Chapter 20

1035 Kata
Shin-Hye memakan kentang gorengnya dengan kening berkerut-kerut kesal. Selalu saja begini. Setiap kali teman-temannya mengajak berkumpul pasti mereka selalu datang terlambat. Tidak peduli siapa yang mengajak berkumpul, Shin-Hye pasti yang datang pertama, bukannya ia sangat rajin. Teman-temannya saja yang keterlaluan, selalu membuatnya menunggu. Membosankan. “Hah...” Shin-Hye mendesah berlebihan dan mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Bahkan Mayama yang sudah meneleponnya masih belum juga terlihat. Yamaken Hamada memandang berkeliling mencari Han Shin-Hye. Biasanya gadis itu selalu datang paling awal. Ah, itu dia, sedang memakan kentang goreng dengan wajah kesal. Pemandangan yang sangat biasa bagi Yamaken. Ia tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya menuju Shin-Hye. Langkahnya terhenti di samping meja bundar itu dan memandang kentang goreng yang tersaji di meja sambil tersenyum lebar. Shin-Hye cepat-cepat menempis tangan Yamaken dan berseru lantang, “jangan sentuh kentang gorengku!” Yamaken tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Lalu ia menarik sandaran kursi dan duduk. “Huh, menyebalkan. Si Woo-Sung itu teringat lagi dengan mantan pacarnya?” Shin-Hye memasukkan sepotong kentang goreng lagi ke dalam mulutnya. Yamaken mengangkat bahu, “kurasa begitu.” Shin-Hye mendesah muram lalu melipat tangan di atas meja. Ia menatap Yamaken lurus-lurus. Teman-temannya ini, kecuali Mayama, memiliki kisah cinta yang menyedihkan. “Lalu bagaimana denganmu? Kudengar dari Mayama kau menghubungi gadis itu lagi?” Yamaken tertegun, seketika sorot matanya berubah redup. Ia sedih, tentu saja. Meski begitu ia berusaha agar tetap terlihat biasa. Alis Shin-Hye terangkat prihatin. Padahal ia sudah mengusahakan suarnya agar terdengar sebiasa mungkin, tetapi laki-laki bermata lebar di hadapannya tetap menunjukkan reaksi yang sama seperti terakhir kali Shin-Hye menanyakannya. Selalu saja begitu. “Satu tahun itu bukan waktu yang singkat untuk menunggu. Aku sangat merindukannya.” Shin-Hye dapat dengan mudah memahami arti tersembunyi dari balik sorot mata Yamaken. Ia masih mencintainya, seorang gadis di masa lalunya. Tidak peduli sudah berapa kali Yamaken menceritakan kesalah pahamannya dengan gadis itu, ia tetap akan menceritakannya lagi. Tentang bagaimana menyesalnya Yamaken, rasanya sudah ratusan kali Shin-Hye mendengarnya. “Seandainya dulu aku tidak langsung pergi, tidak menuruti perkataannya, mungkin sekarang tidak akan seperti ini,” kata Yamaken dengan tatapan menerawang. Mengatakan menyesali masa lalu adalah hal yang sia-sia itu percuma. Shin-Hye sudah terlalu sering mengatakannya. Dan reaksi Yamaken? Ia sama sekali tidak berubah, tetap seperti ini. “Lalu? Kau sungguh-sungguh menghubunginya? Mayama tidak berbohong? Apa reaksinya?” Yamaken tidak langsung menjawab. Ia mendongak dan memaksakan seulas senyum. “Ya, aku meneleponnya. Tapi tentu saja dia tidak mengenaliku.” Sebelah alis Shin-Hye terangkat heran. “Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja,” kata Yamaken seolah tahu apa yang akan Shin-Hye tanyakan. Shin-Hye mengangguk kecil lalu bertanya dengan ragu, “apa dia menjawabmu?” Yamaken mengangguk, menarik napas dan menyiapkan diri untuk bercerita. “Hari itu aku pergi ke Namsan bersama sepupuku. Saat itulah, untuk pertama kalinya aku melihat dia lagi. Dan saat itu juga aku sadar. Perasaanku masih sama,” jeda sejenak, Yamaken menghirup napas panjang lalu melanjutkan, “aku putuskan untuk mengikutinya hari itu.” Shin-Hye bertopang dagu dengan kedua tangan, ia mulai terlarut dengan cerita Yamaken. Wajah Yamaken terlihat datar tapi suaranya