Ji-Yeon megacak-ngacak saku jaketnya mencari kunci, ia sangat yakin benda itu ada di sana, tetapi kenapa di saat seperti ini benda itu sangat sulit diraih? Pikirannya sangat kacau! Sebelumnya ia sudah mengetuk pintu apartemen Rachel berulang kali tapi tidak ada jawaban. Dan saat ini hanya kunci itu satu-satunya harapan Ji-Yeon. Astaga! Di mana benda itu?
Ji-Yeon beralih pada saku jaketnya yang lain. Akhirnya ia bisa bernapas sedikit –sangat sedikit- lega ketika jemarinya meraih benda kecil berwarna silver itu dan memindahnya ke dalam lubang kunci. Ji-Yeon merasa jantungnya berdegup cepat sekali. Ia membuka pintu dengan sekali sentakan dan melangkahkan kakinya masuk.
“Hime,” ia menyadari suarnya terdengar serak. Ia melongok ke dapur, tidak ada Rachel di sana. Di kamar dan di ruang kerjanya juga tidak ada. Astaga... di mana Hime? Ji-Yeon merasa hampir limbung, kakinya terasa semakin tidak mampu menopang berat tubuhnya sendiri.
Seseorang itu akan meninggalkanmu.
Ucapan kakaknya terus berputar di kepalanya. Meninggalkan? Meninggalkan seperti apa maksudnya? Tapi kenapa? Rachel tidak mungkin meninggalkannya tanpa alasan, tanpa sebab, tidak mungkin.
Jadi apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa semua ini ada hubungannya dengan seseorang di masa lalu Rachel itu? Tidak, itu tidak mungkin bukan?
Ji-Yeon merasa bahunya merosot dan seluruh tenaganya menghilang. Di saat seperti ini, siapa seseorang yang bisa ia mintai bantuan? Apakah... Seung-Hun? Mungkin ia sedang bersama Rachel atau setidaknya tahu di mana Rachel sekarang. ia harus meneloponnya. Ji-Yeon cepat-cepat merogoh saku jaket mencari ponsel, setelah itu tanpa berpikir panjang lagi ia langsung menghubungi nomor Seung-Hun. Harus ia akui, Seung-Hun adalah salah satu orang yang tahu banyak tentang Rachel selain dirinya. Tentu saja itu karena Seung-Hun berteman baik dengan Rachel, sejauh yang ia tahu mereka hanya berteman baik. Sama seperti dirinya untuk saat ini. Dan ia berharap, setidaknya, jika ia tidak bisa memiliki Rachel, mereka masih akan tetap seperti ini.
Ji-Yeon tersadar dari lamunan ketika mendengar suara operator. Kenapa tidak dijawab? Keningnya berkerut menatap layar ponsel. Tidak biasanya Seung-Hun tidak menjawab telepon. Di mana temannya itu? Ayolah Seung-Hun jawab teleponnya. Ji-Yeon mencoba menelepon Seung-Hun sekali lagi.
“Astaga! Di saat seperti ini!” Ji-Yeon memekik sambil memasukkan ponsel ke dalam saku. Bagaimana sekarang?
Seseorang itu akan meninggalkanmu.
Kalimat itu kembali muncul dalam otaknya. Ji-Yeon merasa ingin berteriak meluapkan segala kegundahannya. Tapi tidak, ia tidak boleh melakukannya di sini. Ini pasti hanya salah paham, mungkin ponsel Rachel mati. Ya mungkin saja begitu. Tetapi kenapa? Kenapa otaknya tidak mau menerima alasan itu?!
Ji-Yeon menegakkan punggung dan mengeratkan genggamannya pada kunci. Ia akan mencari Rachel, tidak peduli apa yang nantinya akan terjadi, yang terpenting ia harus bertemu dengan Rachel.
* * *
Setelah agak lama diam Rachel mendongak dan memandang Seung-Hun di hadapannya. “Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”
Seung-Hun berhenti makan dan menatapnya. “Menelepon?” Sebelah alisnya terangkat heran.
“Iya, aku meneleponmu sebelum kita bertemu.”
Seung-Hun berusaha mengingat-ingat. Seharian ini ia memang tidak melihat benda itu. “Oh,” gumamnya. “Ponselku tertinggal di rumah.”
“Kau ini ceroboh sekali,” gerutu Rachel sedikit kesal.
“Kenapa kau meneleponku?”
Rachel berhenti menusuk-nusuk daging steiknya dan menyeret perhatiannya kembali pada Seung-Hun. Seketika jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Apa maksudnya itu? Kenapa Seung-Hun menatapnya seperti itu?
“Kenapa kau meneleponku?” Seung-Hun mengulangi pertanyaannya.
Rachel tidak langsung menjawab. Ia berdeham pelan lalu mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan kegugupannya. “Sudahlah, tidak penting.”
“Sungguh?” Seung-Hun mengangkat sebelah alisnya lagi sambil tersenyum.
Rachel mendesis dan menggerutu tidak jelas. Ia kesal saja Seung-Hun mentapnya begitu dan membuatnya merasa gugup. Tiba-tiba Rachel menjentikkan jarinya dan memandang Seung-Hun dengan serius. “Aku akan mentraktirmu sekarang.”
Alis Seung-Hun terangkat heran. “Kenapa begitu?” Ia cenderung merasa tidak suka mendengar perkataan Rachel.
“Tidak apa-apa. Aku akan mentraktirmu kali ini,” sahut Rachel bersemangat. Sebelum Seung-Hun sempat bereaksi lagi Rachel cepat-cepat menyela. “Ngomong-ngomong kakakmu itu baik ya?” katanya cepat.
Seung-Hun terdiam lalu bersandar. “Ya, begitulah kau menyukainya?”
* * *
Ji-Yeon menjatuhkan keningnya pada roda setir. Ia sudah mencari Rachel di mana-mana tapi tidak menemukannya. Di ujung barat sana matahari sudah hampir tenggelam. Kenyataan itu membuat Ji-Yeon merasa semakin cemas dan takut. Apa salahnya? Apa yang sudah ia lakukan sampai Rachel ingin meninggalkannya? Bukankah semua baik-baik saja?
Tiba-tiba ia teringat pada Seung-Hun. Mungkin ia sudah bisa dihubungi. Ia meraih ponselnya di dasbor dan segera menelepon Seung-Hun. Tadinya ia akan memutus hubungan ketika mendadak terdengar suara seseorang dari seberang. “Halo?” kata Ji-Yeon memastikan. Ini bukan suara Seung-Hun, pikirnya.
“Apa Seung-Hun ada?” Ji-Yeon mendapati suaranya terdengar terlalu memaksa.
“Onii-chan? Dia belum pulang.”
Ternyata adik Seung-Hun yang menjawab. Itu berarti Seung-Hun tidak membawa ponselnya seharian ini. Ji-Yeon menurunkan sebelah tangannya, membiarkan ponselnya jatuh dan kembali menopangkan keningnya pada setir.
Ia sangat lelah, pikirannya kacau, bahkan ia belum makan apa pun sejak siang tadi. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Perlahan Ji-Yeon mengangkat wajah dan mulai menyalakan mesin. Ia akan pulang. Hidupnya serasa sudah berakhir...
Sepanjang jalan hanya satu yang Ji-Yeon pikirkan, yaitu Rachel. Juga segala kemungkinan yang akan terjadi ketika ia bertemu dengannya. Jika tiba-tiba Rachel ingin meninggalkannya tanpa alasan, ia tidak apa-apa. Ji-Yeon meyakinkan dirinya ia akan tetap baik-baik saja, selama Rachel bahagia ia akan tetap hidup. Karena senyuman dan kebahagiaan Im Rachel yang ia lihat adalah salah satu hal yang membuatnya merasa lebih hidup.
Tetapi, jika Rachel benar-benar meninggalkannya, apakah ia juga melakukan hal yang sama pada Seung-Hun? Ji-Yeon tidak tahu, ia tidak dapat menemukan jawaban dalam otaknya. Gedung apartemennya sudah terlihat. Sekarang ia menuju basemant dan memaksakan diri untuk sampai secepat mungkin. Untuk saat ini ia hanya ingin sendiri, ia butuh waktu untuk berpikir dengan segala kemungkinan yang ada.
Ji-Yeon mematikan mesin mobil dan merenung sesaat. Satu-satunya hal yang ia harapkan di atas segalanya adalah, Kakaknya salah dan Rachel akan kembali padanya seperti biasa. Ji-Yeon membuka pintu dengan sebelah tangannya, tepat ketika ia keluar dan kembali menutup pintu layar ponselnya menyala dan berdering nyaring. Sayang, itu hanya sang kakak.