Rachel berhenti mengunyah donat dan kembali menatap layar ponsel. Sejak semalam ia sudah berkaki-kali menelepon Ji-Yeon, tapi nomor ponselnya masih saja tidak aktif. Tumben sekali Ji-Yeon menghilang tanpa kabar begini. Rachel jadi merasa cemas padanya. Lalu ia pun memutuskan untuk menelepon Seung-Hun dan menanyakan Ji-Yeon padanya. Tetapi Seung-Hun juga tidak tahu. Rachel jadi makin cemas. Lantas ia memutuskan untuk menemui Ji-Yeon di apartemennya. Mungkin saja dia sakit dan lupa mengaktifkan ponsel.
Dan di sinilah Rachel sekarang. Berdiri sendirian di depan gedung apartemen mewah yang sudah beberapa kali ia kunjungi sebelumnya. Jika saja Ji-Yeon menemaninya sekarang mungkin ia tidak akan merasa segugup ini.
Rachel mulai melangkahkan kakinya. Menaiki lift menuju lantai enam belas dan berjalan cepat. 1507, 1507, Rachel terus memikirkan angka-angka itu. Jangan sampai ia melupakan atau melewatkan apartemen Ji-Yeon.
Rachel berhenti di depan sebuah pintu berwarna coklat. Melirik ke arah deretan angka di atas pintu sekali lagi untuk memastikan. Kemudian mengangkat sebelah tangan dan menekan bel beberapa kali.
Setelah menunggu agak lama pintu mengayun terbuka. Alis Rachel saling bertaut begitu melihat Ji-Yeon. Laki-laki jangkung yang biasanya terlihat rapi dan tampan itu terlihat sangat berantakan sekarang. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat, bahkan kaos pendek dan celana yang ia gunakan terlihat sangat lusuh.
Ji-Yeon menatap seseorang di hadapannya dengan wajah datar. Lalu ia mengerjap dan matanya melebar ketika menyadari siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Hime?!" Serunya hampir berteriak.
Rachel terkejut dan spontan mengerjap cepat. Alisnya sudah tidak lagi bertaut tetapi matanya melebar saat tiba-tiba Ji-Yeon memeluknya.
Ji-Yeon... Memeluknya? Rachel merasa otaknya mendadak kosong. Namun satu hal yang menyentakkan kesadarannya kembali. Tubuh Ji-Yeon terasa panas. Apa dia demam? Mungkin karena itu pikirannya menjadi kacau dan tidak bisa bertindak dengan sadar.
"Ouji, apa kau demam?" Rachel mendapati suaranya terdengar di tengah kegugupan yang ia rasakan.
Ia mendorong tubuh Ji-Yeon perlahan seakan-akan tubuh jangkung itu bisa roboh kapan saja.
Ji-Yeon menatap Rachel lurus-lurus. "Hima apa maksud perkataanmu kemarin?"
"Eh?" Rachel mengernyit bingung. Memangnya apa yang sudah ia katakan kemarin?
"Hime?" Ji-Yeon meletakkan sebelah tangannya di atas kepala Rachel.
Rachel berusaha mengingat. Oh! Yang kemarin... Astaga... Rachel mendongak menatap sepasang mata yang menunggunya. "Aku hanya ingin berterima kasih," ia memaksakan seulas senyum. "Karena kau adalag teman yang sangat baik. Aku berharap bisa terus berteman denganmu. Oh ya," Rachel cepat-cepat menambahkan sebelum Ji-Yeon sempat bereaksi. "Kemarin ponselu low-batt, apa setelah itu kau meneleponku?"
Ji-Yeon tersenyum dan mengangguk kecul. Ia merasa sedikit lega karena ini berarti Rachel tidak meninggalkannya. Walau pun di sisi lain, ia merasa kecewa karena kenyataannya Rachel belum melihatnya.
Tadinya Rachel ingin menanyakan kenapa sejak semalam ponsel Ji-Yeon tidak bisa dihubungi. Tetapi melihat keadaan Ji-Yeon sekarang membuatnya tidak tega. Lebih baik ia pulang dan membiarkan Ji-Yeon beristirahat.
"Ouji, sebaiknya kau beristirahat sekarang. Kau sedang demam, kan?" Rachel menurunkan sebelah tangan Ji-Yeon di atas kepalanya.
"Hm."
Rachel menatap Ji-Yeon lekat dan tersenyum cerah. "Jangan lupa makan tepat waktu dan minum obat. Aku akan pulang sekarang."
"Kenapa buru-buru? Kau kan baru datang."
Alis Rachel terangkat melihat perubahan sikap Ji-Yeon. "Jangan merengek begitu, beristirahatlah," ia mendorong tubuh Ji-Yeon agar kembali masuk.
Ji-Yeon mencengkeram dua tangan Rachel sehingga gerakannya terhenti. "Kau akan menemaniku di sini?"
"Um..." Rachel berpikir sejenak. "Apa kau sudah makan?"
Ji-Yeon menggeleng.
Mata Rachel menyipit menatapnya. "Sudah minum obat?"
Ji-Yeon menggeleng lagi.
Mata Rachel semakin menyipit menatapnya. "Kenapa belum?"
"Karena kau baru mengingatkannya barusan."
Rachel memutar bola matanya kesal. "Kenapa?"
"Karena aku membutuhkanmu, Hime."
Sesaat Rachel terdiam tanpa kata. Lalu ia membuka mulut dan berkata. "Baiklah, aku tidak akan pulang sebelum kau makan, minum obat dan beristirahat. Oh ya, ngomong-ngomong apa kakakmu di rumah?"
"Tidak. Dia sedang bekerja."
"Oh," Rachel mendesah lega. Tidak ada kakak Ji-Yeon ia tidak akan merasa canggung.
Ji-Yeon melepaskan cengkeramannya dan mempersilakan Rachel untuk masuk mendahului dirinya.
Rasanya memang agak aneh jika tidak ada Seung-Hun di tempat sepi begini. Tapi harus Rachel akui Seung-Hun selalu membuatnya merasa nyaman. Seperti ketika Ji-Yeon menggandeng tangannya atau ketika ia memeluknya tadi. Karena satu hal yang pasti. Ia merasa nyaman. Dan hal itu membuat Rachel merasa agak aneh.
"Aku sudah merasa baikan."
Perkataan Ji-Yeon membuat Rachel tersadar dari lamunan.
"Terima kasih Hime sudah datang ke sini dan membuatku merasa lebih baik."
Rachel terdiam sesaat, lalu tersenyum dan berkata. "Sama-sama, Ouji," setelahnya ia berpaling menyembunyikan raut wajahnya yang penuh tanya. Oh, ayolah berpikir positif! Ji-Yeon adalah teman. Seung-Hun juga. Tidak ada yang aneh pada mereka. Mikasa menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Tiba-tiba ia merasa takut sekali. Ia takut akan kehilangan salah satu di antara mereka. Padahal Rachel sangat bahagia bersama Ji-Yeon dan Seung-Hun.
"Hime, apa kau sudah makan?"
Lagi-lagi perkataan Ji-Yeon menyadarkan Rachel kembali. "Sewaktu akan ke sini aku sudah makan donat."
"Aku anggap itu belum, jadi aku akan memasak sesuatu untukmu."
"Hei, kenapa malah kau yang memasak. Kau kan sedang demam."
"Sudah kubikang aku merasa jauh lebih baik sekarang."
"Dasar kau ini," gerutu Rachel kesal yang tidak serius.
"Terserah, kau sudah berjanji tidak akan pulang dan beristirahat."
"Baiklah," Rachel mengalah dan duduk di kursi makan. "Oh ya, Ouji. Lain kali jika kau sakit beritahu aku."
Ji-Yeon memutar tubuh memandang Rachel. "Apa kau cemas?"
Rachel mengangguk-anggukan kepala tanpa memandang Ji-Yeon. Ia sibuk terpesona pada pemandanga di luar jendela.
Untuk sesaat Ji-Yeon hanya diam memandangnya. Ia merasa senang sekali.
"Ngomong-ngomong kau akan memasak apa?"
Ji-Yeon cepat-cepat berbalik saat Rachel mengangkat wajah menatapnya.
"Sesuatu yang enak," sahutnya dengan senyum tertahan.
"Oh..."
"Hm."
Rachel melepas ransel dan meletakkanya di meja. "Di mana kau meletakkan kotak obat?"
"Memangnya kau ingin cepat-cepat pulang, ya?"
"Aku hanya ingin memastikan kau tidak akan lupa minum obat."
"Mmm... Kotak obat ada di lemari ruang tengah. Ambil saja.". "Baiklah," Rachel bangun dan berjalan keluar.
Tetapi langkahnya terhenti dan ia berbalik. "Apa kau sungguh-sungguh masih membutuhkan obat?"
"Entahlah."
"Um... Untuk jaga-jaga saja, aku akan tetap menyuruhmu minum obat. Agar demammu turun juga."
* * *
Woo-Sung melangkahkan kakinya masuk dan berhenti ketika mendengar suara adiknya sedang mengobrol dengan seseorang. Di sela-sela obrolan terdengar gelak tawa menyenangkan. Ji-Yeon yang dilihatnya terakhir kali terlihat begitu berantakan, justru terdengar bahagia sekarang. Tanpa sadar Woo-Sung ikut tersenyum. Bertanya-tanya dalam hati siapa seseorang yang sedang bersamanya di dalam.
Begitu Woo-Sung akan melanjutkan ke ruang tengah. Ji-Yeon muncul bersama gadis yang sudah diketahuinya. Dia lah Hime, pacar sang adik. Begitulah sejauh yang ia tahu. Jadi mereka sudah baikan? Hal buruk yang menimpa dirinya tidak akan terjadi pada sang adik juga kan?
Keduanya seketika terdiam begitu menyadari kehadiran Woo-Sung. Woo-Sung langsung menunjukkan senyum lebarnya yang ramah.
Ji-Yeon nampak terkejut sekaligus tersipu. Jarang sekali Woo-Sung melihat ekspresi macam itu di wajah sang adik.
"Oh, kakak. Kenapa kau pulang?"
"Hah? Kenapa bertanya begitu, apa aku tidak diperbolehkan pulang sekarang?" Tanyanya berlagak terluka.
Hime, gadis itu, terlihat salah tingkah dengan reaksi mereka.
"Ngomong-ngomong kau tidak mau mengenalkan pacarmu padaku?"
"Eh?" Rachel terkejut.
Wajah Ji-Yeon memerah. "Kakak!"
Woo-Sung terkekeh. "Aku sudah pernah bertemu dengan Hime sekali, benarkan Hime?"
"Ah, itu... Sebenarnya aku, Mmm," Rachel bergerak-gerak gugup.
"Hime itu panggilan khusus milikku, kakak jangan ikut memanggilnya begitu juga."
"Oh? Benarkah?" Ia mengalihkan pandangan pada Hime untuk mencari pembenaran.
Gadis yang dikiranya bernama Hime itu tersenyum gugup.
"Oh.. Maafkan aku, habisnya Ji-Yeon tidak mau memperkenalkan kita, aku jadi tidak tahu siapa namamu yang sebenarnya," ia melirik Ji-Yeon dengan tatapan penuh arti.
Ji-Yeon menghela napas seolah kalah. "Baiklah Hime ini kakakku. Kakak ini Hime- kau bisa memanggilnya Rachel saja."
Woo-Sung tersenyum senang ketika pada akhirnya mereka berjabat tangan.