Rachel memutar bola matanya sebal lalu memasukkan ponsel ke dalam saku sweater. Ia mendesah muram, mendongak memandang langit sebentar dan menyeret kakinya untuk berjalan. Jika sudah begini, apa yang bisa ia lakukan? Ya, meskipun di lain sisi ia juga bersyukur karena tidak perlu menjawab pertanyaan Ji-Yeon.
Untuk kedua kalinya Rachel mendesah muram. Ternyata memastikan sendiri tidak semudah yang ia kira. Malah pikirannya terasa semakin kacau. Otaknya terasa lumpuh. Ia tidak bisa berpikir dengan benar.
Mendadak Rachel terkesiap ketika pandangannya yang kosong menangkap bayangan seorang perempuan. Cantik. Kata itu yang pertama muncul di pikirannya. Dan sepertinya perempuan itu tidak asing. Oh! Rachel ingat. Perempuan itu yang ia lihat bersama Seung-Hun waktu itu. Kali ini, untuk kedua kalinya Rachel melihat perempuan itu lagi, Rachel baru menyadari perempuan sangat cantik. Dan kenyataan jika seseorang di samping perempuan itu adalah Han Seung-Hun membuat Rachel terhenyak seketika. Ia mematung tanpa bisa berbuat apa-apa.
Seung-Hun bersama perempuan itu lagi. Apa karena itu Seung-Hun tidak menjawab teleponnya? Rachel menarik napas pelan yang entah kenapa terasa sangat menyakitkan. Ia cepat-cepat berpaling ketika Seung-Hun akan memandang ke arahnya. Dengan gerakan kaku yang Rachel yakin tidak jauh berbeda dengan robot, ia berjalan tanpa memandang mereka. Rachel tidak tahu apa Seung-Hun sudah melihatnya, tetapi ia sangat berharap Seung-Hun tidak melihatnya.
Setiap langkah yang diambilnya membuat Rachel merasa semakin menyesal, mungkin seharusnya ia berbalik. Bukannya kembali berjalan yang mau tidak mau harus melewati mereka.
“Rachel!”
Rachel tertegun. Ia menyeret bola matanya menatap Seung-Hun, lalu perempuan itu sekilas dan kembali pada Seung-Hun. Laki-laki itu tersenyum, tetapi kali ini Rachel tidak ingin meninjunya. Ia hanya ingin bisa menghilang dari sana detik itu juga. Mereka –Seung-Hun dan perempuan cantik itu- berjalan ke arahnya bersamaan. Rachel merasa jantungnya melonjak keras sampai membuatnya merasa lemas.
“Kau baru pulang? Sendirian?” tanya Seung-Hun ketika ia berdiri tepat di depan Rachel. Ia tidak menyadari gadis di hadapannya membeku.
“Ya?” sahut Rachel seperti orang yang sedang hilang kesadaran. Perempuan itu berdeham. Refleks Seung-Hun dan Rachel berpaling menatapnya. Rachel sangat menyesali gerakan refleksnya ini, ia tahu pasti perempuan itu memberi isyarat pada Seung-Hun agar ia mengenalkan dirinya pada Rachel.
“Oh ya.”
Jantung Rachel yang malang kembali melonjak keras mendengar suara Seung-Hun. Tidak! Sungguh ia tidak ingin mendengarnya! Rachel merasa ingin marah, Seung-Hun jahat! Perempuan itu jahat karena sudah membuatnya merasa sangat bodoh seperti ini.
“Rachel, perkenalkan ini Kakakku.”
Rachel melongo. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat itu juga. Perempuan itu, kakak Seung-Hun? Benarkah? Ya Tuhan, ia merasa sangat-sangat bodoh. Perempuan itu tersenyum ramah dan mengulurkan sebelah tangan. Rachel berusaha menarik sudut bibirnya dan menggerakkan sebelah tangannya yang kaku untuk menjabat tangan kakak Seung-Hun.
“Im Rachel, senang berkenalan dengan Anda,” katanya sambil sedikit membungkuk sebentar.
“Han Shin-Hye, senang berkenalan denganmu juga. Pacarnya Seung-Hun?” Shin-Hye memiringkan kepalanya ke satu sisi sambil menatap Rachel dengan tatapan penuh minat.
Alis Rachel terangkat bingung.
“Kakak!” kata Seung-Hun dengan nada merengek.
Oh, lucu sekali, pikir Rachel. Seung-Hun memang terdengar lucu, tetapi untuk saat ini ia sedang tidak bisa tertawa!
Shin-Hye tertawa dan berpaling memandang Seung-Hun penuh arti. “Aku kan hanya memastikan.”
Memastikan? Rachel baru ingat ia juga akan memastikan. Sekarang ia sadar Han Shin-Hye –yang tadinya ia kira adalah pacar Seung-Hun- sudah menyita seluruh perhatiannya sampai membuat Rachel melupakan rencananya sendiri.
“Oh ya,” suara Shin-Hye kembali terdengar. “Rachel, kau belum makan siang kan? karena adikku ini ingin mengajakmu makan siang bersama,” ia melirik Seung-Hun dengan sudut matanya sekilas dan melanjutkan dengan nada berbisik, “sampai aku dicampakkan.”
Rachel masih bisa mendengar kalimat Han Shin-Hye yang ia suarakan dengan berbisik, dan itu membuatnya tertegun. Seung-Hun tidak makan siang bersama kakanya dan justru akan makan siang dengannya? O-oh. Waktu itu juga. Rachel jadi merasa bersalah, pertama ia sudah berpikir yang tidak-tidak pada Shin-Hye. Kedua, dengan bodohnya ia membanding-bandingkan dirinya dengan Shin-Hye yang ternyata adalah kakak Seung-Hun. Sepenting apapun dirinya bagi Seung-Hun, seharusnya keluarga tetap menjadi prioritas. Tetapi Shin-Hye seolah menunjukkan jika Rachel lebih penting dari dirinya bagi Seung-Hun. Membingungkan...
Ia mendongak menatap Shin-Hye. Rachel harus melakukan sesuatu untuk menebus rasa bersalahnya.
“Kak Shin-Hye, mungkin kita bisa makan siang bersama?” kata Rachel setelah ia berpikir agak lama.
“Sungguh?” Shin-Hye menatapnya dengan pandangan bertanya.
Rachel mengangguk sambil tersenyum seramah mungkin. “Tentu saja.” Lagipula sejauh yang ia lihat Shin-Hye adalah orang yang baik.
Senyum Shin-Hye melebar. “Ooh... kau baik sekali. Baiklah, kalau begitu di mana kita akan makan?”
Kening Seung-Hun serasa berkedut. Kakaknya ini sama sekali tidak memandangnya. Sama sekali tidak meminta persetujuannya. Walalupun kesal di lain sisi Seung-Hun merasa senang jika kakaknya bisa akrab dengan Rachel.
Rachel mengetuk dagunya dengan satu jari sambil berpikir. “Um... mungkin di kafe dekat sini saja.”
“Oke, aku setuju saja adik ipar,” Shin-Hye tersenyum ramah dan menggandeng sebelah tangan Rachel sambil berjalan. Rachel balas tersenyum dan mulai melangkah menyeimbangi langkah Shin-Hye. Sikapnya hangat. Rachel menyukainya. Ia jadi sangat berharap bisa memiliki seorang kakak seperti Han Shin-Hye.
Seung-Hun menatap kedua perempuan yang berjalan di depannya dengan senyuman kecil. Dalam waktu singkat saja mereka sudah melupakan dirinya, mereka asyik mengobrol sepanjang jalan tanpa menghiraukannya di belakang. “Menyebalkan,” desisnya sambil tersenyum lebar.
“Apa kau suka steik? Di sekitar sini ada kafe yang menyediakan steik salmon kesukaanku,” kata Shin-Hye ceria.
Rachel mengangguk-angguk penuh minat. “Aku suka steik,” sahutnya tak kalah ceria.
“Tapi sayangnya Seung-Hun tidak suka steik salmon, ia lebih suka steik daging biasa,” Shin-Hye mendekatkan wajahnya pada Rachel dan berbisik, “untungnya dia sudah terlahir pintar, jadi tidak membutuhkan asupan untuk meningkatkan kepintarannya.” Lalu ia dan Rachel tertawa.
“Seung-Hun memang pintar, dia juga sering membantuku mengerjakan tugas,” kata Rachel setengah berbisik.
Alis Shin-Hye terangkat samar. “Wah, romantis sekali.”
Sebenarnya Rachel ingin mengelak, tetapi sebelum sempat ia membuka mulut Shin-Hye sudah berseru sambil menunjuk sebuah gedung kafe. Rachel memandang ke arah yang Shin-Hye tunjuk dan mengikuti langkah Shin-Hye memasuki kafe yang akhirnya membawa mereka ke sebuah meja di tengah ruangan.
“Kau juga akan pesan steik salmon kan, adik ipar?” tanya Shin-Hye ketika ia meletakkan tas tangannya di kursi.
Rachel tidak langsung menjawab. Sebenarnya panggilan “adik ipar” itu agak mengganggunya, tetapi sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengelak. Lagipula Shin-Hye hanya bercanda, kan?
“Ya, aku akan pesan itu,” sahut Rachel akhirnya. Ia melepas ransel dan menaruhnya di kursi sebelah yang kosong.
Kening Seung-Hun berkerut melihat ransel Rachel yang ia letakkan di kursi sebelah tempatnya duduk, padahal tadinya ia ingin duduk di sana. Tak apa, ia bisa duduk di kursi sebelah kakaknya.
Pelayan datang dan Shin-Hye memesankan Rachel dan Seung-Hun sekalian. Setelahnya ia kembali asyik mengobrol dengan Rachel tanpa menghiraukan Seung-Hun lagi. Bahkan sampai seorang pelayan lain datang mengantarkan pesanan mereka Seung-Hun masih tidak dianggap. Seung-Hun jadi bertanya-tanya apa yang membuat mereka sangat asyik mengobrol sampai tidak menghiraukan dirinya?
Tiba-tiba terdengar dering ponsel, Rachel dan Shin-Hye pun berhenti mengobrol. Lalu dengan tidak sabar Shin-Hye mengacak isi tas tangannya.
“Halo?” katanya begitu sudah menempelkan ponsel di telinga. “Sekarang?” tanyanya dengan kening berkerut kesal. “Hah... dia itu memang merepotkan... baiklah-baiklah, aku ke sana sekarang,” Shin-Hye memutus hubungan dan memandang Rachel dengan tatapan menyesal.
Rachel mengerjap, ia bisa menebak apa yang akan Shin-Hye katakan.
“Aku harus pergi sekarang.”
Rachel mengerjap sekali lagi, dugaannya benar. Dan itu membuatnya agak kecewa.
Shin-Hye mendesah lalu melanjutkan. “Temanku itu memang merepotkan. Aku harus mengurusnya sekarang,” ia menjejalkan ponsel ke dalam tas tangannya dan kembali menatap Rachel. “Mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama lagi. Sampai jumpa, adik ipar,” sebelum Rachel bereaksi ia sudah lebih dulu berlalu pergi.
Adik ipar? Tanya Rachel dalam hati. Sudah berapa kali ia memanggil Rachel dengan itu? Kepalanya berputar dan memandang Seung-Hun dengan pandangan bertanya.
Menyadari Rachel sedang menatapnya, Seung-Hun mengangkat wajah dan balik memandang Rachel lurus-lurus. “Nama teman kakak adalah Il Woo-Sung. Mereka teman dekat, tapi anehnya mereka juga sering bertengkar.”
Bukan! Bukan itu yang Rachel tanyakan! Apa Seung-Hun tidak menyadari kakaknya sudah memanggil Rachel dengan adik ipar? Oh, yang benar saja.
Seung-Hun tidak menyadari perubahan raut wajah Rachel dan ia tetap melanjutkan. “Biasanya kakak juga berkumpul dengan dua temannya yang lain.”
Rachel meneguk ludah dengan susah payah, “oh...” sahutnya terpaksa, tetapi sudut bibirnya tetap melengkung menunjukkan senyum. Mendadak seluruh rencana dan keberaniannya menguap entah ke mana.