terdengar penuh perasaaan, ia tahu temannya ini tidak berbohong. Yamaken Hamada masih mencintai gadis di masa lalunya. Entah apa yang membuat temannya ini begitu mencintai gadis itu. “Tapi...” Yamaken tersenyum muram. “Dia bersama laki-laki.” Mata Shin-Hye melebar, dan ketika itu –tanpa sadar- ia juga menahan napas. “Oh ya, dia juga bersama gadis lain.” Shin-Hye mulai kembali bernapas, ia merasa sedikit lega. Setidaknya Yamaken tidak akan terlihat murung sepanjang hari karena mengira gadis itu sedang berkencan bersama seseorang. “Tadinya kupikir mereka sedang berkencan, tapi sepertinya memang begitu. Entahlah,” Yamaken mengangkat bahu. Oh, ternyata cerita Yamaken belum selesai, dan sepertinya dugaan Shin-Hye salah. Jika gadis itu terbukti berkencan dengan orang lain tentu hal yang sangat mungkin jika Yamaken Hamada akan terlihat murung sepanjang hari. Ah, tidak. Bahkan lebih dari itu. Ia akan terlihat seperti boneka hidup sepanjang minggu atau mungkin sampai berbulan-bulan. Yamaken mati-matian memaksakan seulas senyum untuk menyampaikan hal terpenting. “Laki-laki yang aku curigai sebagai pacarnya adalah... Adikmu.” Tepat ketika itu Mayama datang memanggil mereka. Disusul dengan Woo-Sung tak jauh di belakangnya. Shin-Hye tidak mendengar kata terakhir Yamaken, ia berpaling memandang Woo-Sung dan Mayama dengan mata disipitkan lalu mulai mengomel. “Aku minta maaf,” kata Woo-Sung setelah mendapatkan kesempatan untuk bicara dan setelah ia duduk di kursinya. Bukan hal yang aneh jika Shin-Hye akan mengomel panjang lebar, dan biasanya ia tidak akan memberinya sedikitpun kesempatan untuk bicara. Tetapi kali ini mungkin Shin-Hye sedang berbaik hati sehingga Woo-Sung memiliki kesempatan untuk meminta maaf dan duduk. Rasanya pegal juga mendengar omelan Shin-Hye sambil terus berdiri. “Adikku pergi membawa mobil. Jadi aku harus menunggu taksi dulu,” Woo-Sung melanjutkan. “Aku juga, aku sedang banyak urusan,” kata Mayama dengan wajah menyesal yang dibuat-buat. “Sudahlah kalian ini banyak alasan, selalu saja membuatku menunggu. Menyebalkan,” desisnya. Shin-Hye bersandar dan memakan kentang gorengnya lagi. ”Jadi apa masalahmu?” tanyanya enggan. Woo-Sung tahu pertanyaan itu ditujukan untuknya meski Shin-Hye tidak menatapnya. “Tidak, aku hanya sedang ingin keluar. Sesekali menghirup udara segar tidak masalah, bukan?” “Tidak masalah bagaimana?!” mata Shin-Hye melebar menatapnya kesal. “Tadi aku sedang makan siang bersama adikku dan pacarnya!” Yamaken tertegun. Tubuhnya membeku di tempat. Hanya bola matanya yang mampu bergerak menatap Shin-Hye, temannya itu terlihat kesal lalu mendengus. Yamaken cepat-cepat mengalihkan pandangan. “Oh ya,” suara Shin-Hye kembali terdengar. “Mayama, lain kali jangan meneleponku jika kau sendiri belum sampai.” Mayama menunjukkan senyum lebarnya sehingga mata sipitnya terlihat terpejam. Biasanya Yamaken yang memiliki mata lebar, akan menggodanya. Yamaken mengatakan ia akan sembunyi jika Mayama tersenyum sambil menutup mata begitu. Ia tidak berpikir jika dua temannya yang lain, yaitu Shin-Hye sendiri dan Woo-Sung, juga bermata sipit. Tetapi, sejka tadi suara Yamaken tidak terdengar. Oh, Shin-Hye baru ingat. Sebelum Mayama dan Woo-Sung datang Yamaken akan mengatakan sesuatu. Kalau tidak salah adalah seseorang yang ia curigai sebagi pacar baru gadis masa lalunya. Shin-Hye mengalihkan pandangan pada Yamaken. Laki-laki itu mematung dengan wajah tertekan. Apa yang terjadi padanya? Tiba-tiba pelayan datang menanyakan pesanan. Shin-Hye tidak tahu siapa yang memanggil si pelayan, seluruh perhatiannya terpusat pada perubahan Yamaken.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN