! sekate-kate, ya diterima lah. Masa orang ganteng gak diterima." Kenn menyugar rambutnya tanda bahwa dirinya keren. "Baru tau kalo ada orang ganteng disini." Mereka tertawa mendengar ledekan Yola. "MasyaAllah, ternyata aku tidak diakui sebagai orang ganteng. Padahal udah paripurna ini," kata Kenn dengan tawanya. "Halo, Brew!" sapa Oncom dengan gayanya. "Lu mau ke mana, Com?" tanya Dodo, sama seperti para Anak Onta, Dodo pun suka sekali meledek Oncom. "Atuh udah keren begini ya pasti mau jelong-jelong lah," jawabnya yang merasa sudah keren. Jeans warna navy dan kaos panjang warna putih dengan gambar grup band barat ternama. "Widihh yang keren!" timpal Yola. "Woih, yoi Mamen!" seru Oncom ala anak reggae. "Lu mau ikut ke kampung gue, Com?" tanya Yola. "Atuh, yoyoi Bu Mandor." "Mau ngapain? Tar lu ngabisin nasi Emak gue lagi di sono." "Sekate-kate emang." Mereka lagi-lagi tertawa mendengar celotehan Oncom. "Mama! Achu mau ke rumah Ma Oyot, Ace mau ikut!" teriak Chika dari arah dalam. "Heh gak mau ngajak Ace, sempit. Mobil Om Kenn nya gak muat," cegah Oncom sengaja ingin membuat Chika menangis. Chika akan heboh jika ada yang pulang ke kampung Mamahnya. "Ih ... Bodo amat! Ante Oncom yang gak boleh ikut. Iya 'kan Om Kenn?" harapnya pada Kenn agar mendukungnya. "Iyain jangan ya?" goda Kenn yang membuat Chika menatapnya penuh harap. "Ace boleh ikut tapi ada syaratnya." Sambung Kenn yang membuat Chika cemberut, Anak perempuan yang dua bulan lagi akan berumur enam tahun itu sudah tahu syarat apa yang akan diberikan oleh Kenn. Kenn pasti memintanya untuk mencium kedua pipinya, hal yang tidak pernah mau dilakukan olehnya. "Gak mau," jawabnya tanpa mendengarkan permintaan Kenn. "Emang syaratnya apa coba?" goda Kenn yang membuat Chika tambah memajukan bibirnya. "Pasti minta di cium," jawab gadis kecil itu dengan menggerutu pelan. "Idih, pede banget. Om gak mau ya di cium sama Ace," balas Kenn membuat Chika berdecih, ia tahu bahwa Om nya itu berbohong. "Terus apa dong kalo gak minta di cium?" "Beliin Om s**u kotak rasa coklat." Chika tersenyum sumringah mendengar syarat dari Kenn. Chika langsung berlari ke warung belakang dan melupakan bahwa dirinya tidak membawa uang, tapi Chika berhasil membawa satu kotak s**u coklat ukuran kecil, membuat mereka semua tertawa. "Ini Om." Chika menyerahkannya pada Kenn. "Tadi 'kan Ace gak bawa duit, kok bisa dapet sih susunya. Gimana ceritanya ini?" tanya Hendrik. "Kan nanti Mamah yang bayar," jawabnya cuek. "Waduh! Bahaya, kecil-kecil dia udah ngutang," mereka tertawa mendengar ucapan Rian. "Hayu," ajak Gita yang sudah siap. "Mamah, Achu udah mau berangkat ini. Ace mau ikut! Bapak Ih!" teriaknya hampir menangis. "Kok sama Bapak sih? Sama Mamah lah izinnya," balas Dodo. "Lu sih pada berisik, ribet 'kan jadinya dia," tegur Yola. "Ajak aja sih. Tapi janji gak boleh nangis, terus kalo di ajak pulang kesini nya gak boleh susah." Peringatan Gita sebelum mereka berangkat. Akhirnya Yola mengizinkan Chika untuk ikut, Chika memang tidak akan menangis, hanya saja ia akan sangat susah untuk di ajak pulang kembali ke Jakarta bila sudah di kampung. "Hore!" teriak Chika karena diizinkan oleh Mamahnya. "Eh, janji dulu." Gita mengulurkan jari kelingkingnya pada Chika untuk melakukan pinky promise. Walaupun masih kecil chika tidak akan mengingkari janji yang sudah dibuatnya, anak kecil satu itu memang sangat cerdas. "Bawel ih!" dengan menggerutu Chika mengulurkan jari kelingkingnya dan menyatukannya dengan Gita. "Nih duit buat jajannya." Yola menyerahkan uang jajan untuk Chika. "Jeh! Pake acara di titipin duit segala," kata Rian. "Oh iya lupa kalo Om nya Beruang semua," balas Yola dengan cengiran. "Kaga sekalian Panda," balas Kenn dengan menyimpan uang Yola di atas etalase. Setelah itu barulah mereka pergi menuju mobil Kenn, Rian yang akan menggendong Chika langsung ditolak oleh anak itu. Menurut Chika, ia bukanlah anak kecil yang harus digendong. Celotehan Chika menjadi penghibur untuk kali ini, anak itu benar-benar cerewet dan ingin tahu segala hal. "Om Andra, Om Getta sama Om Wildan ke mana sih? Kok Ace gak pernah liat lagi," tanyanya yang sudah satu minggu lebih tidak bertemu dengan Anak Onta lainnya. "Om Andra lagi sakit, jadi mesti di rawat. Om Getta sama Om Wildan nemenin di rumah sakit," jawab Rian yang ada disebelahnya. "Kok cuma Om Getta sama Om Wildan aja yang nemenin. Achu juga kenapa gak nengokin Om Andra di rumah sakit?" Chika akan terus bertanya hingga ia rasa pertanyaannya sudah selesai semua dan ia mendapatkan jawaban yang puas. "Rumah sakitnya di Luar negeri, Ce. Ongkosnya banyak, lagian nanti juga Om Andra pulang kalo udah sembuh." Kali ini giliran Hendrik yang menjawabnya. "Oh begitu, berarti harus kerja yang lama dulu dong ya biar bisa pergi keluar negeri," gumamnya dengan polos. "Mendingan makan, Ce. Daripada kamu ngoceh mulu," saran Oncom yang menyerahkan biskuit pada Chika. "Tante Oncom kok baik sih sama aku," ucapnya dengan polos. "Emang selama ini Tante jahat ya?" tanya Oncom heran dengan wajah melas. "Gak sih." Setelah itu Chika fokus pada makanannya, hingga tidak lama kemudian ia mulai menguap karena mengantuk. "Lemes banget ponakan lu yang ini," kata Kenn yang sedari tadi diam dan fokus pada handphonenya. "Tau nih anak, mana pinter banget lagi," sambung Hendrik dari balik kemudinya. "Perasaan ada yang kurang ya," celetuk Oncom tiba-tiba. "Iya, Anak Onta gue gak lengkap, Gue kangen sama mereka." Gita menyandarkan kepalanya pada jendela mobil. Perjalanan terasa kurang karena personilnya tidak lengkap. Gita Merindukan Anak Onta nya yang lain. "Sabar, Kak. Nanti kita kumpul lagi." Rian mengusap pelan kepala Gita. Ia pun merasakannya, perjalanan walaupun ditambah dengan Chika sebagai penghibur, tapi rasanya tetap berbeda jika personil mereka lengkap. Mobil yang dikendarai oleh Hendrik telah terparkir sempurna di halaman rumah pamannya, mereka tiba tepat ketika adzan magrib berkumandang. Chika langsung turun dan berlari untuk segera masuk kedalam rumah. Rumah langsung heboh dengan kedatangannya. Rian dan Kenn menurunkan barang bawaan mereka terlebih dahulu, karena di rumah Gita ada lima keponakannya yang seumuran dengan Chika, maka dari itu tadi mereka membeli buah-buahan dan juga makanan dan minuman untuk anak kecil. Besok rencananya mereka akan berlibur ke pantai Anyer, seperti dulu ketika Anak Onta mengajak Kiki dan Fani ke sana. Namun kali ini mereka hanya akan mengajak Kiki saja, sedangkan untuk Chika sendiri ia tidak akan mau ikut jika harus ke pantai. Chika tidak pernah mau jika terkena sinar matahari pantai yang akan menggosongkan kulitnya. Tidak main di pantai saja kulitnya masih kalah jauh dengan para Om Onta nya, apalagi jika dirinya main di pantai dan terkena paparan sinar ultraviolet, maka sudah bisa dipastikan kulitnya akan sama seperti Gita yang menurutnya hitam. Chika dengan segala kelebihan pikirannya memang tidak bisa dipisahkan. *** Gita langsung menuju dapur untuk melihat isi rak penyimpanan lauk yang sudah matang, karena Chika berkata jika dirinya merasa lapar. Hal itu membuat para Anak Onta menggeleng kepalanya, karena ketika dijalan sudah beberapa kali mereka menawarkan makan padanya, tapi selalu tidak jawab tidak mau olehnya. Benar kata Gita jika anak Yola itu tipe jenis anak yang membuat malu orang tuanya, karena jika di rumahnya sendiri Chika sangat susah untuk makan, tapi begitu sampai di rumah neneknya Chika selalu ribut jika dirinya lapar. Ya seperti saat ini, dirinya tengah meminta makan pada neneknya atau yang dipanggil dengan sebutan Mak Oyot olehnya. "Oyot masak apa?" tanyanya yang juga ikut ke dapur dengan Gita dan Ibunya. "Oyot masak daun pepaya Jepang yang dicampur sama cumi asin. Ace mau?" tanya Ibu Gita pada cucunya yang paling cerewet. "Daun pepaya nya ngambil di Jepang? Jepang 'kan jauh ya, Chu?" tanyanya lagi penasaran dengan nama sayuran yang dimasak oleh Mak Oyot nya. "Tanya Om Hendrik sono. Achu gak tau," perintah Gita. Anak Onta selalu dijadikan Google berjalan oleh Gita, jika ia tidak mengetahui apapun itu, pasti ia akan bertanya pada para Anak Onta nya. Jika itu masalah ilmu pengetahuan tentu saja Hendrik yang akan menjawabnya. Chika kembali menuju depan rumah untuk menanyakan tentang nama sayuran yang bari di dengarnya. "Om, Om. Mak Oyot masak daun pepaya Jepang. Om tau gak?" tanyanya dengan heboh. "Tau," jawab Hendrik belum menjelaskan. "Ace malu-maluin ih! Tadi di jalan Katanya gak laper, datang Kesini malah ribut pengen makan." Kenn berkata ketika Gita membawakan teh hangat untuk para Anak Onta nya. "Sudah biasa dia mah. Mangkanya Bapaknya suka marah juga ya gitu," sela Gita. "Itu daunnya ngambil dari Jepang?" tanya Chika yang tidak menghiraukan perkataan Kenn. "Namanya emang daun pepaya Jepang, Ce. Asalnya dari Amerika Tengah atau lebih tepatnya Meksiko, nama lainnya yaitu Chaya. Kalau untuk kata Jepang nya sendiri Om juga gak tau," jawab Hendrik yang berharap semoga tidak ada pertanyaan lanjutan lagi. Karena hanya sebatas itu yang ia tahu. Jenis tanaman yang dikategorikan juga sebagai superfood karena kaya akan nutrisi dan manfaat untuk kesehatan tubuh. Daun ini lebih bergizi jika dibanding sayuran berdaun hijau lainnya seperti bayam dan sawi. Kandungan protein, kalsium, zat besi, vitamin A dan C yang tinggi sangat baik untuk memenuhi asupan nutrisi sehari-hari. Protein pada satu porsi daun ini setara dengan protein satu butir telur. kandungan vitamin C di dalamnya mampu membuat tulang lebih kuat dan membantu tubuh menyerap zat besi. Dalam 100 gram daun pepaya Jepang, inilah nutrisi yang terkandung di dalamnya vitamin C: 164,7 mg, Zat besi: 11,4 mg, Fosfor: 39 mg, Kalium: 217,2 mg, Kalsium: 199,4 mg, Serat: 1,9% Air: 85,3% Protein: 5,7% Persentase diambil berdasarkan dari keseluruhan nutrisi pada daun. Informasi diambil dari Sehatq.com. Beruntungnya setelah itu Chika diajak bermain oleh sepupunya yang lain, sehingga ia tidak lagi bertanya tentang keterangan lebih lanjut tentang Daun Pepaya Jepang. Jika itu sampai terjadi, maka sudah di pastikan Hendrik yang akan pusing menjawabnya. Karena selain bertanya, jika juga sering mendebat jika menurut pikiran kecilnya tidak masuk akal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN